Monthly Archives: September 2014

Pepaya

Sudah lama pengin banget menanam pepaya. Pertama, tanam di pot tapi gagal karena pohonnya kena kutu putih.
Coba semai biji pepaya di rumah Bandung. Tumbuh dan waktu balik ke Bandung ternyata si pohon udah nggak ada. Sepertinya dicabut waktu kebun dirapikan oleh mang tukang kebun. Baiklah, semai berikutnya di depan rumah. Tenyata, si akar nempel tembok rumah. Kok bisa sih? Sepertinya memang belum jodoh, maka dicabutlah si pohon pepaya itu.

Berikutnya semai lagi. Senang nih ceritanya, aku foto lah si pepaya california yang daunnya cakep itu. Lalu, upload donk. Tak disangka ada kawan yang menyarankan agar pepaya jangan ditanam di dekat tembok rumah karena akarnya bisa merusak. Duh, antara sedih dengan terpaksa akhirnya aku cabut hati-hati dengan harapan bisa tumbuh walaupun aku pindah. Namun teryata si pepaya layu dan mati. Hemm, bagaimana baiknya? Akhirnya semai lagi di belakang rumah, masih deket tembok (abis gimana lagi?) tetapi ruang di depannya masih luas untuk tumbuh si akar (begitu kira-kira perhitunganku 🙂 ). Masih ragu terus tanya si mas, jawaban dia sebenarnya sudah bisa aku tebak :). Maka aku mantapkan diri untuk membiarkan si pepaya ini tumbuh dahulu.

Nah, ini pohon pepaya ku yang entah ke sekian kali. Semoga nanti pertumbuhannya bagus dan tidak merusak benda-benda di sekitarnya. Amin.
photo (1)

Tin Green Yordan

Ini pohon tin saya, buahnya sedang ramai sekali. Kata beberapa kawan, tin green yordan memang berbeda dengan jenis tin lainnya, walaupun ditanam di dalam pot namun tidak mengurangi kuantitas buahnya.

Satu lagi, rasa tin GY ini sungguh enak, manis legit. Sayang, untuk bisa menyantap buah ini sepertinya harus bersabar beberapa bulan lagi. Buah tin memang agak lama untuk sampai pada masa matangnya.
10688076_10205021594729514_99000506156694178_o gy1

Membuat Pupuk Cair

Ceritanya saya ingin mempraktikkan ilmu dari kawan-kawan berkebun, salah satunya membuat pupuk cair organik. Saya menyukai hampir segala macam buah kecuali durian dan nangka. Nah, ada kalanya buah yang kita beli ini rusak atau kemudian tidak layak dikonsumsi. Biasanya untuk kasus seperti ini buah akhirnya dibuang. Sayang juga sih tapi untuk disantap pun tidak mungkin karena akan lebih membahayakan.

Dari kawan-kawan berkebun saya belajar bahwa sampah atau limbah sampah yang ada di dapur itu bisa loh kita manfaatkan agar lebih berguna. Salah satunya dengan mengolahnya menjadi pupuk. Jadi, buah atau sayuran pun isi perut ikan dan kepala udang yang tidak terpakai lagi itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Ada beberapa pupuk yang bisa kita hasilkan dari limbah sampah dapur, yaitu:
1. Pupuk cair dari buah
2. Pupuk cair dari sayuran hijau
3. Pupuk cair dari isi perut ikan
4. Pupuk cair dari kepala udang
5. Dan masih banyak lainnya.

Beberapa pembuatan pupuk cair yang pernah saya buat adalah pupuk cair dari sampah buah dan kepala udang. Cara pembuatan pupuk lebih lengkapnya saya baca dari blog kawan berkebun saya, mbak Evyta.

Begini langkah saya membuat pupuk cair buah.
1. Buah yang sudah tidak layak konsumsi saya kumpulkan. Biasanya saya memilih buah-buah yang lunak, seperti strawberry, jambu biji, pepaya, anggur, pisang. (Kebetulan saya penyuka strawberry, jadi buah ini lumayan sering ada di kulkas rumah..hehe).
2. Buah-buah tersebut saya tumbuk. Lalu saya masukkan ke dalam botol plastik aqua seukuran 1 liter dengan dicampur air.
3. Tumbuk gula merah dan larutkan bersama air. Masukkan ke dalam botol pertama yang telah berisi larutan buah.
4. Tutup dan diamkan selama kurang lebih seminggu. Pada saat itu, biasanya larutan akan menjadi jernih dan sisa buah yang tidak tertumbuk halus akan mengambang di permukaan botol.
5. Untuk menggunakan, tuang sedikit pupuk cair ke dalam ember dan tambahkan 1 liter air. Siramkan ke tanaman.

Langkah yang sama saya terapkan untuk pembuatan pupuk cair dari kepala udang yang baru saya buat beberapa minggu yang lalu.

