Monthly Archives: November 2014

Sinopsis Interstellar

Film ini menggambarkan dunia masa depan yang tak lagi memiliki gairah atas ilmu pengetahuan karena saat itu masyarakat dihantui krisis pangan. Jagung adalah sumber makanan manusia kala itu.

Suatu hari, badai debu menerpa bumi. Cooper, seorang mantan pilot pesawat NASA menemukan pesan rahasia dalam bentuk binari pada sebaran debu di lantai kamar rak buku di rumahnya. Kode itu berisi koordinat sebuah tempat.
Murphy, putri Cooper, sering menyebut bagian rumah itu sebagai tempat berhantu karena ada fenomena aneh yang ia rasakan.

Cooper menyisiri koordinat yang ia peroleh sehingga mempertemukannya dengan Prof. Brand, Amelia Brand (putri Prof Brand), Romily (fisikawan) dan Doyle (ahli ilmu bumi). Prof. Brand berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang mendorong Cooper untuk datang ke tempat rahasia yang ternyata adalah tempat dilanjutkannya proyek NASA untuk mencari planet lain untuk keberlangsungan hidup manusia.

Prof. Brand menawarkan Cooper untuk menjadi pilot bagi proyek mereka itu. Awalnya Cooper menolak tetapi panggilan untuk menyelamatkan generasi umat manusia membuat Cooper bergabung dalam proyek perjalanan ruang angkasa tersebut.
Prof. Brand menjelaskan bahwa dalam misi sebelumnya mereka telah berhasil menemukan 3 planet pilihan: Miller, Mann, dan Edmunds (nama orang yang menemukan planet alternatif). Untuk bisa mencapai planet tadi mereka menggunakan lubang cacing yang berfungsi sebagai jalan pintas. Lubang cacing atau wormhole itu terletak di orbit saturnus. Dan diperkirakan untuk mencapai wormhole itu diperlukan waktu 2 tahun.

Prof. Brand memberikan 2 rencana. Rencana A adalah menemukan planet lalu kembali ke bumi dan membawa umat manusia ke planet tersebut. Rencana B menemukan planet alternatif, menyebarkan benih ras manusia pada planet tersebut dan kembali membentuk kehidupan baru di planet baru.

Dibawah ini adalah diagram untuk memahami film interstellar. diambil dari blognya Kukuhtw di sini.
interstellar-diagram-6772_o

Bagaimana kelanjutan film dari para awak ruang angkasa melintasi ruang, waktu bahkan dimensi kelima? Silakan menonton sendiri ya :).

Sekarang, mari kita lihat bagian-bagian yang menarik dari film ini.

1. Paradoks waktu
2. Lubang cacing (wormhole)
3. Black hole (lubang hitam)
4. Semesta paralel

Dalam salah satu adegan dari perjalanan waktu ini ditayangkan ketika para awak pesawat ruang angkasa mempertanyakan siapa yang meletakkan lubang cacing (di sebuah tempat). Lalu, salah satu mengatakan, “mereka”.
Bisa jadi kita memiliki pertanyaan yang sama juga, “mereka” siapa? Makhluk alien?

Paradok Waktu.

‘Mereka” bisa jadi adalah anak keturunan umat manusia yang telah berhasil diselamatkan oleh para awak NASA ini dalam misi pencarian planet alternatif. Anak keturunan umat manusia ini kemudian membangun peradaban baru dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju. Dengan demikian hal-hal yang dulunya belum mampu diciptakan atau ditemukan oleh generasi awak pesawat NASA mampu diciptakan oleh anak keturunan mereka. Dengan cara itu maka anak keturunan ini juga yang barangkali menyelamatkan generasi pendahulunya dengan memindahkan lubang cacing untuk membawa pulang awak NASA.

Bingung? Nah, di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari adanya perjalanan waktu. Perjalanan waktu adalah buah pikir ilmuwan dari Inggris, Stephen Hawking. Menurut Hawking, konsep perjalanan waktu memungkinkan untuk dilakukan. Hanya saja, perjalanan waktu tidak memungkinkan untuk mempertemukan dua buah entitas yang sama. Entitas di sini bisa manusia, objek atau apa saja yang dikategorikan sebagai materi. Larangan mempertemukan dua buah entitas itu yang disebut sebagai Paradoks.

