Night - Elie Wiesel
Kesaksian tentang holocaust. Penerbit esensi (erlangga group).
Sinopsis buku ini mengingatkan ku akan buku harian-nya Anne Frank. Tempat dan waktu kejadian yang sama. Anne Frank melukiskan hari-hari nya di tempat persembunyian di masa pendudukan nazi. Dan Elie, menceritakan hari-hari yang harus dilaluinya di kamp konsentrasi.
Buku ini mengisahkan catatan tragis kejahatan manusia yang dilakukan oleh suatu bangsa terhadap ras yahudi.
Membaca buku ini menimbulkan kepedihan dan kengerian yang luar biasa. Bagaimana bisa manusia melakukan kejahatan yang sangat tidak masuk akal terhadap sesamanya?
June 29th, 2007 at 3:24 pm
Bu Enggar sudah pernah baca “A Child Called It”?
Pertanyaannya jadi: “Bagaimana bisa seorang ibu melakukan kejahatan yang sangat tidak masuk akal terhadap anak kandungnya sendiri?”.
Jika ada seorang ibu yang bisa melakukan kezholiman pada anaknya, apatah “orang lain”. *tapi, tentu saja aku tak mendukung apa yang mereka lakukan*
June 29th, 2007 at 8:52 pm
sudah iffah. Pernah baca ‘Sybil’? David or Dave ya? (aku lupa nama anak ini) dan Sybil adalah anak-anak korban kekerasan orang tua. Untuk Sybil tekanan itu membuat ia menghadirkan banyak sosok dalam kepribadiannya. Yang terlintas dalam pikiranku ketika membaca night, sungguhkah manusia yang tega membakar hidup-hidup bayi dan anak2 yang tak berdosa? wajah-wajah mungil yang polos? duh, aku merinding membayangkannya.
July 2nd, 2007 at 11:22 am
Whuaa… jangan dibayangin kalau begitu. Aku sudah baca A Child Called It juga kok. Ya, reality bites! Kalau begitu lebih baik baca Lyra beserta beruang putih-nya
July 2nd, 2007 at 3:16 pm
Dulu pernah ada perawat yg dengan kalemnya menyiksa ibuku. Sambil senyum bijak dia bilang padaku: “biar ibu ifah bisa mikir bener lagi”. Lack of empathy? Heh heh .. I really pity them.
Iya, Bu Enggar, aku juga punya loh “Sybil”.
Si Dave memilih merubah kelam masa lalunya jadi modal kekuatan mental untuk maju dan gemilang. Salut.