Category Archives: Uncategorized

Tahukah Engkau Apa Arti Takwa?

Suatu hari, Umar bertanya kepada Ubay ibn Ka’ab,”Tahukah engkau apa arti takwa?”
Ubay balik bertanya,”Tidak pernahkah engkau melewati jalan berduri?”
“Tentu pernah,” jawab Umar
Ubay bertanya lagi,”Apa yang engkau lakukan?”
Umar menjawab,”Kusingkirkan duri itu. Jika tidak bisa, aku akan menghindari duri itu dan terus berjalan.”
“Itulah takwa,” jelas Ubay

(sumber: The Great of Two Umars, halaman 159. Fuad Abdurrahman)

Doa Ketika Kamu Bersedih

10931269_10206020931192301_2660029374173153936_n

Kenang-kenangan dari seorang gadis Qatar di perjalanan umrah kemarin. Dia bilang ini bacaan doa kalau kita sedang sedih.

Bagaimana membacanya? Baca huruf Arab yang biasa saya pun masih tertatih-tatih. Lebih sering membaca latin dan terjemahannya. Solusinya, pertama tanya Ibu. Kedua, coba share di sosial media ah :).

Nah, akhirnya mendapat kata kunci dari rekan di sosial media. Saya bagi di sini semoga juga bisa bermanfaat.

La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin.

Tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku ini sudah berlaku zalim… (Doa Nabi Yunus).

Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka.

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

Banyak sekali doa yang menenangkan di dalam al-qur’an. Silakan dibaca-baca 🙂

Oya, sebenarnya ada satu lagi doa yang dia berikan, yaitu bacaan doa untuk orang meninggal. Sayangnya, doa itu terjatuh entah dimana.

Baru terlintas di benak saya hari ini, mengapa 2 bacaan doa itu yang dia berikan kepada saya. Atau barangkali dia memang menyimpan bacaan doa-doa itu di tas nya. Saya tidak tahu persis isi bacaan doa kematian yang ia berikan. Tetapi saya pernah mengingat kalimat yang menyerukan agar manusia mengingat mati. Dari hasil browsing:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah menjelaskan perihal hadits di atas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian.”[3]
sumber: http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati.html

Doa kematian dan doa penghilang kesedihan, keduanya seperti penawar bagi manusia di dalam menjalani kehidupan.

Banyak ayat yang menuliskan agar kita jangan bersedih hati. Bersedih hati boleh-boleh saja, tetapi tidak perlu berlebihan. Mungkin ya, kalau kita terlalu berlebihan ketika bersedih hati maka godaan setan akan rentan membelengu diri kita. Lagi pula mana mungkin selama hidup tidak ada masalah. Pasti saja ada. Tetapi dengan bacaan doa tadi semoga Allah meringankan kesedihan dan kekecewaan kita.

Pun demikian mengingat mati semoga menyadarkan kita untuk senantiasa berbuat kebaikan serta menghindari perbuatan buruk (maksiat) sebagai bekal kita menghadap-Nya kelak.

Ah, terima kasih atas bacaan doa nya ya gadis Qatar. Allah berkomunikasi kepada saya melalui perantara dirimu. Terima kasih atas obrolan kita yang menarik pagi itu.

Akal Pikiran

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa karena Allah menganugerahi mereka dengan akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu digunakan untuk berpikir mana yang baik dan buruk. Akal dan pikiran berkembang maksimal dengan bertambahnya ilmu. Jadi, kalau mau akal dan pikiran kita bertumbuh baik jangan lupakan asupan ilmu yang bisa kita peroleh dari membaca buku-buku yang bergizi, dan lain-lain.

Sayangnya, manusia seringkali mengabaikan anugerah Allah yang sangat besar ini. Kita masih lebih suka tanpa sadar hidup semaunya sendiri, membiarkan kebodohan dan kegelapan merajai hidup kita sendiri. Kita sering mengatasnamakan kebebasan untuk kepentingan diri sendiri, membawa-bawa Tuhan juga untuk ke-ego-an diri kita sendiri, dan lainnya.

Manusia hidup di masyarakat. Tidak ada yang namanya bebas sesuka-sukanya sendiri. Jangan-jangan kalau kita berkelit dengan kalimat itu akan ada orang yang bilang, hidup di hutan aja sana. Eh, siapa bilang di hutan kamu bisa seenaknya sendiri? Di hutan pun ada aturan, jangan sampai nanti dimarahi sama si raja hutan :). Atau kalau masih mau nekad dengan pemikiran bebas nya itu ya jangan menyalahkan makhluk-makhluk hutan kalau nanti kamu menjadi menu santapan mereka.

Dimanapun manusia hidup, berinteraksi sosial dengan makhluk hidup lain ada pagar yang bernama penghomatan, penghargaan. Sikap menghormati, menghargai orang lain semustinya menjadi nilai-nilai yang diperhatikan oleh semua orang yang ingin hidup damai di dunia. Sederhananya sih, perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Sederhana saja, bukan?

Jangan berkedok kebebasan untuk berkreasi dengan mengabaikan pagar, jangan membawa nama Tuhan untuk memuaskan hasrat diri sendiri. Tidak ada yang namanya kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang benar (sekali lagi, gunakan akal dan pikiran untuk mengolah semua informasi dengan baik) adalah kebebasan yang bertanggungjawab, kebebasan yang dilandasi dengan penghormatan dan penghargaan. Jangan mengatasnamakan kebebasan untuk perbuatan-perbuatan yang kita tahu tidak sepantasnya dilakukan (sekali lagi, tanya akal dan pikiran kita untuk setiap tindakan yang ingin kita lakukan).

