Patutkah?

Boleh tidak menuliskan semua rasa di diary kita sendiri? Hm, tentu saja boleh. Tapi, benarkah? Ya, tentu saja. Kenapa memangnya? Tapi.. tapi, ah tak usah sajalah. Lho?

Aku ingin menikmati saja semua ini dalam hati. Kegetiran hidup tidak selalu harus dilalui dalam kesedihan berlarut-larut. Itu tidak bersyukur namanya. Di luar sana, kepedihan lebih nyata. Tak seharusnya merasa lelah. Hidup toh harus diperjuangkan, bukan?

3 Responses to “Patutkah?”

  1. AL says:

    Ini blognya bu Enggar juga? Dapet link ini dari blog kawan saya, Roisz. Ada nama bu Enggar, saya klik, loh ternyata nyampenya beda hehehe…

  2. Enggar says:

    Al:
    Hehehe, ini blog curhat padahal :) . Tapi dah jarang diisi.

Leave a Reply