Membaca berita di milis yang mengatakan banyak guru PNS yang selingkuh. Alasannya, mereka bilang sehari-hari lebih banyak ketemu rekan kerja dibanding pasangan masing-masing. Halah, hari gini gitu lho, masih bikin alasan yang sama seperti beberapa tahun silam. Nggak keren
. Jadi ingat, di sekolah ini ada isu santer yang berembus mengenai hal di atas. Menanggapi isu-isu di atas, aku seperti biasa, tak ingin tahu. Itu urusan mereka lah.
Bagaimana aku menyikapi kejadian di atas, terutama jika terjadi padaku? Kalau sekedar disukai dan menyukai orang lain, pernah sih. Tapi, aku belajar menanggapi hal-hal seperti itu dengan candaan atau minimalnya kasih senyum hehehe aja
. Lantas, kalau ada orang lain menyukai suamiku, marahkah aku? Hmm, kenapa aku harus marah ya? Aku memilih tidak. Sesuatu hal yang manusiawi jika kita menyukai seseorang.
Aku ingat cerita seorang teman yang dilabrak istri temanku karena alasan pulang bareng. Duh. Tahu apa yang terjadi? Beritanya sampai ke seantero kantor. Malu jelas. Akibatnya, teman cowok itu malah dijauhi rekan-rekannya. Kasian kan? Ada banyak lagi cerita menarik yang sejenis. Waktu aku SMA, pernah ada dua teman cewek berantem (berantem beneran sampai jenggut-jenggutan rambut) gara-gara cowok. Satu sekolah ngeliatin. Pelajaran moral pertama buatku. Jangan pernah berantem gara-gara cowok, malu-maluin sangat.
Di tempat kerja aku juga belajar bagaimana seharusnya aku menyikapi suatu kondisi yang akan melibatkan banyak orang. Aku tidak pernah ikut campur urusan pertemanan suamiku. Dia layak punya teman seperti hal nya aku. Kami perlu bersosialisasi dan mempunyai komunitas dengan orang lain. Ini pelajaran moral nomor dua, yang aku peroleh saat aku kuliah. Teman-teman kuliahku dulu suka mendadak hilang setelah mereka punya pacar dan akan kembali kepada kami setelah bubar jalan dengan pacarnya. Saat itu aku berjanji dalam hati, kelak jika aku mempunyai pacar dan menikah, aku tidak akan melupakan teman-temanku. Dunia kita tidak hanya berdua, bukan?
Mengagumi dan dikagumi orang lain adalah hal yang wajar. Rasa suka kepada seseorang tidak pernah kita rencanakan. Namun demikian aku belajar bagaimana mengolah perasaan itu. Dimana aku harus menempatkannya pada sisi relung hatiku atau sebaliknya membiarkannya pergi. Terluka dan dilukai itu juga bagian dari kehidupan. Namun sesungguhnya luka itu tidak benar-benar menyayat jika kita bisa mengambil hikmahnya.