Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Mengajar

Friday, August 10th, 2007

Cerita sedikit apa itu AKTA ada di sini. Sekarang aku mo cerita pengalaman waktu kuliah di IKIP Jakarta untuk mengambil AKTA ini. Saat itu kebetulan ada program kerjasama dengan dinas kesehatan, jadi aku kuliahnya digabung dengan mereka. keuntungannya, cukup 4/5? bulan tapi setiap hari dan full time. Waktu itu aku memutuskan keluar dari Bank setelah banyak kasus bank terlikuidasi.  Tempat aku bekerja termasuk dalam situasi siaga 2 :). Di kantor tidak ada aktivitas yang berarti dan rasanya nggak nyaman buat aku.  Akhirnya aku putuskan untuk keluar. Aku harus alih profesi.

Aku ingin jadi guru. Ternyata, itu pilihan yang tidak salah. Karena aku mencintai pekerjaan ini :).

Ada satu mata kuliah yang namanya perkembangan peserta didik. Hmm, aku belajar ilmu dan teori psikologi anak.  Menarik, kapan-kapan bikin tulisan yang lebih mendalam tentang ini kali ya :). Di sini aku jadi ‘ngeh’ kenapa guru aku dulu, suka kasih jawaban seperti ini kalo ditanya. “Kita diskusikan minggu depan” :). Mau tau? guru juga punya trik lho untuk menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya saat itu.

Begini :), guru bukanlah sosok yang serba tau. Tapi kita juga tidak boleh membohongi murid. Jadi, seandainya ada suatu pertanyaan yang tidak bisa dijawab, maka guru disarankan untuk mengatakan secara tersirat. Sebaiknya mengajak murid untuk mencari informasi itu bersama-sama. Ini teori-nya lho :). Kenapa? ini ada kaitannya dengan mata kuliah perkembangan peserta didik. Waah, kok jadi panjang ya. Aku pribadi, kadang bilang terus terang kalau aku belum mengetahui saat itu, tapi aku meminta dan berjanji kepada murid untuk membahas-nya minggu depan. Terlalu sering mengatakan ‘tidak tau’ kepada murid itu juga tidak terlalu baik :).

Satu lagi, sesungguhnya aku merasa lebih banyak belajar dari murid-murid ku.

Duh, kemana bahan-bahan kuliah ku di IKIP dulu ya? tercecer entah dimana…

IT untuk Anak, Sekali lagi

Tuesday, June 19th, 2007

Pro dan kontra untuk pembelajaran TI di SD memang cukup dimaklumi. Saya pribadi lebih suka memahami komputer di sekolah dasar itu bukan bagian dari pelajaran tapi ketrampilan. Karena sifatnya yang terampil, maka pelajaran komputer sebaiknya bukan berisi tanya jawab seputar apa itu hardware, jelaskan sistim operasi, sejarah komputer, dan lain sebagainya. Kalaupun itu ada dalam buku pelajaran sekolah, sifatnya hanya untuk kenal, atau sekedar memenuhi standar kurikulum yang diberikan oleh Depdiknas. Tidak lebih tidak kurang. Tapi yang lebih diutamakan adalah bagaimana siswa dapat menggunakan perangkat TI ini untuk membantu dia dalam mendukung pelajaran-pelajarannya di sekolah atau pun dalam organisasi.


Untuk saya, misal saya mengajar komputer untuk anak kelas 1 SD. Ketrampilan TI yang akan diajarkan adalah mengenal ikon Ellips. Saya akan bercerita seputar bentuk dan teman-temannya. Mengarahkan siswa untuk menyebutkan benda yang berbentuk lingkaran, baik yang ada di dalam kelas atau dimanapun. Selanjutnya, minta siswa menggambar objek lingkaran kosong yang besar dengan garis tepi yang tebal di komputer. Print. Berikutnya, biarkan syaraf motorik siswa Anda bekerja. Minta mereka menggambar bebas di dalam objek lingkaran. Hasilnya, jadikan pin atau hiasan magnet kreasi mereka sendiri. Sederhana? Tak apa. Tapi di sini mereka belajar sisi lain kegunaan dari belajar komputer.

