Tanpa Kata

“Kamu terlalu sombong, terlalu angkuh.. ”

 ”Ya, ya, kenapa sih aku harus setiap saat mendengar kalimat itu?  Sekian waktu dan perjalanan hidup yang kita lalui bersama, sekian tawa dan tangis yang ada, tak cukupkah bagimu untuk mengenalku?”

“Bagaimana aku bisa mengenalmu jika kau tak membiarkanku masuk”.

“Aku sedang tak ingin berkata-kata, bolehkah?”  Kata-kata membuatku penat. Aku lelah. Kalian bicaralah, aku akan mendengarkan”.

Tapi,  kali ini aku hanya ingin menangis, kali ini saja”.

(intermezo, coretan iseng aja )

9 Responses to “Tanpa Kata”

  1. KIP! Says:

    menangislah,,
    bila harus menangis…
    karena kita semua,,
    manusia…

    huehe,, komennya nggak penting yak..? maafkan…

  2. za Says:

    Ya Mbak Eng, nangis aja, dikeluarin. Kan kita masih manusia …. Semoga baik-baik selalu.

  3. roisz Says:

    Bu Enggar Juga Manusia
    punya rasa punya hati :D

  4. Enggar Says:

    all:
    Makasih comment-nya :).

  5. za Says:

    Lhoh kok jawabannya makasih, mbak eng? ;-) Hayoo… hayooo…..

  6. Enggar Says:

    Za:
    Hehehe Za, itu lagi iseng bikin prolog buat tulisan. Tapi kayanya aku nggak berbakat nulis cerpen ya? :)

  7. za Says:

    Oh iya, aku baru kepikiran dengan kata-kata teman ku di diskusi mengalir yang kami lakukan. “We live in society”. Jadi menutup diri itu tidak baik juga. Kesannya kita jadi egois dan tidak adil.

    Kita ingin tahu tentang orang lain banyak hal sementara kita menutup diri. Walau aku selalu menghargai orang yang memilih untuk tidak cerita. Barangkali hanya butuh waktu saja :-)

  8. Enggar Says:

    Za:
    :)

  9. za Says:

    Lhoh speechless nih? Jawabnya pakai senyum aja. Semoga aku ngerti.

Leave a Reply