Hidup itu..

Hidup itu keras, bung’ kata entah siapa itu. Hidup semakin keras dan tidak lagi berpihak pada orang tak berpunya. Bukankah sejak dulu pun begitu? Cerita yang tidak pernah berubah.

Hei, Anda, siapapun itu. Tak bisakah sedikit saja membuka mata hati untuk merasakan kesulitan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat negeri ini? Bukankah hidup Anda terlalu berharga hanya untuk sekedar mengejar kenikmatan pribadi? Tidak bolehkah kami ikut merasakan keberuntungan yang Anda miliki?Ah, kami pantang meminta. Kami masih punya harga diri. Tapi kami lapar, tahukah kalian? Kami lapar..

——

Lelaki tua duduk terdiam di depan sebuah rumah. Matanya nanar menatapi orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Sesiang ini belum juga perutnya terisi. Sosok pemilik rumah belum juga muncul. Sepertinya sepi. Ah, padahal dia sudah berharap dapat memotong rumput di pekarangan rumah itu. Tanaman liar sudah menjalar kemana-mana, rumputnya pun sudah tinggi. Keputusasaan tampak jelas di wajahnya yang tirus. Getar badannya pun tak sanggup melindungi tubuh tuanya yang ringkih. Ýah, aku pergi saja, batinnya. Mungkin besok pagi-pagi aku kembali. Dengan langkah yang gontai, lelaki tua itu pergi sambil sesekali menengok dan berharap seseorang memanggil namanya. Namun, sampai tubuhnya hilang dari pandangan, tak didengarnya suara apapun.

Didedikasikan untuk seorang bapak tua, yang sosoknya tak pernah terlupakan. Semoga Allah menjagamu selalu. Dalam diam dan kesendirianmu aku belajar arti perjuangan yang sesungguhnya.

2 Responses to “Hidup itu..”

  1. za says:

    Aku juga suka ngelihat dunia itu suka tidak adil. Atau sebenarnya barangkali kita-nya yang belum bisa “melihat” dunia itu sendiri, Mbak Enggar?

  2. Enggar says:

    Entah ya Za. Tak menyalahkan siapa pun. Hanya menyadarkan bahwa aku belum melakukan apa-apa.

Leave a Reply