Sederhananya, waktu tidak bergerak mundur. Misal, kamu pergi ke masa lalu, ketika Ayah Ibumu berpacaran. Lalu kamu memprovokasi agar Ayah dan Ibumu putus lalu mereka tidak menikah di kemudian hari. Lalu pertanyaannya, kamu anak siapa?

Rumit? Ya, perjalanan waktu bukanlah konsep pemikiran sederhana. Akan lebih masuk akal jika perjalanan waktu untuk melompat ke masa yang akan datang. Bukan masa depan sungguhan akan tetapi memanipulasi waktu seolah-olah melompat ke masa depan.

Waktu adalah relatif. Penentuan waktu ditentukan oleh banyak faktor, seperti gravitasi. Itu sebabnya waktu di planet bumi berbeda dengan di planet lainnya. Waktu di luar angkasa memiliki rentang yang lebih pendek daripada di bumi karena gravitasi di luar angkasa lebih rendah. Itu juga sebabnya orang yang ada di luar angkasa mempunyai umur yang sedikit lebih panjang daripada di bumi. Di film , Cooper digambarkan masih tampak muda ketika bertemu dengan putrinya yang telah menua.

Cooper beserta awak NASA lainnya membutuhkan waktu bertahun-tahun (dalam sudut pandang pengamat di bumi) dalam pencarian planet alternatif. Sementara bagi Cooper dan kawan-kawan mereka pergi tidak lama karena menggunakan bantuan lubang cacing dan lubang hitam (untuk memperpendek jarak) agar dapat bergerak dengan kecepatan luar biasa tinggi untuk sampai kepada planet-planet alternatif yang berjarak ribuan kilometer itu.

Hem, sepertinya pertanyaan di atas mengenai siapa ‘mereka’ jadi masuk akal ya? hehe.
Mereka bukan alien. Mereka bisa jadi adalah anak keturunan umat manusia juga dengan perkembangan teknologinya yang semakin maju di abad kesekian. Sementara bagi Cooper dan awak NASA barangkali mereka pergi tidak lebih dari 2-3jam saja. Nah, hal ini dipertegas dalam adegan film ketika para awak sampai di planet Miller dan mendapati kepingan pesawat miller yang masih tampak utuh. Dalam perhitungan waktu di bumi, peristiwa itu sudah lama terjadi, tetapi mengikuti waktu di planet tersebut, ternyata kecelakaan itu terjadi belum lama. Barangkali sekian menit sebelum pesawat Cooper mendarat di planet Miller.

Berikutnya, bagaimana menjelaskan fenomena getaran atau pun pesan-pesan yang dirasakan oleh Cooper dan sang putri? Landasan pemikiran apa yang bisa menjelaskan hal tersebut? Semesta paralel, kah?

Apakah alam semesta kita ini adalah satu-satunya di angkasa yang hingar bingar?
Beberapa literatur mengatakan alam semesta yang kita tinggali ini mungkin bukan satu-satunya di luar sana. Boleh jadi. alam semesta kita hanya salah satu bagian kecil dari jumlah tak terbatas alam semesta yang ada. Lalu, dalam alam semesta yang tak terbatas itu, bukankah tidak mungkin juga ada kehidupan lain yang sedang berlangsung selain di galaksi kita?

Di samping kehidupan yang kita kenal dan kita jalani sekarang, ada satu atau lebih kehidupan lain yang juga berjalan secara bersamaan dalam dunia paralel.

Ahli fisika Dr. Michio Kaku menggambarkan keberadaan semesta paralel seperti ini: Ada daerah luar kolam bagi seekor ikan yang tinggal di dalam sebuah kolam. Ikan tersebut tidak bisa melihat daerah luar kolam karena keterbatasan yang ia miliki. Demikian halnya dengan manusia, manusia belum bisa melihat alam semesta lainnya, barangkali kemajuan teknologinya belum sampai ke sana. Walau demikian, si ikan tau bahwa ada kehidupan lain di luar kolam dari getaran yang ia rasakan melalui gelombang di permukaan air kolam akibat tetesan air hujan. Getaran yang ia rasakan itu adalah gravitasi dan cahaya dari alam semesta lain.

Begitu pun yang dirasakan oleh Murphy dan sang Ayah, Cooper. Cooper berusaha mengirim pesan kepada putrinya yang berada di semesta lain, ketika ia sendiri terseret ke dalam lubang hitam.