Hem, bagaimana bapak/ibu guru TI? Berhubung aku udah lama cuti ngajar. Tapi tahun ajaran baru ini mudah-mudahan bisa ngajar lagi ah. Kangen sekali sama murid-muridku.

 

Menulis Skenario

Wednesday, May 16th, 2007

Tak sengaja masuk ke situs Yayan Sopyan, penulis. Beliau bercerita tentang pekerjaan rumah putranya, yaitu menulis skenario dari sebuah cerita pendek. Saya jadi teringat, ketika saya secara tidak sengaja menemukan situs ini . Situs ini berisi latihan menulis skenario untuk anak secara online. Tampilannya sederhana dengan hewan-hewan sebagai pilihan tokohnya. Situs ini saya jadikan rujukan untuk penulisan buku yang sedang saya susun. Saya anggap situs ini sudah cukup mewakili buat anak sekolah dasar (kelas 1-3) untuk memahami bentuk sebuah skenario. Dan anak-anak itu belajar bagaimana men-skenario-kan sebuah cerita.

skenario.jpg

Menyambung tulisan mengenai Penerapan TIK di sekolah.

Saturday, April 7th, 2007

Beberapa opini juga diberikan sehubungan dengan kurikulum TIK. Ada yang menyatakan bahwa kurikulum TIK yang ada saat ini terlalu berat, ada juga yang sebaliknya. Khusus untuk TIK SD, banyak kalangan yang menyatakan bahwa kurikulum TIK yang diberikan sangat dangkal. Banyak sekolah pada akhirnya memilih untuk membuat modul pembelajaran sendiri atau memilih bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan komputer.
Di satu kesempatan, saya pernah diberi pertanyaan oleh seorang staf akademik. Pertanyaannya sederhana aja. “Keunggulan apa yang ada pada buku Anda?” Pertanyaan ini berawal dari ketidakpuasan beliau terhadap kurikulum TIK Depdiknas ini. Selanjutnya, beliau bercerita bahwa murid-murid di sekolahnya sudah belajar PowerPoint, untuk membuat presentasi. Hemm… jawaban saya maunya panjang tapi nanti kesannya kaya jualan kecap ya :). Nggak lah, becanda kok.
Saat itu saya hanya menjawab bahwa saya mencoba untuk menyatukan pelajaran-pelajaran di sekolah dengan menggunakan komputer sebagai medianya (seperti itulah).

Sah-sah aja kok kalau sekolah memasukkan berbagai macam program untuk diajarkan kepada siswa mereka. Pihak sekolah pasti lebih mengetahui kemampuan anak didik mereka.

Pada saat mulai menyusun buku tersebut saya ingin menawarkan suatu bentuk yang sedikit berbeda (sedikit saja, karena saya harus fokus pada materi dari isi kurikulum itu sendiri). Dengan kerjasama dan dukungan dari pihak penerbit, termasuk menyumbangkan buku-buku pelajaran SD dari berbagai bidang studi untuk saya (asyik.. asyik..hehe). Selain itu juga literatur-literatur yang saya peroleh dari Internet, terutama situs-situs luar (contoh modul pembelajaran mereka banyak sekali lho).

Intinya, saya ingin menyederhanakan seperti ini. Bukan soal berapa banyak program yang bisa diajarkan ke siswa namun yang terpenting adalah mengajarkan konsep nya. Contoh sederhana saja, mengajarkan siswa C# . Belum tentu, di masa depan mereka kelak C# masih digunakan. Diajarkan Excel pun itu sudah cukup. Yang utama adalah konsep untuk mengembangkan logika.

Dan tentu saja, mereka juga harus belajar hal-hal lain di luar sekolah.. lha iyalah .. hehehe…

O’ya, boleh promosi ya. Untuk revisi buku TIK SD ini saya memasukkan Internet sebagai media pembelajaran untuk mendukung mata pelajaran lainnya di sekolah. Alternatif ini didasarkan atas tulisan dari suatu artikel di Internet, yang memuat tulisan pemanfaatan Internet di sekolah sebagai revolusi pembelajaran, yang memberikan contoh tentang seorang guru Malcolm Thompson dari sekolah Dalton di New York, ketika mengajarkan astronomi. Tujuh komputer di kelas itu secara real time menayangkan jagat raya hasil amatan teleskop Observatorium Palomar di California. Selanjutnya, dengan bantuan piranti perangkat lunak, para murid diminta memilih tiga bintang dan menghitung kekuatan cahaya serta suhunya.