Sinopsis Interstellar

Film ini menggambarkan dunia masa depan yang tak lagi memiliki gairah atas ilmu pengetahuan karena saat itu masyarakat dihantui krisis pangan. Jagung adalah sumber makanan manusia kala itu.

Suatu hari, badai debu menerpa bumi. Cooper, seorang mantan pilot pesawat NASA menemukan pesan rahasia dalam bentuk binari pada sebaran debu di lantai kamar rak buku di rumahnya. Kode itu berisi koordinat sebuah tempat.
Murphy, putri Cooper, sering menyebut bagian rumah itu sebagai tempat berhantu karena ada fenomena aneh yang ia rasakan.

Cooper menyisiri koordinat yang ia peroleh sehingga mempertemukannya dengan Prof. Brand, Amelia Brand (putri Prof Brand), Romily (fisikawan) dan Doyle (ahli ilmu bumi). Prof. Brand berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang mendorong Cooper untuk datang ke tempat rahasia yang ternyata adalah tempat dilanjutkannya proyek NASA untuk mencari planet lain untuk keberlangsungan hidup manusia.

Prof. Brand menawarkan Cooper untuk menjadi pilot bagi proyek mereka itu. Awalnya Cooper menolak tetapi panggilan untuk menyelamatkan generasi umat manusia membuat Cooper bergabung dalam proyek perjalanan ruang angkasa tersebut.
Prof. Brand menjelaskan bahwa dalam misi sebelumnya mereka telah berhasil menemukan 3 planet pilihan: Miller, Mann, dan Edmunds (nama orang yang menemukan planet alternatif). Untuk bisa mencapai planet tadi mereka menggunakan lubang cacing yang berfungsi sebagai jalan pintas. Lubang cacing atau wormhole itu terletak di orbit saturnus. Dan diperkirakan untuk mencapai wormhole itu diperlukan waktu 2 tahun.

Prof. Brand memberikan 2 rencana. Rencana A adalah menemukan planet lalu kembali ke bumi dan membawa umat manusia ke planet tersebut. Rencana B menemukan planet alternatif, menyebarkan benih ras manusia pada planet tersebut dan kembali membentuk kehidupan baru di planet baru.

Dibawah ini adalah diagram untuk memahami film interstellar. diambil dari blognya Kukuhtw di sini.
interstellar-diagram-6772_o

Bagaimana kelanjutan film dari para awak ruang angkasa melintasi ruang, waktu bahkan dimensi kelima? Silakan menonton sendiri ya :).

Sekarang, mari kita lihat bagian-bagian yang menarik dari film ini.

1. Paradoks waktu
2. Lubang cacing (wormhole)
3. Black hole (lubang hitam)
4. Semesta paralel

Dalam salah satu adegan dari perjalanan waktu ini ditayangkan ketika para awak pesawat ruang angkasa mempertanyakan siapa yang meletakkan lubang cacing (di sebuah tempat). Lalu, salah satu mengatakan, “mereka”.
Bisa jadi kita memiliki pertanyaan yang sama juga, “mereka” siapa? Makhluk alien?

Paradok Waktu.

‘Mereka” bisa jadi adalah anak keturunan umat manusia yang telah berhasil diselamatkan oleh para awak NASA ini dalam misi pencarian planet alternatif. Anak keturunan umat manusia ini kemudian membangun peradaban baru dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju. Dengan demikian hal-hal yang dulunya belum mampu diciptakan atau ditemukan oleh generasi awak pesawat NASA mampu diciptakan oleh anak keturunan mereka. Dengan cara itu maka anak keturunan ini juga yang barangkali menyelamatkan generasi pendahulunya dengan memindahkan lubang cacing untuk membawa pulang awak NASA.

Bingung? Nah, di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari adanya perjalanan waktu. Perjalanan waktu adalah buah pikir ilmuwan dari Inggris, Stephen Hawking. Menurut Hawking, konsep perjalanan waktu memungkinkan untuk dilakukan. Hanya saja, perjalanan waktu tidak memungkinkan untuk mempertemukan dua buah entitas yang sama. Entitas di sini bisa manusia, objek atau apa saja yang dikategorikan sebagai materi. Larangan mempertemukan dua buah entitas itu yang disebut sebagai Paradoks.

Sederhananya, waktu tidak bergerak mundur. Misal, kamu pergi ke masa lalu, ketika Ayah Ibumu berpacaran. Lalu kamu memprovokasi agar Ayah dan Ibumu putus lalu mereka tidak menikah di kemudian hari. Lalu pertanyaannya, kamu anak siapa?

Rumit? Ya, perjalanan waktu bukanlah konsep pemikiran sederhana. Akan lebih masuk akal jika perjalanan waktu untuk melompat ke masa yang akan datang. Bukan masa depan sungguhan akan tetapi memanipulasi waktu seolah-olah melompat ke masa depan.

Waktu adalah relatif. Penentuan waktu ditentukan oleh banyak faktor, seperti gravitasi. Itu sebabnya waktu di planet bumi berbeda dengan di planet lainnya. Waktu di luar angkasa memiliki rentang yang lebih pendek daripada di bumi karena gravitasi di luar angkasa lebih rendah. Itu juga sebabnya orang yang ada di luar angkasa mempunyai umur yang sedikit lebih panjang daripada di bumi. Di film , Cooper digambarkan masih tampak muda ketika bertemu dengan putrinya yang telah menua.

