Isra Mi’raj

Hari ini sekolah tidak ada KBM karena ada perayaan isra mi’raj. Panggung di luar dan beberapa acara dari murid dipentaskan. Seusai acara aku sempatkan ke lab multimedia, ngecek email dan nulis blog :). Baca tulisan Dian tentang sekolah terbuka tiba-tiba aku tersadarkan bahwa sekolah tempat aku mengajar sekarang sangat jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi. Aku jadi kangenn bandung. Aku merasa bersalah karena minggu kemarin aku absen mengajar, tapi itu dikarenakan panggilan tugas yang mendadak dari penerbit. Mudah-mudahan sabtu ini aku bisa membantu pak Eddy untuk mengajar. Sekolah ku ini murid-muridnya berasal dari golongan ‘the haves’. Sulit-sulit gampang mendekati mereka. Mereka tidak pernah merasakan naik angkot, atau jalan kaki. Secara materi terpenuhi dan terlayani. Tapi jangan bayangkan hidup mereka baik-baik saja. Ada beberapa yang bermasalah, mungkin klise, tapi perhatian dan kasih sayang, mungkin cukup dominan. Dan itu berpengaruh pada karakter dan watak mereka sebagai pribadi. Saat ini aku belum terlalu mengenal mereka dari dekat, baru mencoba menyapa, bercanda, dan membuka diri terhadap anak didikku. Perlu waktu itu pasti. Dan di sini aku jadi bertanya-tanya bagaimana murid-murid di SMP Terbuka di Bandung? Aku baru satu kali bertemu mereka, dan ada rasa sayang bercampur sedih yang mucul. Apakah karena mereka begitu berbeda? Kontras.

4 Responses to “Isra Mi’raj”

  1. dian Says:

    that’s life, ya, mbak. kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semuanya :)

  2. Anis Says:

    Bener, Mbak. Apa pun yang kita pilih, pasti ada konsekuensi yang mengikuti. Yang penting kita berusaha melakukan yang terbaik. Tetap semangat ya. :-)

  3. rara Says:

    Kehidupan di dunia memang penuh paradoks. Untuk menguji, siapa yang mampu mengambil pelajaran&hikmah.

  4. Enggar Says:

    Terima kasih semuanya.

Leave a Reply