September seharusnya jadi bulan yang ceria, itu kalau Vina Panduwinata yang bilang. Bukankah ada lagunya September Ceria? Tapi buatku jangankan ceria, bulan itu adalah bulan yang menyakitkan. Pahit. Setelah beberapa bulan kedekatan kami, sebuah surat panjang membuatku remuk redam. Aku bahkan tak memahami (atau sesungguhnya aku tak mau mengerti) mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku, setelah sekian puluh pernyataan cinta dan segenap perhatian? Laki-laki memang brengsek, makiku dalam hati. Seenaknya datang dan pergi. Sejuta penjelasan yang ia tuliskan dalam surat bersampul biru itu tak mampu meredam air mataku. Kamar aku kunci. Aku menangis sesengukan. Bantal dan seprai ku basah. Mengapa..oh, mengapa.
Aku tertidur. Dalam mimpi aku bertemu dengannya. Ingin kumaki dia. Tapi mulutku terkunci. Aku hanya berdiri mematung, bahkan menatap matanya pun aku tak sanggup. Aku ingin lari saja, lebih bagus lagi kalau bumi menenggelamkanku. Oh, kenapa aku? Biar ia saja yang tenggelam. Bukankah ia yang menyakitiku sedemikian rupa? Tapi, mengapa ia diam saja? Apa yang dilakukannya? Berjalan mendekatiku? Oh, Tuhan, mengapa aku tiba-tiba menggigil? Tubuhku membeku. Aku ingin pergi tapi aku tak bisa. Wangi tubuhnya menerpa hidungku. Mengapa ia begitu dekat? Dua langkah lagi, dan aku pasti mati berdiri. Keringat mengucur deras.
“Ah, memalukan kau ini, “kata bayangan diriku. “Persetan, diam kau. Kau tak tahu apa-apa, teriakku jengkel pada bayangan diriku itu.
“Ayo, kalau kau berani, tanyalah. Tanya mengapa dia meninggalkanmu, mengapa ia tega membiarkanmu menangis berhari-hari. Membanjiri bantalmu dengan air mata. Ayo, jangan diam saja seperti itu,” kata bayanganku semakin berani.
“Dan membuatmu depresi berat? Hahaha, tanya. Jangan hanya diam membeku seperti patung es lilin begitu,” bayanganku semakin meracau.
“Diamm,” teriakku jengkel.
“Ah, kau tak seberani yang ku kira. Kau pengecut.”
Aku melempar sebuah sandal dengan keras. Sandal itu jatuh tepat mengenai sasarannya. Tapi bayanganku semakin tak mau diam. Ia malah tertawa semakin keras.
“Kasihan. Kasihan kau ini. Menangisi dirimu sedemikian rupa. Apa yang kau tangisi?”
Entahlah. Aku tak tahu apa yang kutangisi. Kehilangan seseorang yang begitu penuh perhatian kepadaku selama ini? Ah, konyol. Atau aku hanya ingin ia tak melupakanku?
Mengapa sekali ini logikaku pergi jauh?