Cooper beserta awak NASA lainnya membutuhkan waktu bertahun-tahun (dalam sudut pandang pengamat di bumi) dalam pencarian planet alternatif. Sementara bagi Cooper dan kawan-kawan mereka pergi tidak lama karena menggunakan bantuan lubang cacing dan lubang hitam (untuk memperpendek jarak) agar dapat bergerak dengan kecepatan luar biasa tinggi untuk sampai kepada planet-planet alternatif yang berjarak ribuan kilometer itu.

Hem, sepertinya pertanyaan di atas mengenai siapa ‘mereka’ jadi masuk akal ya? hehe.
Mereka bukan alien. Mereka bisa jadi adalah anak keturunan umat manusia juga dengan perkembangan teknologinya yang semakin maju di abad kesekian. Sementara bagi Cooper dan awak NASA barangkali mereka pergi tidak lebih dari 2-3jam saja. Nah, hal ini dipertegas dalam adegan film ketika para awak sampai di planet Miller dan mendapati kepingan pesawat miller yang masih tampak utuh. Dalam perhitungan waktu di bumi, peristiwa itu sudah lama terjadi, tetapi mengikuti waktu di planet tersebut, ternyata kecelakaan itu terjadi belum lama. Barangkali sekian menit sebelum pesawat Cooper mendarat di planet Miller.

Berikutnya, bagaimana menjelaskan fenomena getaran atau pun pesan-pesan yang dirasakan oleh Cooper dan sang putri? Landasan pemikiran apa yang bisa menjelaskan hal tersebut? Semesta paralel, kah?

Apakah alam semesta kita ini adalah satu-satunya di angkasa yang hingar bingar?
Beberapa literatur mengatakan alam semesta yang kita tinggali ini mungkin bukan satu-satunya di luar sana. Boleh jadi. alam semesta kita hanya salah satu bagian kecil dari jumlah tak terbatas alam semesta yang ada. Lalu, dalam alam semesta yang tak terbatas itu, bukankah tidak mungkin juga ada kehidupan lain yang sedang berlangsung selain di galaksi kita?

Di samping kehidupan yang kita kenal dan kita jalani sekarang, ada satu atau lebih kehidupan lain yang juga berjalan secara bersamaan dalam dunia paralel.

Ahli fisika Dr. Michio Kaku menggambarkan keberadaan semesta paralel seperti ini: Ada daerah luar kolam bagi seekor ikan yang tinggal di dalam sebuah kolam. Ikan tersebut tidak bisa melihat daerah luar kolam karena keterbatasan yang ia miliki. Demikian halnya dengan manusia, manusia belum bisa melihat alam semesta lainnya, barangkali kemajuan teknologinya belum sampai ke sana. Walau demikian, si ikan tau bahwa ada kehidupan lain di luar kolam dari getaran yang ia rasakan melalui gelombang di permukaan air kolam akibat tetesan air hujan. Getaran yang ia rasakan itu adalah gravitasi dan cahaya dari alam semesta lain.

Begitu pun yang dirasakan oleh Murphy dan sang Ayah, Cooper. Cooper berusaha mengirim pesan kepada putrinya yang berada di semesta lain, ketika ia sendiri terseret ke dalam lubang hitam.

Review saya di atas mungkin juga banyak ngawurnya, karena saya sendiri hanya menjadi penyuka sains awam. Mungkin juga tertular partner yang baik koleksi bacaan atau pun dongengannya aneh-aneh :). Bagi saya, sains selalu menarik, membuka pintu bagi ilmu pengetahuan baru dan membuka tabir rahasia semesta yang sangat luas ini.

Film dengan durasi hampir 3 jam ini memang membuat Anda tak bisa mengalihkan perhatian, bahkan sekedar untuk menyantap cemilan di dalam bioskop. Rasanya sayang melewatkan setiap adegan di dalamnya :).

Berikut adalah trailer dari film Interstellar.

BBM Naik

Tadi malam pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan untuk mencabut subsidi BBM yang berdampak kepada kenaikan harga BBM. Keputusan ini tentu saja ditanggapi dengan beragam komentar, ada yang setuju dan lebih banyak yang menolak plus juga ditambahi dengan hujatan kiri-kanan serta prasangka yang tak jelas ujungnya :).

Saya tidak ingin menjelaskan posisi keberpihakan saya. Saya hanya ingin bercerita bahwa tadi malam saya berdiskusi dengan partner. Kami berbicara tentang harga minyak dunia yang konon menurun. Lalu, mengapa BBM kita dinaikkan jika harga minyak dunia turun?

Jadi, begini, partner mengibaratkan seperti kita naik gunung. Ketika kita naik gunung maka jalannya akan menaik, bukan? Tetapi waktu kita mendaki itu ada kalanya kita harus naik atau turun untuk bisa mencapai puncak gunung. Nah, begitu juga minyak. Secara global harga minyak naik dari tahun ke tahun (tidak mungkin turun. Kenapa tidak mungkin? Lihat penjabarannya di bawah nanti ya). Tetapi dalam proses kenaikannya terkadang ada turun dan naik. Kondisi turun ini lah yang dimaksud saat ini.

