Cinta itu Absurd, Jenderal

September seharusnya jadi bulan yang ceria, itu kalau Vina Panduwinata yang bilang. Bukankah ada lagunya September Ceria? Tapi buatku jangankan ceria, bulan itu adalah bulan yang menyakitkan. Pahit. Setelah beberapa bulan kedekatan kami, sebuah surat panjang membuatku remuk redam. Aku bahkan tak memahami (atau sesungguhnya aku tak mau mengerti) mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku, setelah sekian puluh pernyataan cinta dan segenap perhatian? Laki-laki memang brengsek, makiku dalam hati. Seenaknya datang dan pergi. Sejuta penjelasan yang ia tuliskan dalam surat bersampul biru itu tak mampu meredam air mataku. Kamar aku kunci. Aku menangis sesengukan. Bantal dan seprai ku basah. Mengapa..oh, mengapa.

Aku tertidur. Dalam mimpi aku bertemu dengannya. Ingin kumaki dia. Tapi mulutku terkunci. Aku hanya berdiri mematung, bahkan menatap matanya pun aku tak sanggup. Aku ingin lari saja, lebih bagus lagi kalau bumi menenggelamkanku. Oh, kenapa aku? Biar ia saja yang tenggelam. Bukankah ia yang menyakitiku sedemikian rupa? Tapi, mengapa ia diam saja? Apa yang dilakukannya? Berjalan mendekatiku? Oh, Tuhan, mengapa aku tiba-tiba menggigil? Tubuhku membeku. Aku ingin pergi tapi aku tak bisa. Wangi tubuhnya menerpa hidungku. Mengapa ia begitu dekat? Dua langkah lagi, dan aku pasti mati berdiri. Keringat mengucur deras.

“Ah, memalukan kau ini, “kata bayangan diriku. “Persetan, diam kau. Kau tak tahu apa-apa, teriakku jengkel pada bayangan diriku itu.
“Ayo, kalau kau berani, tanyalah. Tanya mengapa dia meninggalkanmu, mengapa ia tega membiarkanmu menangis berhari-hari. Membanjiri bantalmu dengan air mata. Ayo, jangan diam saja seperti itu,” kata bayanganku semakin berani.
“Dan membuatmu depresi berat? Hahaha, tanya. Jangan hanya diam membeku seperti patung es lilin begitu,” bayanganku semakin meracau.
“Diamm,” teriakku jengkel.
“Ah, kau tak seberani yang ku kira. Kau pengecut.”
Aku melempar sebuah sandal dengan keras. Sandal itu jatuh tepat mengenai sasarannya. Tapi bayanganku semakin tak mau diam. Ia malah tertawa semakin keras.
“Kasihan. Kasihan kau ini. Menangisi dirimu sedemikian rupa. Apa yang kau tangisi?”

Entahlah. Aku tak tahu apa yang kutangisi. Kehilangan seseorang yang begitu penuh perhatian kepadaku selama ini? Ah, konyol. Atau aku hanya ingin ia tak melupakanku?

Mengapa sekali ini logikaku pergi jauh?

Posted in Cerpen & Puisi | Leave a comment

Mpus Belang Coklat

Untuk: IndonesiaBercerita

Matahari bersinar terik. Udara terasa panas. Selly sedang duduk di beranda sambil mengipas-ngipas sebuah buku ketika matanya menangkap bayangan sesuatu. Dihampirinya makhluk mungil berbulu coklat itu. Hatinya tersentak. Anak kucing!
Sudah berapa lama anak kucing ini ada di sini? Tubuhnya kurus dan tampak kumal. “Sepertinya anak kucing ini sakit,” ujar Selly dalam hati. “Mungkinkah ia haus? Kemana induknya?

Selly segera membuatkan susu untuk si anak kucing.
“Minumlah mpus…” kata Selly sambil mengulurkan susu hangat ke dekat mulut si anak kucing.Tapi si mpus tak menyentuhnya sedikitpun.
“Ayo mpus… minum.. susu ini enak kok” ujar Selly lagi. Anak kucing meringkuk semakin dalam.
Selly merasa hatinya sedih. “Pasti si mpus sakit sekali.”
“Ayo mpus.. minum.. supaya kau cepat sembuh,” kata Selly mendekatkan susu itu kembali ke dekat mulut si anak kucing.
Anak kucing tampak ketakutan dan menumpahkan susu yang telah dibuat Selly.