Review saya di atas mungkin juga banyak ngawurnya, karena saya sendiri hanya menjadi penyuka sains awam. Mungkin juga tertular partner yang baik koleksi bacaan atau pun dongengannya aneh-aneh :). Bagi saya, sains selalu menarik, membuka pintu bagi ilmu pengetahuan baru dan membuka tabir rahasia semesta yang sangat luas ini.

Film dengan durasi hampir 3 jam ini memang membuat Anda tak bisa mengalihkan perhatian, bahkan sekedar untuk menyantap cemilan di dalam bioskop. Rasanya sayang melewatkan setiap adegan di dalamnya :).

Berikut adalah trailer dari film Interstellar.

BBM Naik

Tadi malam pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan untuk mencabut subsidi BBM yang berdampak kepada kenaikan harga BBM. Keputusan ini tentu saja ditanggapi dengan beragam komentar, ada yang setuju dan lebih banyak yang menolak plus juga ditambahi dengan hujatan kiri-kanan serta prasangka yang tak jelas ujungnya :).

Saya tidak ingin menjelaskan posisi keberpihakan saya. Saya hanya ingin bercerita bahwa tadi malam saya berdiskusi dengan partner. Kami berbicara tentang harga minyak dunia yang konon menurun. Lalu, mengapa BBM kita dinaikkan jika harga minyak dunia turun?

Jadi, begini, partner mengibaratkan seperti kita naik gunung. Ketika kita naik gunung maka jalannya akan menaik, bukan? Tetapi waktu kita mendaki itu ada kalanya kita harus naik atau turun untuk bisa mencapai puncak gunung. Nah, begitu juga minyak. Secara global harga minyak naik dari tahun ke tahun (tidak mungkin turun. Kenapa tidak mungkin? Lihat penjabarannya di bawah nanti ya). Tetapi dalam proses kenaikannya terkadang ada turun dan naik. Kondisi turun ini lah yang dimaksud saat ini.

Harga minyak selalu naik karena sumber daya alam kita semakin lama semakin sedikit sementara kebutuhan kita semakin besar (Itu sebabnya harga minyak dunia tidak mungkin turun).

Kita terus saja mengebor minyak, mencari daerah-daerah baru dengan cadangan minyak di bawahnya, lalu meninggalkan ketika wilayah itu tidak lagi menguntungkan. Tidakkah kita menyadari bahwa kita telah merusak planet kita sendiri? Tempat kita dan anak cucu kita tinggal?

Di buku Dunia Anna digambarkan para pengungsi dari Arab yang meninggalkan tanah kelahiran mereka yang telah menjadi kering, tandus dan panas.
“Minyak bumi telah menjadi bencana buat negaraku. Kami menjadi kaya dengan cepat, tapi sekarang kami malah menjadi miskin. Bagaimana bisa tetap kaya kalau kami tidak lagi punya negara yang dapat ditinggali?” (halaman 77)

Apa hubungan minyak dengan lingkungan hidup? Kutipan-kutipan dari buku Dunia Anna ini mungkin bisa memberi sedikit sudut pandang yang berbeda mengenai perlu adanya pencabutan subsidi BBM. Walaupun akan lebih bagus jika membaca bukunya langsung. Dengan demikian kita bisa merenungkannya lebih dalam.

“Dulu ada yang berpendapat bahwa mencairnya es di Kutub Utara tidak perlu dikhawatirkan… Toh, tidak ada orang yang main ski atau seluncuran di sana … Lagi pula di bawah itu lapisan es itu ada cadangan minyak yang besar … dan Norwegia berhak untuk mengekstraksi minyak bumi sampai ke wilayah Kutub Utara. Kenapa sih, harus ribut tentang kelangsungan hidup beruang kutub? Kan, sudah cukup kita menyelamatkan beruang panda? Namun, para burung unta iklim ini tidak mengerti bahwa kalau es mencair … maka itu tandanya keseluruhan bumi memanas.” (halaman 88)

“Jika seluruh cadangan minyak, batu bara, dan gas bumi yang masih tersimpan dalam planet ini dipompa keluar dan disebarkan ke atmosfer, mungkin peradaban kita tidak akan bisa bertahan.” (halaman 67 )

Anna terus berdiri di depan jendela dan merenungkan apa yang telah dibacanya tentang minyak bumi. Dia mencatat angka-angka yang hampir tak terperikan.