Yang ada dalam buku (revisi) saya, tidak tepat seperti ilustrasi di atas sih, walaupun kepinginnya seperti itu .. sungguh deh ;-) namun saya mencobanya sebatas yang saya mampu. Mudah-mudahan kelak, saya bisa membuatnya lebih baik lagi. Tentu dengan dukungan berupa kritik dan saran dari Anda semua.

penerapan ict learning di sekolah

Monday, March 12th, 2007

Apa sesungguhnya konsep ict learning? ict atau information communication and technology (kita menyebutnya dengan pembelajaran tik) adalah metode pembelajaran berbasiskan pada tik (teknologi informasi dan komunikasi). Versi aku, dengan menyatukan tema-tema pelajaran pada berbagai bidang studi lainnya :).
(definisi di atas boleh disanggah pun boleh dibenarkan :)).

sejatinya, pelajaran TIK di sekolah memang tidak berjalan sendiri. pelajaran komputer di lingkungan sekolah, lebih ditujukan untuk membantu siswa agar dapat menggunakan dan memanfaatkan komputer (tik) dalam proses belajar mereka di sekolah.

untuk itu format pengajaran komputer di sekolah tentu saja berbeda, baik untuk level SD, SMP, dan SMA.
akan lebih mudah dan menyenangkan untuk siswa jika dibekali dengan tema-tema yang lekat dengan kehidupan mereka sehari-hari baik di sekolah ataupun di rumah.

- bersambung-

Pemandangan Alam atau Kenampakan Alam?

Thursday, February 15th, 2007

Serius. Apa beda penulisan frasa pertama dengan kedua? Aku menemui frasa kenampakan alam dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar. Kenampakan alam di buku itu merujuk pada contoh-contoh lingkungan seperti gunung, sungai, danau, dan sebagainya. Frasa pemandangan alam (menurut Kamus Besar Bahasa indonesia), adalah keadaan alam yang indah dipandang. Kalau diperhatikan sekilas, apa frasa pertama menyatakan contoh dan frasa kedua menyatakan situasi atau keadaan? Nah, aku bener-bener bingung.

Terus, kalimat mana yang harus digunakan untuk kasus berikut ini?

Sebutkan contoh-contoh selain gunung dan sungai. Atau
Sebutkan contoh-contoh kenampakan alam lainnya. Atau
Sebutkan contoh pemandangan alam lainnya. Atau
Tidak ketiga-tiganya?

Edubuntu untuk pendidikan

Wednesday, February 7th, 2007

Akhirnya ikutan juga beli buku Edubuntu, Pedoman Praktis Linux untuk Pendidikan, yang diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat ini. Yang membuat aku penasaran adalah sinopsis dari isi yang ada di bagian belakang sampul buku. Pertama, kata pendidikan dan materi pengajaran sekolah. Hmm.

Bukan rahasia lagi kalau pengajaran komputer di hampir semua sekolah menggunakan software-software bajakan. Sudah umum. Sedikit cerita, banyak sekolah TK atau playgroup yang sudah melengkapi sekolahnya dengan lab komputer. Keren? Pastinya. Apa yang diajarkan? Itu mungkin yang ada di benak sebagian besar orang tua.

Fakta 1. Sebuah playgroup untuk anak-anak ekspatriat melengkapi sekolahnya dengan beraneka ragam CD pendidikan. Asli atau bajakan, entahlah.

Fakta 2. Sekolah SD, utamanya kelas 1 dan 2. Untuk mereka ini, biasanya pelajaran komputer lebih diarahkan ke software-software pendidikan sebelum masuk ke perkenalan dengan program Paint (bawaan dari Windows). Tidak masalah dengan program pendidikannya, tapi yang memprihatinkan adalah software pendidikan yang mereka gunakan. Mau tahu darimana? Seorang guru dengan polosnya mengatakan, mereka biasanya membeli program-program itu dari *** (tebak aja sendiri ya). Duh. Kalau buat sendiri ya masih dimaklumi lah, tapi ini.. walah.