Selly memperhatikan mpus dengan getir. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Anak kucing tampak tertidur. Selly tak berani mengganggunya. “Mungkin si mpus capek dan ia ingin tidur,” kata Selly dalam hati. Selly menunggu. Ia duduk di beranda sambil terus memperhatikan si mpus.

Angin sepoi-sepoi membawa Selly ke alam mimpi. Ia tertidur. “Sel, bangun sayang,” suara Ibu mengagetkannya.
Selly mengerjapkan matanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Selly berdiri dan melangkahkan kakinya ke tempat si mpus berada. Tapiii… “Buu, ke mana anak kucing yang tadi ada di sini?” tanya Selly sambil menatap Ibunya dengan penuh rasa khawatir. Bola matanya berputar-putar, mencari-cari si anak kucing.
Ibu menatap Selly. Perlahan..
“Anak kucing itu sudah mati Sel. Tadi mbak menemukan….”
“Nggak… nggak mungkin. Tadi dia masih hidup. Anak kucing itu cuma ingin tidur sebentar, Ibu…” mata Selly mulai berkaca-kaca.
Ibu menghampiri Selly.
“Mbak sudah menguburkan anak kucing itu. Ia sakit. Mungkin sakitnya sudah lama,” kata Ibu lagi sambil memeluk Selly. “Kita doakan saja, semoga si mpus bahagia di sana.”
“Bu, boleh aku ambil bunga di sana itu?” kata Selly sambil menunjuk bunga yang ada di halaman rumah. Ibu menggangguk.

Selly memetik beberapa kuntum bunga. Ia melangkahkan kakinya menuju gundukan tanah, tempat anak kucing dikuburkan. Diletakkannya kuntum-kuntum bunga yang masih segar. Selly mengatupkan kedua tangan. Ia memejamkan mata dan merapalkan doa untuk anak kucing berbulu coklat yang baru dikenalnya hari itu.

Posted in Cerpen & Puisi | Leave a comment

Forget and Forgive

Apakah aku harus sakit hati? Sekian tahun mengajar dan tiba-tiba kontrakku tak diperpanjang?

Tapi mungkin Tuhan tahu bahwa aku tak cocok berada di sana.

Mungkin memang aku keras kepala, tidak bisa dipahami, aku bukan orang yang mudah diatur, pembangkang kelas satu, dan lain-lain.

Aku mencintai dunia pendidikan, anak-anak, ilmu pengetahuan. Tapi aku juga tahu bahwa aku masih bisa mengabdi di manapun dan dengan anak-anak di manapun tanpa harus ada penyekat yang bernama instituasi.

Posted in Life | Leave a comment

Dunia Mereka

Setiap sore saya menyiram tanaman. Pada jam yang sama, anak-anak kecil bermain di depan rumah ditemani Ibu mereka. Hal yang paling menakjubkan adalah anak-anak itu. Beberapa dari mereka akan berdiri dan memandangi saya. Ada juga yang lantas memaksa Ibunya untuk mengambilkan ember kecil atau penyemprot mainan milik mereka. Kemudian, ikut mengisinya dengan air dan menyiram tanaman-tanaman yang ada di rumah saya :) . Agar tak terlalu banyak air yang mereka tumpahkan ke pot tanaman yang sama, biasanya saya ajak mereka menyiram tanaman lain yang ada di depan rumah. Mereka senang dan terkadang berebutan. Dan saya, senang aja melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang besar yang memancar dari binar mata anak-anak itu.

“Lagi ngapain?” tanya bocah laki-laki ndut dari balik pagar.
“nyiram tanaman” jawab saya sambil membuka pintu pagar.
“nyiram tanaman ya?” tanyanya lagi sambil serius memperhatikan setiap gerak yang saya lakukan.
“Iya, Arkan lagi apa?” tanya saya lagi. (Saya jarang keluar rumah dan bercakap-cakap, jadi mungkin saya salah mengeja nama anak ini.)
Bocah itu tidak menjawab apa-apa. Pandangannya lebih asyik melihat tanaman-tanaman yang sedang saya siram.