Satu barel minyak bumi sama dengan 159 liter dan pada saat ini bisa dijual kira-kira seharga seratus dollar, atau 600 kroner. Satu barel minyak ini menghasilkan energi sebanyak 10.000 jam kerja manusia. Di negeri ini angka itu sebanding dengan enam tahun bekerja. Dengan gaji tahunan sebesar 350.000 kroner, itu berarti total pengeluarannya 2.1 juta kroner dalam bentuk gaji. Jadi, satu barel minyak bumi menghasilkan energi yang sebanding dengan lebih dari dua juta kroner bila harus digantikan dengan kerja manual. Namun, rata-rata satu orang Amerika menggunakan 25 barel minyak per tahun. Ini sebanding dengan 150 tahun kerja dan ini kira-kira berarti juga rata-rata setiap orang Amerika menghabiskan seratus lima puluh “budak energi” yang digunakan untuk menjalankan semua mobil dan mesin, semua kulkas dan AC, seluruh pesawat terbang, pabrik, pertanian, dan mesin-mesin hiburan … Dan ini baru bicara tentang minyak bumi saja! Padahal, masih ada batu bara dan gas.

Anna bertanya pada diri sendiri mungkinkah sebenarnya minyak bumi itu sebuah sumber energi yang dihargai terlampau murah. ………

“Kok, bisa, ya sumber energi yang satu ini jadi sebegitu murahnya? Anna mencoba mencari jawabannya sendiri. Minyak jadi sebegitu murahnya karena tidak ada yang memilikinya. Tidak ada pihak yang bisa disebut pemilik minyak bumi, sehingga tidak ada yang menentukan harganya. Yang ada tinggal memompa saja!
Minyak bumi itu umurnya jutaan tahun. Pada dasarnya itu adalah sebuah simpanan dari jutaan tahun energi matahari. Namun, karena tidak ada yang memilikinya, ia bisa saja dihabiskan begitu saja. Satu, dua, tiga, dan tamatlah riwayatnya!

Memang benar apa yang dikatakan para politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun, banyak juga orang-orang yang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. …

Apakah dengan cara ini orang tidak menghabiskan sumber daya alam yang seharusnya bisa digunakan generasi selanjutnya? ….
Apakah dia sedang menjadi saksi sebuah perampokan besar-besaran terhadap generasi di masa depan?
Tidakkah pembakaran berbagai sumber daya fosil ini dalam waktu singkat juga akan memusnahkan berbagai cadangan sumber daya alam yang dapat diperbarui? Tidakkah pesta minyak tak bermoral ini menjadi ancaman signifikan bagi sumber penghidupan tanaman, hewan, dan manusia? Dan bukankah penghancuran alam ini merupakan sebuah perampokan atas mereka yang seharusnya mewarisi Bumi ini?

**

Minggu kemarin saya menonton Interstellar. Entah mengapa saya melihat keterkaitan kisah di film dengan Dunia Anna. Di film itu digambarkan dunia masa depan yang tak lagi punya gairah atas ilmu pengetahuan karena saat itu masyarakat dihantui krisis pangan. Jagung yang menjadi sumber makanan satu-satunya gagal panen oleh badai debu. Bumi tak lagi ramah. Pada saatnya jagung pun akan menghilang. Kondisi yang ada pada film itu bukanlah situasi masa lalu ketika teknologi belum ditemukan tetapi sebaliknya, bumi pernah memiliki masa gemilang namun perlahan hancur oleh keserakahan manusia.

Dunia Anna pun menggambarkan dunia masa depan yang barangkali maju dengan teknologinya tetapi dengan situasi bumi yang tak lagi ramah. Kelaparan ada dimana-mana. Cuaca panas dan kering sementara di belahan lainnya dengan dingin menggigit dan terpaan badai sementara sumber daya alam yang tersisa semakin sedikit. Perlahan manusia pun akan menghilang dari bumi ini.

Dan, menyikapi keputusan pemerintah menaikkan harga BBM saya memilih untuk tidak menanggapi dengan kesinisan. Alasan di atas itulah yang membuat saya mencoba memahami bahwa Bumi ini bukan hanya milik kita, tetapi kita bertanggungjawab kepada generasi berikutnya.

Barangkali juga mencairnya es di kutub, pemanasan global tidak membuat kita cukup peduli dan terus saja merusak planet ini. Dengan adanya kenaikan BBM barangkali bisa menyadarkan kita untuk mau melakukan penghematan, berjalan kaki jika jarak yang kita tempuh tidak jauh, menggunakan sepeda, apapun. Mungkin, ya , mungkin, Tuhan sekali lagi ingin mengingatkan kita tentang masa depan planet ini.