Beberapa kali saya membuat pupuk cair dari buah dengan cara di atas. Saya baru sadar kalau ada bagian yang terlewatkan, yaitu menambahkan EMx atau MOL yang berfungsi untuk menguraikan dan membantu proses fermentasi.
Awalnya sempat ragu namun setelah berkonsultasi dengan mbak Evyta, saya mendapat pencerahan bahwa mikroorganisme yang dibutuhkan untuk membantu proses penguraian dapat muncul dari buah-buahan dan udang itu sendiri. Yang membedakan mungkin pada waktu yang diperlukan untuk proses penguraian yang sedikit lebih lama dibandingkan jika kita menggunakan mol atau EMx. Kelebihannya mikroba yang diperoleh benar-benar lokal dari bahan pupuk tersebut. Hasilnya pun tak kalah bagus kok 🙂

Berikut ini adalah penampakan pupuk cair dari sisa buah dan kepala udang yang saya buat.
photo 1 photo 2

Belajar hal-hal baru itu sungguh menyenangkan. Dari awalnya belajar bertanam buah dalam pot lanjut mengolah sampah dapur menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pestisida nabati dan pupuk untuk tanaman kita. Mudah-mudahan langkah ini juga bisa meringankan pekerjaan mang tukang sampah juga 🙂

update:
POC (Pupuk Cair Organik) dari kepala udang, atau isi perut ikan ini umumnya berbau kurang sedap. Untuk mengatasi hal tersebut dapat membuat resep untuk menghilangkan bau tadi. Bahan-bahannya adalah:
1/2 kg tempe
200 ml molases (gula putih)
10 biji ragi tapai
5 lt air minum

Cara pembuatan:
Blender tempe dan ragi lalu masukkan ke stoples atau botol bekas air minum. Tambahkan air dan gula ke dalam botol. Aduk lalu tutup rapat. Selanjutnya, siapkan slang dan botol yang diisi air sebagai filter dan jalan keluar gas metan reaksi fermentasi unaerob. Seminggu kemudian buka dan saring. Larutan sudah siap digunakan. Resep larutan ini juga dapat digunakan untuk menghilangkan bau sampah.

Untuk pemakaian: dosis dapat ditentukan sendiri. Boleh diencerkan, dioleskan atau pun langsung disemprotkan ke sumber bau.

Semoga berhasil 🙂

Menanam Cabe

Nah, hari ini saya mau cerita tentang pengalaman menanam cabe. Bukan cabe rawit tapi cabe hijau dan cabe merah panjang yang gendut-gendut itu. Beberapa kali saya menanam cabe tidak pernah sampai berbunga. Kalau pun bisa berbunga biasanya rontok dan tak lama pohonnya mati. Biasanya diawali dengan daunnya yang keriting-keriting lalu layu. Tapi kegagagalan tidak meruntuhkan semangat untuk mencoba menanam cabe kembali (ehem.. :)). Maka, semai biji cabe dari dapur. Setelah pohon sedikit besar saya rajin menyemprotnya dengan pestisida nabati. Pestisida nabati yang saya buat adalah air cucian beras yang diendapkan semalam. Lalu blender sereh. Campur keduanya. Hampir setiap hari saya menyiramkan pestisida nabati ke pohon cabe. Pohon cabe bertambah besar, bunganya banyak dan mulai muncul bakal cabe… hore.

Tanpa terasa beberapa cabe sudah mulai gede. Sepertinya sudah layak panen, tapi saya masih menunggu apakah si cabe ini nantinya memerah atau memang jenis cabe hijau? Soalnya saya lupa yang saya tanam ini cabe merah atau hijau ya? hehe. Saat itu sih semai keduanya, hanya saja yang akhirnya tumbuh itu entah yang versi cabe hijau atau merah.

Untuk pupuk sama dengan pohon lainnya, saya berikan bekas air cucian beras, daging dan ikan. Oya, sesekali saya berikan pupuk cair buah-buahan. Pupuk ini juga saya buat sendiri. Cara membuatnya mudah. Buah-buahan yang sudah tidak layak makan saya satukan kemudian saya tumbuk. Mustinya diblender sih supaya mudah dan cepat. Berhubung blender di rumah hanya satu dan itu khusus buat makanan yang dkonsumsi maka saya memilih menumbuknya. Selanjutnya taruh di botol plastik aqua yang besar. Campur dengan gula merah yang sudah dilarutkan. Terus diamkan selama semingggu. Untuk menggunakannya cukup ambil sedikit dan campurkan dengan air lalu siramkan ke tanaman.

Oya, menurut mbak Evyta (blognya mengenai pembuatan pupuk cair bisa dilihat di sini) seharusnya sih ditambahkan semacam mikroorganisme hidup yang berfungsi untuk menguraikan dan membantu proses fermentasi. Dan, saya lupa menambahkannya selain memang belum beli juga sih. Ya, tak apa. Namanya juga belajar, kalau salah-salah masih wajar, kan? (ngeles.. hehe).

Sekarang kalau butuh cabe satu dua tinggal tengok-tengok pot di depan rumah deh. Mau lihat tanaman cabe saya? Jangan pengin ya. Kalau pengin gampang kok, semai sekarang juga biji cabe yang ada di dapur Anda 🙂

20140810_104955 10516766_10204941885736839_5618673496037624731_n 10547706_10204941885776840_4341051512696315496_n 10556244_10204986637135596_8511328653838659598_n