Hehe, saya selalu suka melihat ekspresi anak-anak. Sesuatu yang lepas dari perhatian kita orang dewasa sebaliknya mengambil tempat yang teristimewa bagi mereka. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik minatnya. Anak itu tidak memperhatikan lagi mainannya. Dia berlari ke dalam rumah dan kembali dengan alat penyemprot plastik miliknya yang cukup besar. Seorang mbak mencoba menghalangi anak itu, tapi anak itu sudah masuk ke dalam rumah saya. Saya membantunya mengisi air. Ia mulai menyiram. Si mbak kembali merayunya agar menyiram tanaman yang ada di rumahnya. Dua anak lainnya masih bolak-balik mengisi air di keran dan menyiram tanaman-tanaman kembali.

Esok sore, ketika saya sedang menyiram tanaman, anak-anak itu kembali berdiri memperhatikan. Mereka tampak asyik. Kadang saya bertanya, apa kiranya yang mereka sedang pikirkan ya? Apakah mereka sedang membuat skenario cerita yang menarik tentang air dan pohon-pohon itu? :)

Arkan kembali dengan pertanyaan yang sama.
“Lagi apa?”
Dan saya menjawab dengan kalimat yang sama pula “tante lagi nyiram tanaman”
Anak-anak kecil lainnya, juga akan mengajukan pertanyaan yang sama. Keponakan saya juga akan ikut merubung. Saya pun menjawab pertanyaan mereka dengan kalimat yang sama.

Sekali waktu, anak-anak akan berdiri terus memperhatikan saya yang sedang menyiram. Saya sesekali menengok kepada mereka dan tersenyum. Saya ingin menawarkan mereka untuk menemani saya menyiram, tapi saya ragu apakah orang tua mereka mengijinkan, jadi cara paling ampuh yang saya lakukan adalah membiarkan mereka memandangi saya, membuka pintu pagar. Kadang mereka membuntuti saya, bertanya pohon apa ini, buah apa itu, dan lain-lain.

Dunia indah, bukan? Anak-anak selalu mengajarkan kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hanya sayang, kita seringkali tidak menyadarinya. Kita berpikir kesenangan dan kebahagiaan untuk mereka dengan cara kita dan bukan mereka.

Posted in Life | Leave a comment

My sweet mbee :)

Setiap Idul Adha saya teringat pada domba kami yang kalem dan tenang sekali, beberapa tahun silam, di atas pegunungan di selatan Bandung, Papakmangu.

Sebelumnya, saya menghindari melihat acara kurban. Pertama, saya trauma dengan peristiwa masa kecil. Saat itu saya melihat acara kurban di masjid dekat rumah. Entah bagaimana, kaki saya terkena darah hewan kurban. Sejak saat itu saya tak berani melihat hewan dipotong. Masih terbayang darah segar yang merembes jatuh ke kaki saya. Kedua, saya tak tega. Saya tak siap melihat ketika hewan-hewan itu ada yang berusaha melarikan diri.

Namun kemudian, makhluk bandel ini berhasil memaksa saya melihat acara kurban. Domba kami cakep dan bersih. Makhluk bandel bilang domba itu mencari saya juga. Saya harus membantu menguatkan agar si domba tenang. Itu saat saya melihat sang domba sedikit gelisah, matanya nanar menatap sekeliling. Saya yang tadinya takut memberanikan diri untuk menampakkan diri. Makhluk bandel berdiri di samping saya, menggenggam tangan saya. Kami menatap mata si domba sambil mencoba berbicara dengannya. Domba itu terus memandang kami, tenang, sampai perlahan ia memejamkan mata.

Itu adalah pengalaman yang tak terlupakan. Saya selalu teringat pada mata domba kami yang tenang dan indah. Dan hari ini saya berdoa, walaupun kami tidak bisa menemani domba yang kami kurbankan hari ini, semoga ia tahu bahwa saya mengirimkan doa untuk mereka.