Harga minyak selalu naik karena sumber daya alam kita semakin lama semakin sedikit sementara kebutuhan kita semakin besar (Itu sebabnya harga minyak dunia tidak mungkin turun).

Kita terus saja mengebor minyak, mencari daerah-daerah baru dengan cadangan minyak di bawahnya, lalu meninggalkan ketika wilayah itu tidak lagi menguntungkan. Tidakkah kita menyadari bahwa kita telah merusak planet kita sendiri? Tempat kita dan anak cucu kita tinggal?

Di buku Dunia Anna digambarkan para pengungsi dari Arab yang meninggalkan tanah kelahiran mereka yang telah menjadi kering, tandus dan panas.
“Minyak bumi telah menjadi bencana buat negaraku. Kami menjadi kaya dengan cepat, tapi sekarang kami malah menjadi miskin. Bagaimana bisa tetap kaya kalau kami tidak lagi punya negara yang dapat ditinggali?” (halaman 77)

Apa hubungan minyak dengan lingkungan hidup? Kutipan-kutipan dari buku Dunia Anna ini mungkin bisa memberi sedikit sudut pandang yang berbeda mengenai perlu adanya pencabutan subsidi BBM. Walaupun akan lebih bagus jika membaca bukunya langsung. Dengan demikian kita bisa merenungkannya lebih dalam.

“Dulu ada yang berpendapat bahwa mencairnya es di Kutub Utara tidak perlu dikhawatirkan… Toh, tidak ada orang yang main ski atau seluncuran di sana … Lagi pula di bawah itu lapisan es itu ada cadangan minyak yang besar … dan Norwegia berhak untuk mengekstraksi minyak bumi sampai ke wilayah Kutub Utara. Kenapa sih, harus ribut tentang kelangsungan hidup beruang kutub? Kan, sudah cukup kita menyelamatkan beruang panda? Namun, para burung unta iklim ini tidak mengerti bahwa kalau es mencair … maka itu tandanya keseluruhan bumi memanas.” (halaman 88)

“Jika seluruh cadangan minyak, batu bara, dan gas bumi yang masih tersimpan dalam planet ini dipompa keluar dan disebarkan ke atmosfer, mungkin peradaban kita tidak akan bisa bertahan.” (halaman 67 )

Anna terus berdiri di depan jendela dan merenungkan apa yang telah dibacanya tentang minyak bumi. Dia mencatat angka-angka yang hampir tak terperikan.

Satu barel minyak bumi sama dengan 159 liter dan pada saat ini bisa dijual kira-kira seharga seratus dollar, atau 600 kroner. Satu barel minyak ini menghasilkan energi sebanyak 10.000 jam kerja manusia. Di negeri ini angka itu sebanding dengan enam tahun bekerja. Dengan gaji tahunan sebesar 350.000 kroner, itu berarti total pengeluarannya 2.1 juta kroner dalam bentuk gaji. Jadi, satu barel minyak bumi menghasilkan energi yang sebanding dengan lebih dari dua juta kroner bila harus digantikan dengan kerja manual. Namun, rata-rata satu orang Amerika menggunakan 25 barel minyak per tahun. Ini sebanding dengan 150 tahun kerja dan ini kira-kira berarti juga rata-rata setiap orang Amerika menghabiskan seratus lima puluh “budak energi” yang digunakan untuk menjalankan semua mobil dan mesin, semua kulkas dan AC, seluruh pesawat terbang, pabrik, pertanian, dan mesin-mesin hiburan … Dan ini baru bicara tentang minyak bumi saja! Padahal, masih ada batu bara dan gas.

Anna bertanya pada diri sendiri mungkinkah sebenarnya minyak bumi itu sebuah sumber energi yang dihargai terlampau murah. ………

“Kok, bisa, ya sumber energi yang satu ini jadi sebegitu murahnya? Anna mencoba mencari jawabannya sendiri. Minyak jadi sebegitu murahnya karena tidak ada yang memilikinya. Tidak ada pihak yang bisa disebut pemilik minyak bumi, sehingga tidak ada yang menentukan harganya. Yang ada tinggal memompa saja!
Minyak bumi itu umurnya jutaan tahun. Pada dasarnya itu adalah sebuah simpanan dari jutaan tahun energi matahari. Namun, karena tidak ada yang memilikinya, ia bisa saja dihabiskan begitu saja. Satu, dua, tiga, dan tamatlah riwayatnya!

Memang benar apa yang dikatakan para politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun, banyak juga orang-orang yang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. …

Apakah dengan cara ini orang tidak menghabiskan sumber daya alam yang seharusnya bisa digunakan generasi selanjutnya? ….
Apakah dia sedang menjadi saksi sebuah perampokan besar-besaran terhadap generasi di masa depan?
Tidakkah pembakaran berbagai sumber daya fosil ini dalam waktu singkat juga akan memusnahkan berbagai cadangan sumber daya alam yang dapat diperbarui? Tidakkah pesta minyak tak bermoral ini menjadi ancaman signifikan bagi sumber penghidupan tanaman, hewan, dan manusia? Dan bukankah penghancuran alam ini merupakan sebuah perampokan atas mereka yang seharusnya mewarisi Bumi ini?