Bumi adalah planet yang Tuhan peruntukkan untuk kita bertumbuh. Mari kita menjaganya bersama-sama untuk anak cucu kita kelak. Kita tidak boleh menghabiskannya begitu saja tanpa menyisakan apapun untuk mereka.

Mengutip kata Jostein, Kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk daripada saat kita tinggali.

Apa Kabar Tontonan TV Kita?

Sudah lama saya puasa menonton TV. Berhenti menonton televisi tanpa sebuah niat khusus, terjadi begitu saja. Barangkali karena bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana lalu lintas begitu padat dan jarak tempuh yang tidak singkat, memang menghabiskan energi. Sampai di rumah badan sudah letih. Kalau harus ditambahi dengan tontonan sinetron yang isinya orang teriak-teriak itu bukan menghibur hati malah sebaliknya, pengin melempar sandal ke televisi :).

Maka, hubungan saya dengan televisi pun berakhir perlahan. Menonton televisi hanya di tempat-tempat tertentu, seperti stasiun kereta api, bandara, rumah saudara, dan lain-lain. Selintas lewat :). Sekarang, untuk berita-berita penting saya lebih mengandalkan TV streaming.

Maka, wajar juga kalau saya tidak update dengan kabar-kabar infotainment dan acara hiburan di TV. Sebaliknya, berita kasak kusuk tingkah laku artis malah saya peroleh dari status kawan-kawan di sosial media. Tetapi, saya hampir tidak pernah membuka link yang mereka sertakan di dalam berita itu. Pertama, keamanan. Saya belajar untuk tidak selalu ‘ingin tahu’ dengan mengeklik sembarang link. Apalagi ada masa virus dan spyware menyebar yang mengakibatkan wall sosial media milik kita ditempeli video atau gambar yang tidak pantas. Kedua, malas. Saya tak terlalu berminat mengikuti kehidupan para artis. Ini sebenarnya lebih ke arah pengereman diri pribadi saja. Saya khawatir bakal tambah nyinyir kalau membaca berita tentang mereka :). Sedangkan saya sedang belajar untuk tidak dengan mudah menghakimi orang lain. Sulit loh itu. Sungguh.

Namun ada kalanya pernyataan selintas di status kawan membuat saya gregetan juga ingin berkomentar. Halah :).

Saya tidak tahu seperti apa acara televisi saat ini. Tetapi saya percaya bahwa tontonan pun seperti halnya bacaan akan membentuk cara kita berpikir. Pembentukan karakter kita pun tidak lepas dari pengaruh keduanya, yang kita lihat dan yang kita baca.

Nah, kebetulan beberapa hari yang lalu saya melihat film televisi jaman dahulu di youtube. Mulanya saya mencari film Neraca Kasih yang dibintangi Tuti Indra Malaon. Konon ini film bagus. Dari film Neraca Kasih saya lalu menenukan tak sengaja film yang dibintangi oleh Yessy Gusman dan Rano Karno (dua artis paling top di jamannya) yang berjudul Buah Terlarang. Hm, memang agak gimana gitu judulnya ya? 🙂

Filmnya tak penuh, tapi ada beberapa hal menarik yang saya amati dari film lama ini.

Dikisahkan, sepasang remaja SMA yang saling jatuh cinta. Singkat cerita, terjadi kehamilan. Bagaimana sikap orang tua, anak, dan orang-orang disekeliling mereka menyikapi peristiwa tersebut? Ini yang menarik.

Dalam sebuah adegan, ditampilkan bagaimana si Ibu perempuan berkomunikasi dengan sang putri. Bagaimana si Ibu menghargai privasi anaknya dengan meminta asisten rumah tangganya membuat bubur dan segera menutup pintu kamar agar mereka berdua bisa berkomunikasi. Walaupun kaget dan marah dengan pengakuan putrinya tetapi si Ibu tampak bisa menahan emosinya. Kalau di sinetron sekarang barangkali si Ibu sudah teriak-teriak histeris (semoga masih dengan kalimat yang santun ya? 🙂 ) sambil tak lupa mata melotot dan urat wajah menegang. Lalu, sang anak pun tak kalah galak. Balik menyalahkan Ibunya dan membanting pintu, pergi. Tinggal deh si Ibu menangis sesengukan. Drama banget ya? (Jadi bertanya-tanya, apakah kepandaian masyarakat kita ber-drama di dalam dunia nyata ini diwarisi dari tontonan yang seperti ini ya?).