Dan seperti kata makhluk bandel, semoga mereka menunggu kami kelak, menghantarkan kami ke alam abadi yang penuh keceriaan asasi.

(Insya Allah foto menyusul, karena albumnya ada di Bandung :) )

Selamat Idul Adha 1432 H. Selamat berbagi kebahagiaan.
Semoga Allah swt memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beryukur. Amin yra.

Posted in Life | Leave a comment

Menciptakan Hubungan

Ada banyak kiasan bagus dari buku Pangeran Kecil. Saya sudah menuliskan sedikit resensi bukunya di sini. Tapi, saya merasa ingin menuliskan kisah yang satu ini.

Dialog rubah dengan pangeran kecil.

“Kamu mencari ayam?”
“Tidak,” kata pangeran kecil. “Aku mencari teman. Apa artinya menjinakkan?”
“Sesuatu yang terlalu sering dilupakan,” kata rubah, “artinya menciptakan hubungan..”

“Bagiku, kamu masih merupakan seorang anak laki-laki kecil yang serupa dengan seratus ribu anak laki-laki kecil yang lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Dan kamu pun tidak membutuhkan aku. …… Tetapi, jika kamu menjinakkan diriku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kamu merupakan sesuatu yang tunggal, dan bagimu, aku merupakan sesuatu yang tunggal pula di dunia ini.”

kata rubah:
“Hidupku datar. Aku memburu ayam, manuisa memburuku. Semua ayam serupa, begitu pula semua orang. Jadi aku merasa agak bosan. Tapi jika kamu menjinakkanku, hidupku seolah-olah terang benderang. Aku akan mengenal bunyi langkah yang berbeda dari yang lain. Langkahmu memanggil diriku keluar dari lubang persembunyian, seperti suara musik.

“Kita hanya mengenal sesuatu yang telah kita jinakkan,” kata rubah. “Manuisa tidak lagi mempunyai waktu untuk mengenal. Mereka membeli barang-barang yang sudah jadi di tempat para pedagang. Tapi karena tidak ada lagi pedagang sahabat, orang tidak lagi mempunyai teman. Jika kamu menghendaki seorang teman, jinakkanlah aku,”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya pangeran kecil.
“Harus sabar,” jawab rubah. “Mula-mua kamu duduk, sedikit jauh dariku, seperti itu, di rumput. Aku akan memandangmu dengan sudut mata dan kau jangan berkata apa-apa. Bahasa adalah sumber kesalahpahaman. Tapi, setiap hari, kamu dapat duduk sedikit lebih dekat.”

“Ada baiknya datang pada waktu yang sama,” kata rubah.
“……. Aku akan menemukan nilai kebahagiaan. Tetapi jika kamu datang kapan saja, aku tidak tahu jam berapa aku harus merias hatiku..

Demikianlah sampai waktu sang pangeran kecil harus meninggalkan rubah.

“Ah,” kata rubah, “aku akan menangis,”
“Itu salahmu,” kata pangeran kecil. “Aku tidak bermaksud untuk menyakiti dirimu, tapi kamu yang mau dijinakkan..”
“Tentu,” kata rubah.
“Tapi kamu akan menangis,” kata pangeran kecil. “Jadi sama sekali tidak berfaedah bagimu.”
“berfaedah bagiku,” ujar rubah. “Aku akan memberimu rahasia sebagai hadiah”

“Ini rahasiaku. Sangat sederhana. Hanya dengan hati kita melihat dengan baik. Yang inti tidak terlihat oleh mata.”
“waktu yang kamu buang untuk mawarmulah yang membuat mawar begitu penting bagimu.”
“Manusia telah melupakan kebenaran ini,” kata rubah.
“Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu selamanaya bertanggung jawab, terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu..”

Posted in Film & Buku | Leave a comment

Mengapa?

“Kita tidak perlu melupakan siapapun yang pernah kita cintai” ~ SGA

Ini sebuah kutipan dari Semo Gumira Ajidarma. Sayang, saya lupa judul buku ini.

Untuk saya, siapapun mereka yang pernah hadir dalam hidup kita sesungguhnya membantu kita dalam proses pendewasaan diri. Entah getir, luka, pun keindahan yang disebabkan oleh karenanya.