**

Minggu kemarin saya menonton Interstellar. Entah mengapa saya melihat keterkaitan kisah di film dengan Dunia Anna. Di film itu digambarkan dunia masa depan yang tak lagi punya gairah atas ilmu pengetahuan karena saat itu masyarakat dihantui krisis pangan. Jagung yang menjadi sumber makanan satu-satunya gagal panen oleh badai debu. Bumi tak lagi ramah. Pada saatnya jagung pun akan menghilang. Kondisi yang ada pada film itu bukanlah situasi masa lalu ketika teknologi belum ditemukan tetapi sebaliknya, bumi pernah memiliki masa gemilang namun perlahan hancur oleh keserakahan manusia.

Dunia Anna pun menggambarkan dunia masa depan yang barangkali maju dengan teknologinya tetapi dengan situasi bumi yang tak lagi ramah. Kelaparan ada dimana-mana. Cuaca panas dan kering sementara di belahan lainnya dengan dingin menggigit dan terpaan badai sementara sumber daya alam yang tersisa semakin sedikit. Perlahan manusia pun akan menghilang dari bumi ini.

Dan, menyikapi keputusan pemerintah menaikkan harga BBM saya memilih untuk tidak menanggapi dengan kesinisan. Alasan di atas itulah yang membuat saya mencoba memahami bahwa Bumi ini bukan hanya milik kita, tetapi kita bertanggungjawab kepada generasi berikutnya.

Barangkali juga mencairnya es di kutub, pemanasan global tidak membuat kita cukup peduli dan terus saja merusak planet ini. Dengan adanya kenaikan BBM barangkali bisa menyadarkan kita untuk mau melakukan penghematan, berjalan kaki jika jarak yang kita tempuh tidak jauh, menggunakan sepeda, apapun. Mungkin, ya , mungkin, Tuhan sekali lagi ingin mengingatkan kita tentang masa depan planet ini.

Bumi adalah planet yang Tuhan peruntukkan untuk kita bertumbuh. Mari kita menjaganya bersama-sama untuk anak cucu kita kelak. Kita tidak boleh menghabiskannya begitu saja tanpa menyisakan apapun untuk mereka.

Mengutip kata Jostein, Kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk daripada saat kita tinggali.

Apa Kabar Tontonan TV Kita?

Sudah lama saya puasa menonton TV. Berhenti menonton televisi tanpa sebuah niat khusus, terjadi begitu saja. Barangkali karena bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana lalu lintas begitu padat dan jarak tempuh yang tidak singkat, memang menghabiskan energi. Sampai di rumah badan sudah letih. Kalau harus ditambahi dengan tontonan sinetron yang isinya orang teriak-teriak itu bukan menghibur hati malah sebaliknya, pengin melempar sandal ke televisi :).

Maka, hubungan saya dengan televisi pun berakhir perlahan. Menonton televisi hanya di tempat-tempat tertentu, seperti stasiun kereta api, bandara, rumah saudara, dan lain-lain. Selintas lewat :). Sekarang, untuk berita-berita penting saya lebih mengandalkan TV streaming.

Maka, wajar juga kalau saya tidak update dengan kabar-kabar infotainment dan acara hiburan di TV. Sebaliknya, berita kasak kusuk tingkah laku artis malah saya peroleh dari status kawan-kawan di sosial media. Tetapi, saya hampir tidak pernah membuka link yang mereka sertakan di dalam berita itu. Pertama, keamanan. Saya belajar untuk tidak selalu ‘ingin tahu’ dengan mengeklik sembarang link. Apalagi ada masa virus dan spyware menyebar yang mengakibatkan wall sosial media milik kita ditempeli video atau gambar yang tidak pantas. Kedua, malas. Saya tak terlalu berminat mengikuti kehidupan para artis. Ini sebenarnya lebih ke arah pengereman diri pribadi saja. Saya khawatir bakal tambah nyinyir kalau membaca berita tentang mereka :). Sedangkan saya sedang belajar untuk tidak dengan mudah menghakimi orang lain. Sulit loh itu. Sungguh.

Namun ada kalanya pernyataan selintas di status kawan membuat saya gregetan juga ingin berkomentar. Halah :).

Saya tidak tahu seperti apa acara televisi saat ini. Tetapi saya percaya bahwa tontonan pun seperti halnya bacaan akan membentuk cara kita berpikir. Pembentukan karakter kita pun tidak lepas dari pengaruh keduanya, yang kita lihat dan yang kita baca.

Nah, kebetulan beberapa hari yang lalu saya melihat film televisi jaman dahulu di youtube. Mulanya saya mencari film Neraca Kasih yang dibintangi Tuti Indra Malaon. Konon ini film bagus. Dari film Neraca Kasih saya lalu menenukan tak sengaja film yang dibintangi oleh Yessy Gusman dan Rano Karno (dua artis paling top di jamannya) yang berjudul Buah Terlarang. Hm, memang agak gimana gitu judulnya ya? 🙂

Filmnya tak penuh, tapi ada beberapa hal menarik yang saya amati dari film lama ini.

Dikisahkan, sepasang remaja SMA yang saling jatuh cinta. Singkat cerita, terjadi kehamilan. Bagaimana sikap orang tua, anak, dan orang-orang disekeliling mereka menyikapi peristiwa tersebut? Ini yang menarik.