Memang sih toh nantinya belajar program bajakan juga (Office dan teman-temannya) tapi mbok ya kalau masih bisa di minimalisir ya dihindarilah (sich.. gayanya). Aku kok lebih setuju kalau misalnya mengunduh software-software gratisan (freeware) dari internet. Banyak yang bagus. Dari belajar mouse, mewarnai, berhitung, menggambar, dan lain-lain. Kalau ini legal �kan?

Trus, apa hubungannya dengan Edubuntu? Menyikapi kondisi di atas, sepertinya bagus juga kalau kita semua mendukung Linux untuk mempopulerkan Edubuntu ini. Bravo Linux.

TIK SD

Saturday, February 3rd, 2007

Mata pelajaran apa yang hilang dari kurikulum 2006? TIK SD. Tepatnya, tidak hilang sih tapi tidak diperbaharui. Kenapa? Ada yang bilang ditunda, dikarenakan adanya kesenjangan dalam penerapan TI antar daerah. Kalo ini, rasanya sih bukan untuk tingkatan sekolah dasar saja. Level SMP dan SMA di tiap daerah juga jauh. Pada akhirnya, banyak sekolah yang membuat kurikulum sendiri untuk mata pelajaran komputer.

Untuk tingkatan SMP dan SMA mengacu pada kurikulum yang diberikan Diknas dengan ditambahi materi lain yang menunjang perkembangan TI saat ini. Bagaimana di sekolah dasar? Tidak jauh berbeda.

Siswa sekolah dasar juga tidak mau kalah dengan kakak-kakak kelasnya. Beberapa sekolah dasar sudah banyak yang mengenalkan grafik, pemrograman, dan web design untuk siswa-siswanya, yang sifatnya pengenalan dasar. Bagusnya sih, lebih mengutamakan pada penggunaan komputer sebagai alat bantu mereka dalam belajar.

KTSP

Friday, December 8th, 2006

Belum selesai para pendidik belajar mengembangkan KBK (Kurikulum berdasar kompetensi) dalam proses belajar mengajar di sekolah, ternyata pemerintah sudah mulai meluncurkan kurikulum baru yang disingkat KTSP. KTSP atau disebut juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bisik-bisik di kalangan pendidik, kurikulum baru ini sering diplesetkan menjadi ‘katesiape?’ :).

Dengan adanya KTSP ini, nantinya setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda-beda. Lho kok? Berbeda dengan KBK, materi pada tiap pelajaran diberikan secara detil. Namun, pada KTSP hanya diberikan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk tiap mata pelajaran. Singkatnya, materi dan bahan ajar diserahkan kepada sekolah dan guru yang bersangkutan.

Sebenarnya sudah banyak sekolah yang menyusun materi dan bahan ajar sendiri, untuk mata pelajaran tertentu. Untuk sekolah yang sudah terbiasa melakukan ini mungkin dengan diberlakukannya KTSP mereka tidak kesulitan. Yang jadi masalahkan, yang belum terbiasa.

Segi positifnya, tantangan untuk para pendidik sekaligus menambah PR yang tanpa KTSP pun sebenernya sudah lumayan lah ya.

Buku TIK Erlangga

Wednesday, May 31st, 2006

Bagi pembeli buku Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SD kelas 1-6 dari Penerbit Erlangga: Jika Anda membutuhkan file-file yang ada pada buku-buku tersebut, Anda dapat mendownloadnya dari web ini, yaitu dengan masuk ke halaman Erlangga.

Bila ada pertanyaan sehubungan dengan proses download, Anda dapat mengirimkan email ke saya pada alamat hindraswari@enggar.net. Saya juga menerima saran dan kritik anda dengan senang hati.

Buku-buku tersebut sudah dapat Anda peroleh di toko buku atau Anda dapat menghubungi Penerbit Erlangga.