Posted in Life | Leave a comment

Belajar Menulis

Tulisan ini saya peruntukkan untuk Nita dan teman-teman yang pernah menanyakan bagaimana cara menulis.

Saya sebenarnya paling bingung kalau ada yang bertanya bagaimana cara menulis yang baik. Pertama, tulisan saya sendiri pun masih amburadul. Tapi, saya ingin sedikit berbagi pengalaman. Mudah-mudahan ini bisa membantu untuk mereka yang ingin mulai menulis.

Semua orang sesungguhnya bisa menulis. Yang paling utama untuk bisa menulis adalah harus banyak membaca. Tema atau topik apa yang harus ditulis? Banyak. Apa yang kita dengar, kita lihat dan kita renungkan bisa menjadi sumber tulisan. Mau menulis curahan hati? Boleh-boleh saja. Kenapa tidak?

Teguran pertama mengenai cara menulis datang dari editor saya. Kala itu saya sedang menulis buku teks pelajaran di salah satu penerbit. Beliau bilang tulisan saya banyak menggunakan kalimat majemuk. Bukan tidak boleh, tapi menulis buku anak-anak, terutama untuk kelas empat ke bawah sebaiknya menggunakan kalimat SPO (Subjek Predikat Objek). Saya pelajari penjelasan Beliau. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga.

Kedua, ketika membaca sebuah buku, selain isi saya akan menyempatkan diri untuk memperhatikan bagaimana sebuah kalimat dirangkai, begitu juga dengan penempatan tanda baca.

Ketiga, saya berusaha untuk menulis, setiap waktu. Apalagi setelah banyaknya mikro blogging seperti facebook dan twitter, kesempatan menulis menjadi lebih besar. Walaupun sekedar menulis status, tetapi saya membiasakan diri untuk menulis dengan tidak menyingkat. Namun pengecualian di twitter ya. Walaupun setiap kali nge-tweet saya berusaha membuat kalimat yang ringkas dan padat tanpa harus menyingkat. Namun ternyata saya belum bisa. Itu juga salah satu sebab saya jarang berkeliaran di twitter. Namun saya tetap memantau karena banyak informasi berharga dari sana.

Jadi, coba biasakan untuk menulis dengan baik dan teratur walaupun hanya sekedar status. Nggak harus baku dan formal, tapi rapi.

Dan yang terutama saya memaksa diri untuk membaca. Buku bacaan saya waktu kecil adalah lima sekawan, sapta siaga, dan karya Enid Blyton lainnya. Dongeng-dongeng dari Grimm bersaudara, Andersen, dan lain-lain. Menjelang remaja ada Gola Gong, Lupus, Agatha Christie, dan seterusnya.

Saya tidak tahu anak-anak remaja sekarang suka membaca buku yang seperti apa. Tapi kalau boleh saya sarankan, jika ingin belajar menulis, coba pilih buku-buku yang mempunyai karakter (Aduh, saya belum menemukan kata yang tepat) sekaligus mendidik. Banyak novel remaja terbit di pasaran, coba belajar memilah kira-kira seperti apa yang tepat untuk diri kita. Sebagai langkah awal boleh lah buku-buku yang ringan. Berikutnya naik, terus bertahap. Cari buku-buku yang bergizi, yang ketika kita selesai membacanya kita mendapatkan sesuatu dari sana. Komik lucu tentu saja boleh. Kita tidak harus melulu serius. Saya pun memiliki banyak komik, Tintin, Asterix, Smurf, Peanut. Koleksi masa kecil yang masih saya sukai sampai sekarang.

Dan setiap membaca atau menemukan kata yang asing, saya biasanya mencari di Kamus Bahasa Indonesia. Jangan bayangkan saya bawa buku tebal itu kemana-mana, cukup klik di sini.

Ada dua pegangan saya ketika menulis, Kamus Bahasa Indonesia Daring (Dalam jaringan) serta Tesaurus Bahasa Indonesia. Tesaurus membantu saya untuk menemukan padanan kata.