Dalam sebuah adegan, ditampilkan bagaimana si Ibu perempuan berkomunikasi dengan sang putri. Bagaimana si Ibu menghargai privasi anaknya dengan meminta asisten rumah tangganya membuat bubur dan segera menutup pintu kamar agar mereka berdua bisa berkomunikasi. Walaupun kaget dan marah dengan pengakuan putrinya tetapi si Ibu tampak bisa menahan emosinya. Kalau di sinetron sekarang barangkali si Ibu sudah teriak-teriak histeris (semoga masih dengan kalimat yang santun ya? 🙂 ) sambil tak lupa mata melotot dan urat wajah menegang. Lalu, sang anak pun tak kalah galak. Balik menyalahkan Ibunya dan membanting pintu, pergi. Tinggal deh si Ibu menangis sesengukan. Drama banget ya? (Jadi bertanya-tanya, apakah kepandaian masyarakat kita ber-drama di dalam dunia nyata ini diwarisi dari tontonan yang seperti ini ya?).

Adegan lainnya dalam film lama itu adalah ketika si Ibu mencari waktu yang tepat untuk bisa menceritakan kehamilan putri mereka kepada sang suami. Ada juga diceritakan bagaimana para Guru berdebat untuk menyelesaikan permasalahan yang bisa mencoreng nama sekolah. Para Guru di film ini digambarkan sebagai orang-orang pintar yang terdidik. Perhatikan bagaimana mereka berdiskusi dan sampai kepada keputusan akhir.

Beberapa kutipan dialog yang saya suka dari film ini.

“Memberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah juga berarti merupakan hukuman yang berat. Dia diuji untuk menghadapi kenyataan dan lingkungannya. Hukuman tidak harus berupa penistaan. Senyuman pun bisa merupakan hukuman.”

“… Pendidikan tidaklah sekedar memperoleh ijasah tetapi mempersiapkan anak didik kita menghadapi masyarakatnya kelak.”

Ibu si anak laki-laki: “… Tampaknya dia putus asa dan tidak sanggup menghadapi Guru dan teman-temannya.” (ketika si Ibu menceritakan bahwa anak laki-lakinya tidak ingin melanjutkan sekolah)

Wali kelas: “… Tetapi ini merupakan ujian bagi dia untuk menghadapi kenyataan. Dan itu memang pahit tapi ini sangat perlu untuk membuktikan bahwa perbuatannya tidak dilakukan iseng-iseng.”

Tanpa harus berteriak kasar dan melotot serta tegangan syaraf lainnya toh pesan film ini pun tetap sampai, bahwa apa yang kedua remaja itu lakukan adalah hal yang salah, yang membuat orang tua mereka marah dan kecewa. Namun, itu lah konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Keduanya harus berani belajar untuk menghadapi kehidupan dan bertanggungjawab terhadap pilihan mereka.

Jaman memang berubah, tapi nilai-nilai moral dan budi pekerti tak selayaknya tergerus oleh kemajuan jaman.

Yang berminat melihat trailernya silakan ke sini: https://www.youtube.com/watch?v=pmzy5ebC810

Menulis itu Mengasyikkan

Saya mempunyai 4 blog yang kesemuanya aktif, dan beberapa blog gratisan :). Barangkali tampak seperti kurang kerjaan ya? Hehe. Entahlah, bagi saya menulis adalah kebutuhan. Sama halnya dengan membaca. Ketika kedua kebutuhan itu terlepas maka yang tersisa adalah kehampaan.

Empat blog itu berisi bermacam-macam bentuk tulisan, yaitu:
1. Blog yang berisi materi pembelajaran di sekolah. Blog ini untuk memudahkan murid-murid mengakses materi yang saya berikan. Blog ini juga berperan sebagai majalah dinding yang berisi karya kreasi murid-murid saya.
2. Blog kedua berisi seputar penerbitan dan penulisan serta tulisan perjalanan. Blog ini juga memuat tulisan job review baik produk atau jasa dari layanan blog advertising.
3. Blog resensi buku. Seperti namanya, blog ini berisi review buku-buku yang saya baca. Beberapa buku ada yang diberikan langsung oleh pengarangnya untuk di-review, atau dari penerbit buku melalui komunitas BBI (Blogger Buku Indonesia). BBI bekerjasama dengan banyak penerbit yang seringkali mengirimkan buku-buku baru dan gratis untuk diresensi oleh para blogger pecinta buku.
4. Blog curhat :). Nah, ini blog tempat saya menulis tentang kegemaran saya berkebun dan juga tulisan sehari-hari semisal yang sedang saya tulis ini.
5. Blog lainnya yang gratisan ada yang berisi puisi dan sajak, kutipan dari buku-buku dan blog untuk trial dan error :), diantaranya: http://castor05pollux.tumblr.com/ , http://enggar.tumblr.com/ , dst 😉

Apakah semua blog itu rutin di isi? Nggak juga sih. Namun saya berusaha untuk menulis walau sesedikitpun. Blog-blog itu ternyata sangat membantu saya loh. Contohnya, ketika saya diminta secara mendadak untuk menggantikan nara sumber yang berhalangan hadir. Saat itu saya nderedeg juga, tak terbayang mau bicara apa saya nanti di depan? Hehe. Saya kemudian ingat beberapa materi yang pernah saya tulis di blog dan kebetulan saat itu menjadi topik talk show. Nah, saya cukup mengunduh materi presentasi saya di slideshare dan membuka blog yang berisi materi serupa. Talk show berjalan lancar dan cukup memuaskan :).

Pengalaman di atas kemudian meyakinkan saya bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Pun saya menyadari bahwa kegemaran kita membaca dan menulis bisa jadi membantu kita pada saat-saat yang krusial.