Adegan lainnya dalam film lama itu adalah ketika si Ibu mencari waktu yang tepat untuk bisa menceritakan kehamilan putri mereka kepada sang suami. Ada juga diceritakan bagaimana para Guru berdebat untuk menyelesaikan permasalahan yang bisa mencoreng nama sekolah. Para Guru di film ini digambarkan sebagai orang-orang pintar yang terdidik. Perhatikan bagaimana mereka berdiskusi dan sampai kepada keputusan akhir.

Beberapa kutipan dialog yang saya suka dari film ini.

“Memberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah juga berarti merupakan hukuman yang berat. Dia diuji untuk menghadapi kenyataan dan lingkungannya. Hukuman tidak harus berupa penistaan. Senyuman pun bisa merupakan hukuman.”

“… Pendidikan tidaklah sekedar memperoleh ijasah tetapi mempersiapkan anak didik kita menghadapi masyarakatnya kelak.”

Ibu si anak laki-laki: “… Tampaknya dia putus asa dan tidak sanggup menghadapi Guru dan teman-temannya.” (ketika si Ibu menceritakan bahwa anak laki-lakinya tidak ingin melanjutkan sekolah)

Wali kelas: “… Tetapi ini merupakan ujian bagi dia untuk menghadapi kenyataan. Dan itu memang pahit tapi ini sangat perlu untuk membuktikan bahwa perbuatannya tidak dilakukan iseng-iseng.”

Tanpa harus berteriak kasar dan melotot serta tegangan syaraf lainnya toh pesan film ini pun tetap sampai, bahwa apa yang kedua remaja itu lakukan adalah hal yang salah, yang membuat orang tua mereka marah dan kecewa. Namun, itu lah konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Keduanya harus berani belajar untuk menghadapi kehidupan dan bertanggungjawab terhadap pilihan mereka.

Jaman memang berubah, tapi nilai-nilai moral dan budi pekerti tak selayaknya tergerus oleh kemajuan jaman.

Yang berminat melihat trailernya silakan ke sini: https://www.youtube.com/watch?v=pmzy5ebC810

Nanas

Nanas atau ananas adalah tanaman buah tropis. Tanaman ini berasal dari Brasil. Pohon nanas dapat ditanam di ketinggian 1-1500 m dpl dan membutuhkan asupan matahari yang cukup. Pohon nanas berperawakan rendah, tidak tinggi seperti umumnya tanaman. Pohon nanas memiliki daun yang panjang dengan duri-duri tajam di tepi daunnya. Rasa buah nanas asam sampai manis. Selain dapat dikonsumsi langsung, buah nanas juga dapat dibuat menjadi selai atau sirop.

Buah nanas dipercaya dapat mengurangi jerawat dan meningkatkan pencernaan. Berbagai kelebihan buah nanas lainnya dapat ditelusuri di internet.

Nah, entah kapan tepatnya, saya membeli buah nanas. Saya membeli buah ini karena bentuknya yang unik, kecil dengan daun panjang bergerigi, langsing dan tipis. Pokoknya cantik deh :). Saya lupa nama buahnya, kalau tidak salah nanas madu hias atau nanas hias. Entahlah. Selesai mengupas nanas, mahkota nanas saya tancapkan ke dalam pot. Karena awalnya diniatkan sebagai hiasan maka pot kecil menjadi pilihan. Nyaris tanpa perawatan khusus, pohon nanas ini tumbuh dengan daun-daun yang semakin panjang dan rimbun. Durinya sangat tajam.

Sampai suatu ketika, saya terkejut dengan munculnya bunga di tampuk pohon nanas. Saya sama sekali tidak menyangka pohon nanas ini akan berbuah, apalagi di dalam pot ukuran kecil. Senang? Iya donk, tapi juga bingung bagaimana memindahkan si pohon ke dalam pot yang lebih besar agar buahnya bisa tumbuh sempurna. Pengalaman tertusuk duri membuat saya mengurungkan niat untuk memindahkan si nanas. Sementara ini, sesuai saran kawan-kawan pekebun, saya berikan nutrisi hidroponik atau air bekas cucian beras, daging dan ikan sebagai gizi tambahannya. Semoga si nanas tumbuh sehat dan bisa dipanen. Amin.

Ini penampakan pohon nanas saya. Btw, ada yang tau nama jenis nanas ini?
photo 1 (2) photo 3 (1) nanas