Ingin menulis? Kenapa tidak memulai dari sekarang. Semua orang bisa menulis, tinggal mantapkan hati dan yakinkan diri untuk mau belajar :) . Jangan lupa membaca dan luangkan waktu untuk menulis :)

Posted in Life, Uncategorized | Leave a comment

Baca dan Tulis

Saya suka membaca. Sayangnya, saya tidak begitu bagus menulis. Walaupun sejak kecil saya selalu membiasakan diri untuk menulis, apapun. Kutipan lirik lagu, puisi, peribahasa, kalimat-kalimat bagus dari tokoh-tokoh yang saya baca bukunya. Entah ya, tapi rasanya walaupun hanya sekedar menulis petikan kecil seperti di atas, itu cukup memuaskan hati.

Namun kesukaan saya menulis terhenti ketika mulai bekerja di Bank. Mungkin rutinitas dan juga kevakuman membaca. Saya hanya sesekali membaca artikel yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi dan berita aktual hari itu. Saat itu rasanya ada sesuatu yang hampa, tapi saya tidak menyadari sampai kemudian saya beralih profesi menjadi guru.

Menjadi guru mengembalikan saya pada kegemaran masa kanak yang sempat terlupakan. Saya kembali membaca banyak hal. Buku-buku kenangan masa kecil berkelebat kembali. Dan saya mulai menulis. Awalnya menulis materi dan latihan untuk bekal saya mengajar. Saya juga menulis kegiatan saya di dalam notebook. Kemudian, partner memaksa saya membuat blog. Tapi saya masih malas menulis di blog. Setiap kali dia meminta saya mengisi blog yang dia buatkan untuk saya, saya menjawabnya dengan seribu alasan. Tak sempat, siapa yang mau membaca, untuk apa, dan yang terutama saya tak berani menulis untuk kemudian semua orang di manapun membacanya. Agak-agak seram :)

Kesempatan menulis blog datang ketika buku teks pelajaran yang saya buat terbit di tahun 2006. Blog itu sejatinya saya dedikasikan untuk semua rekan guru, anak murid, yang ingin bertanya atau sekedar kami berbagi cerita. Saya sempat menyesal, kenapa tidak sejak awal mengajar saya membuat blog. Tentu banyak kisah menarik yang bisa saya tulis di sana. Tapi, tak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Blog pertama yang saya mulai isi itu beralamat di sini.

Awal-awal topik tulisan bercampur-baur. Dan perlahan-lahan saya mulai merapihkannya kembali. Blog pertama itu akan berisi seputar pendidikan, materi TIK, dan beberapa tulisan lain. Dan blog di sini khusus untuk tulisan saya yang kadang ingin ngobrol ngalor dan ngidul :) . Ada juga cerpen-cerpen yang saya buat. Mungkin di sini lebih ke arah curhat kali ya? Walaupun sebenarnya nggak pengin curhat juga (hehehe, ngeles :) ).

Dan ada tulisan resensi buku saya di sini. Mengapa di pisah? Ini menarik, karena saya ingin bergabung dengan komunitas blogger buku Indonesia. Tapi rekan saya yang menggagas ini menyarankan saya untuk membuat blog baru khusus resensi buku. Usulan yang menarik. Di sini saya bisa membaca banyak tulisan resensi buku-buku baru atau lama. Sering kali setelah membaca sebuah resensi buku dari komunitas ini, saya jadi pengin beli buku tersebut. Ini antara menyenangkan dan juga bikin huhuhu :) .

Blog ke-empat adalah blog yang saya khususkan untuk puisi-puisi saya yang setengah jadi :) . Berisi juga kutipan atau bahkan video klip. Blog itu tersimpan di sini.

Ada lagi lainnya :) , maksud hati sih ingin saya khususkan untuk blog audio. Berisi podcast-podcast pembelajaran TIK. Tapi masih berantakan. Jadi, di simpen dulu aja lah :)

Walau tampaknya nekat, dan memang iya memiliki blog sebanyak itu. Kapan juga ngisinya? Justru itu, saya tertantang untuk terus belajar hal-hal baru agar saya bisa terus berbagi cerita di blog-blog saya itu.

Semoga saya bisa konsisten untuk terus mengisi blog-blog saya itu. Amin.