Oya, pengalaman menulis buku juga membantu saya mengatur strategi (halah, yo opo iku rek? :)).
Maksudnya begini, ada kalanya sebagai penulis, Anda dihadapkan pada situasi menulis dengan batas waktu yang ketat. Cara saya menyiasati nya adalah dengan terbiasa mengumpulkan tulisan-tulisan yang mungkin menjadi topik yang ingin saya tulis suatu saat nanti. Saya imbangi juga dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan topik tersebut. Sehingga jika suatu saat saya harus menulis tema tersebut dengan deadline mepet saya tidak terlalu kerepotan. Sebenarnya bagi seorang penulis, menulis dengan batas waktu ketat itu hal yang hampir kebanyakan pernah mengalaminya atau barangkali malah menjadi santapan mereka sehari-hari :). Untuk itu lah mereka harus senantiasa mengupdate diri dengan banyak membaca, baik yang berkaitan dengan ilmu nya langsung maupun tidak, karena percaya deh semua itu memberi nilai tambah kepada wawasan kita.

Nah, jangan kaget ya kalau dalam minggu-minggu ini saya ribut banget di blog, baik di sini atau di blog saya lainnya, maklum sekolah libur dan ini kesempatan saya menuangkan isi hati alias curhat sebanyak-banyaknya… haiyah, hehehe :))

Arti Sosmed untuk Saya

Partner adalah filter bagi saya, dimanapun. Ketika saya menceritakan kepadanya bahwa saya berdebat dengan kawan di sosial media, ia akan mengingatkan karena ia tahu bahwa saya pasti akan menyesali konfrontasi yang terjadi. Memang betul sih :). Tapi tujuan saya sebenarnya bukan untuk berkonfrontasi, saya hanya ingin sekedar mengungkapkan pendapat saya. Itu saja. Tidak pernah ada niatan untuk merasa lebih unggul atau lainnya.

Kata partner, lebih baik bagi saya menulis di blog dan bukan di sana. Sosial media adalah tempat terbatas untuk kita menuangkan pemikiran. Sepertinya saya akan menuruti partner, dan saya akan memulainya di blog ini.

Kita memang hidup dalam ketidaksempurnaan. Maka, kita tidak bisa berharap segalanya berjalan sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah membentuk sebuah lingkungan yang baik. Bagaimana caranya? Ini kata partner.

Mulai dari diri sendiri. Dan karena saya sering menggunakan sosial media facebook untuk berbagi maka saya akan memulainya dari sini. Sebenarnya saya sudah mencoba juga, tetapi ada kalanya terbawa arus juga :). Ah, manusia.

Pertama, gunakan facebook untuk berbagi berita, artikel, tulisan yang baik. Tulisan yang mengajak berantem lebih baik tidak perlu di share. Tulisan seputar prestasi remaja-remaja Indonesia, guru berprestasi, dan yang seperti itu layak di share dan di repost, kalau perlu :). Mengapa yang baik? Kata partner, berita buruk akan membuat orang berpikir bahwa, “oh, melakukan itu nggak pp.” Maka, lihat dampaknya.

Berita baik yang disiarkan terus menerus akan mengubah cara pandang kita. Sebagai contoh, Jokowi. Berita seputar Jokowi yang baik akan membuka mata bagi yang lain bahwa kesederhanaan, kejujuran, kerja keras adalah sifat-sifat yang dirindukan dan diimpikan oleh rakyat Indonesia untuk seorang pemimpin. Lihat efeknya. Berbagai media akan mencari tahu dan mengulas pemimpin-pemimpin (yang sebenarnya banyak hanya saja tidak pernah tampil di permukaan karena barangkali selama ini media terlalu sibuk dan asyik dengan berita-berita korupsi dan berita sampah lainnya) dengan karakter serupa. Dan akan banyak calon pemimpin yang terinspirasi dan terdorong untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.

Kedua, hindari menulis status yang mengundang konfrontasi. Dan juga, komentar yang menyindir atau mengajak berantem. Abaikan saja. Karena, menulis status itu acapkali tidak bisa menggambarkan pemikiran kita sepenuhnya. Kadangkala, informasi sepenggal yang tertangkap itu bisa melahirkan persepsi yang berbeda. Jangankan tulisan, berkomunikasi lisan saja kita seringkali salah menafsirkan.

Ketiga, pamerkan saja foto koleksi tanaman dan buku :).
Kata seorang pakar, untuk mempengaruhi orang lain itu mudah. Masa? Hehe.

Mau tahu trik saya untuk memancing murid-murid memiliki ketertarikan pada bacaan? Begini, di sela-sela jam mengajar saya sering menceritakan tokoh-tokoh terkemuka. Karena mata pelajaran yang saya ampu adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka saya akan bercerita tentang tokoh pencipta facebook, google, tokoh-tokoh IT dan berita terbaru dunia IT yang semuanya saya peroleh dari buku bacaan. Sambil bercerita tak lupa berikan judul bukunya.

Nah, demikian juga di sosial media. Saya seringkali memasang foto buku yang sedang saya baca atau saya koleksi. Selain itu, saya juga suka menulis kutipan dari buku-buku yang sedang saya baca. Cara ini memudahkan saya ketika membuat review buku tersebut nanti. Saya pun ada kalanya tertarik dengan sebuah buku oleh karena status kutipan sebuah buku yang dibuat oleh kawan-kawan saya.

Ingin mengajak orang lain peduli lingkungan? Pasang saja foto koleksi tanaman kita. Selanjutnya, akan banyak kawan-kawan kita yang tergerak untuk memulai berkebun.

Ya, kita semua saling mempengaruhi. Selama mempengaruhi untuk hal-hal baik, tak apa, bukan? 🙂

Jadi, kembali lagi, pada akhirnya nasihat yang berhasil itu adalah teladan.

Mari kita memperbaiki diri selalu untuk menjadi lebih baik. Kalau sesekali kita khilaf itu adalah manusiawi. Sangat manusiawi malah, kita kan bukan malaikat. Aneh nanti kalau tidak pernah melakukan kesalahan, dan itu tidak akan mungkin selama kita menjadi manusia 🙂

Budi Pekerti

Tengah malam tadi saya berbincang-bincang dengan partner. Tema obrolan kami mengenai budi pekerti.

Di Indonesia, budi pekerti erat dikaitkan dengan agama. Sementara, menurut dia, budi pekerti adalah sains. Budi pekerti bekerja seperti sebuah ekosistim.

Maksudnya?

Menurut Wikipedia, ekosistim adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Atau bisa dikatakan juga tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.

Begini, misalkan saya seorang siswa. Saya memperoleh nilai bagus hasil mencontek. Dengan nilai bagus saya mendapatkan sekolah yang baik dan pada akhirnya pekerjaan bagus. Di dalam bekerja, saya menjadi pengambil keputusan untuk proyek-proyek besar. Saya bernegosiasi dan melakukan praktik-praktik kecurangan untuk mendapatkan keuntungan besar untuk diri saya sendiri. Saya sukses dan kaya dengan hasil kecurangan-kecurangan yang sudah biasa saya lakukan tadi. Sekarang, mari kita lihat, siapa yang dirugikan? Perusahaan, proyek-proyek, lingkungan sekitar? Apa hanya itu saja? Tentu tidak, perekonomian negara pun akan berpengaruh. Dan ketika perekonomian negara hancur, siapa yang menderita? Kita semua.

Sementara, barangkali, si koruptor tidak terlalu merasakan dampak dari perbuatannya. Ia, selain dipenjara, mungkin masih bisa hidup nyaman juga.

Sekarang, bagaimana kalau kita balik? Saya bekerja jujur, bekerja keras dan tekun. Dengan kinerja yang baik maka sistim di tempat saya memperoleh keuntungan yang pada akhirnya memperbaiki perekonomian negara secara menyeluruh. Saya kaya dan sukses. Demikian juga dengan orang lain. Mereka pun akan merasakan dampak dari sebuah sistim yang terbentuk dengan bagus. Kalau kata partner, tumbuh dan besar bersama-sama. (Serupa dengan pemikiran koperasinya Bung Hatta).

Saya kemudian teringat pada sebuah film, judulnya Pay it Forward. Lakukan sebuah kebaikan maka kebaikan itu akan menulari banyak orang. Pun demikian keburukan. Satu keburukan, dampaknya tidak hanya kembali kepada yang melakukan keburukan tetapi menyeluruh, kita semua menanggungnya.

Begitulah.

Santun adalah juga Tujuan Pendidikan

Belum lama seorang teman di facebook men-share tulisan mengenai Etika Ber-SMS dengan Dosen. Tulisan tersebut bisa dibaca di sini. Saya setuju bahwa ada etika ketika kita berkomunikasi dengan siapapun, tidak hanya kepada Guru dan Dosen.

Seperti halnya ketika berhubungan dengan bermasyarakat, kita harus memperhatikan etika, adab, tata krama. Apa yang terjadi kalau di dalam pergaulan sosial manusia tidak lagi mengenal sopan santun? Barangkali kita tidak perlu banyak berbicara, karena peristiwa yang ada di sekitar kita saat ini sudah menjadi bukti dampak dari memudarnya nilai-nilai budi pekerti.

Budi pekerti adalah induk dari segala etika, tata krama, bagaimana berperilaku baik dalam pergaulan.

Ada cerita menarik dari buku Bung Hatta. Hatta kecil pernah menolak sekolah, karena menurut ia sekolah adalah bikinan Belanda. Sang Kakek kemudian mengatakan seperti ini, “Ilmu bukan datang dari orang Belanda, tapi dari Allah. Kita wajib belajar dan bersekolah agar pandai dan berbudi”. (halaman 28, dari sebuah novel. Hatta, Aku Datang karena Sejarah).

Dengan belajar, manusia mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan, menurut Helen Keller, seseorang semustinya bisa membedakan mana perbuatan yang baik dan buruk, mana yang mulia dan tidak. Selaras dengan arti kata budi, yaitu kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Maka, sangat jelas bukan, bahwa tujuan pendidikan itu tidak hanya menjadikan kamu pandai tapi sejatinya juga berbudi pekerti luhur. Berbudi, dalam kamus bahasa Indonesia artinya mempunyai budi (tabiat dan watak yang baik), mempunyai kebijaksanaan, berakal, berkelakuan baik, murah hati, baik hati.

Jadi, absurd buat saya kalau ada orang berkilah bahwa etika tidak diperlukan dalam pergaulan di masyarakat. Apalagi, untuk kasus di atas, beranggapan bahwa Guru atau Dosen mereka gila hormat. Sama sekali bukan dengan alasan seorang Guru atau Dosen ingin dihargai tetapi memiliki etika yang baik itu juga merupakan tujuan sebuah pendidikan.