Selamat hari blogger, Indonesia :)

Posted in Life | Leave a comment

Entah Judulnya Apa :)

Ini tulisan iseng aja, sambil melepas kepenatan di tengah pekerjaan yang sama nggak jelasnya :) . Tapi sebelum membaca ini mungkin perlu sedikit pikiran yang terbuka, dewasa, dan tidak menghakimi apalagi menuduh :) . Kalau Anda merasa sudah memenuhi kualitas itu, baiklah kita mulai.

Pernikahan belasan tahun, pengalaman orang di sekitar kita, dan perjalanan hidup yang kita lalui sedikit banyak mengubah dan mempengaruhi pandangan kita terhadap sesuatu hal atau situasi tertentu.

Demikian pun ketika saya bergaul dengan anak-anak muda. Terkadang mendengar komentar atau pendapat mereka, mengingatkan saya ketika seusia mereka. Begitu hitam putih. Nyatanya dalam hidup, warna bisa begitu abu-abu.

Saya teringat kata-kata seorang ustad (ini karena pada suatu saat Ibu mengajak saya menghadiri pengajian. Ibu bilang ustad yang ini beda. Baiklah :) ), Beliau sedang menceritakan bagaimana otak kita mencerna dan bekerja. Ia memberikan contoh:

Jadi, kalau Ibu-ibu ingin diet, jangan mensugesti diri dengan “Saya tidak akan makan coklat” . Tahu kenapa? Karena yang diproses di otak kita adalah yang sebaliknya. Maka akan menjadi “Saya akan makan coklat”. Dan itulah yang tubuh kita lakukan. Alih-alih mengurangi makan coklat yang terjadi adalah makan coklat sebanyak-banyaknya. Demikian juga dengan kalimat “Saya tidak akan selingkuh”, “Saya tidak akan menyayangi orang lain selain dirimu”, dkk :) .

Pada suatu masa ketika ramai berita seorang dai menikah lagi, semua orang kecewa dan menyalahkan. Mengapa? Karena selama ini ia adalah orang yang tampak menyayangi keluarganya dan jauh dari akan melakukan hal-hal seperti itu.

Sikap saya? Mending nggak ikut-ikutan. Hehe. Nggak, begini, Tuhan memberikan manusia hati, agar kita bisa merasakan sedih, kecewa, sayang, dan lain sebagainya. Hati itu benda hidup toh? Tapi bukankah Tuhan juga memberikan kita akal dan pikiran? Itulah karunia dari Tuhan, yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Untuk apa akal dan pikiran? Untuk berpikir, tentu saja.

Jadi, maksudnya, apakah salah seseorang (yang sudah menikah) menyayangi orang lain? Menurut saya sih enggak. Itu biasa saja. (siap-siap dilempar sandal :) ). Rasa sayang itu luas, sangat luas dan dalam artinya. Tapi, tentu saja, logika juga musti dikedepankan karena itulah gunanya akal dan pikiran yang telah Tuhan berikan tadi. Lagipula ada situasi-situasi tertentu yang membuat kita manusia tidak selalu harus menuruti keinginannya sendiri.

Jadi, sebaiknya rasa sayang itu dibunuh? Haha, itu sih terserah masing-masing orang saja.

Tapi, bukankah Tuhan memberi keindahan berupa rasa sayang dan cinta itu justru untuk menguji ketabahan kita?

Coba deh, bagi yang punya anak. Misalkan anak Anda terjerubus narkoba, hamil di luar nikah dan lain-lain yang tidak pernah Anda bayangkan. Apa sikap yang Anda akan ambil? Menariknya kembali ke pelukan Anda atau membiarkannya jatuh ke lumpur yang lebih pekat? Di sini lah Tuhan sedang menguji ketabahan kita tentang cinta dan sayang.

Pun demikian ketika kita menyayangi orang lain. Bukan sesuatu yang jahat atau dan sebagainya. Biarkan saja, mengalir apa adanya. Seperti air yang tahu kemana ia akan menuju. Tenang dan diam. Namun sebaliknya, jika ia mencoba keluar dari lintasannya, ia akan menjadi kacau, merusak dan menyebabkan banjir. Begitu mungkin?

Posted in Life | Leave a comment