Category Archives: Uncategorized

Bangsa Dungan

Membaca sepenggal kisah orang Dungan di buku Garis Batas menerbitkan sepercik keingintahuan mengenai bangsa muslim Cina perantauan yang tinggal di negeri bekas Republik Uni Soviet, Kirgizstan ini.
800px-Dungan-Girls
dokumentasi: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Dungan-Girls.JPG

Konon, 800 tahun lalu penyerbu Arab memasuki negeri leluhur mereka di tanah Tiongkok (Tiongkok adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk merujuk pada Cina sebagai negara. Istilah Tiongkok dan Tionghoa berasal dari dialek Hokkian. Secara linguistik istilah Tiongkok dan Tionghoa hanya ada di dalam bahasa Indonesia[1] : sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok), di balik pegunungan Tianshan dan Pamir. Raja penguasa setempat ketakutan dan memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan orang Arab untuk menghindari perang. Keturunan dari pernikahan ini menghasilkan bangsa Dungan, orang Cina yang beragama Islam. Karena itu mereka menganggap Arab sebagai Ayah dan Cina sebagai Ibu.
map_mountains_central_asia_small
dokumentasi: http://www.centralasiatravel.com/mountains_central_asia.html

“Bapak kami adalah Arab. Ia adalah agama kami, Islam. Ibu kami adalah Cina. Ia adalah bahasa kami, kebudayaan kami,” (halaman 212, Garis Batas).

Di negaranya sendiri, Cina, orang Dungan dikenal sebagai etnis Hui. Mereka tidak memiliki ciri khas yang membedakan dengan bangsa Cina Han lainnya, selain agama. Bangsa Hui adalah keturunan komunitas Muslim di Cina yang mengukuhkan diri pada zaman Dinasti Tang dan Yuan. Agama Islam di Cina dikenal dengan sebutan huijiao, yang artinya agama suku Hui.

Perang, pemberontakan dan penindasan menyebabkan bangsa ini sering berpindah-pindah demi mempertahankan keyakinannya. Alkisah, antara 1862 dan 1878 terjadi pemberontakan umat muslim Hui di bagian barat Cina, dipimpin oleh Yaqub Beg melawan penguasa Dinasti Qing, dinasti terakhir di Cina. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tetapi umat muslim Hui menjadi incaran kaisar. Maka, kelompok ini secara besar-besaran menuju perbatasan Rusia di seberang Sungai lli. Karena jika mereka bertahan di tanah kelahirannya sendiri maka bakal mati terbantai. Mereka yang berhasil mencapai perbatasan kemudian berganti nama menjadi Dungan.

Rusia, yang saat itu baru saja menaklukkan bangsa Kirgiz dan Kazakh menerima para pengungsi Muslim Cina ini dengan tujuan untuk menarik simpati kaum muslim Turkistan. Gelombang pengungsi menjadi semakin besar setelah Rusia dan Cina menyetujui perjanjian yang berisi pengakuan Rusia pada kekuasaan Cina atas daerah Xinjiang Uyghur. lli dikembalikan ke Cina, dan warganya diberi dua pilihan: hidup di bawah dinasti Qing yang memusuhi Muslim, atau meninggalkan tanah mereka untuk memulai hidup baru Rusia. Hidup di negeri orang tidak terlalu buruk sampai tahun 1930-an ketika Stalin berkuasa. Pada tahun itu banyak orang Dungan yang memutuskan kembali menyeberangi sungai kembali ke pangkuan Tiongkok.

Tahun 1961, pemerintah Soviet kembali membuka pintu gerbangnya bagi mantan warga negara. Ribuan orang Dungan menyeberang ke pangkuan tanah kelahiran. Kirgizstan. Kala itu Cina dilanda kelaparan hebat gara-gara program kolektivisasi pemerintah komunis yang menyebabkan sebagian besar warga Cina meninggalkan negerinya dan menyeberang ke Rusia.

Asal Usul nama Dungan
Begitu etnis Hui memasuki Uni Soviet, nama Hui tidak lagi dikenal. Konon, kata Hui berarti umpatan kasar dalam bahasa Rusia. Walaupun secara persisnya kata Dungan tidak diketahui, namun menurut sebuah literatur nama Dungan berasal dari bahasa Turki donen, orang-orang yang berbelok atau berpulang. Dalam bahasa Mandarin, Hui juga berarti “pulang”. Agama Hui, Islam, secara harfiah juga bisa berarti “ajaran untuk berpulang”. Nama Dungan mungkin juga berasal dari bahasa Mandarin, dong-gan, artinya provinsi Gansu bagian Timur, tempat asal nenek moyang etnis Hui.

sumber tulisan: Garis Batas, Agustinus Wibowo

Lomba Resensi Buku

Jadi, 26 November lalu saya dikirimi email dari Qbaca. Isinya memberitahukan bahwa dari hasil voting publik resensi saya dinyatakan masuk ke dalam babak final. Senang? Iya donk.. hehe. Untuk itu, maka saya dan beberapa finalis lain diundang untuk datang ke kantor Qbaca di menara multimedia untuk mengikuti babak final. Dalam email juga dinyatakan bahwa para finalis diminta untuk membawa peralatan gadget mereka dan alat tulis. Sampai di sini sempat mikir, barangkali nanti para finalis mau di tes cara pemakaian aplikasi Qbaca. Tapi alat tulis? Buat apa ya?

Kemudian email berikutnya datang, berisi keterangan bahwa para finalis nanti akan diminta untuk meresensi buku yang sudah disiapkan oleh Qbaca. Oh, baiklah :). Namun judul buku yang harus diresensi masih disembunyikan oleh pihak panitia dan baru akan diberitahu pada saat pembukaan acara di kantor menara multimedia pada hari Kamis, tanggal 28 November. Maka, usai mengajar (sebenarnya belum selesai sih, saya ijin pulang terlebih dahulu di jam terakhir. Hanya satu kelas kok dan murid-murid sudah diberi tugas :)) saya pulang ke rumah dan bersiap untuk berangkat menghadiri tes tertulis itu :). Saya datang paling awal, syukurlah, padahal sudah khawatir terlambat.

Layar di depan meja menayangkan judul sebuah buku terbitan Qbaca. Kebetulan saya pernah mengunduh buku tersebut dan juga meresensinya dulu sekali, kali pertama buku itu diterbikan oleh Qbaca. Oya, Qbaca memiliki koleksi buku-buku yang kamu bisa unduh secara gratis. Dan tentu saja, buku yang harus kami resensi saat itu adalah salah satu koleksi dari buku-buku gratis milik Qbaca. Apakah resensi saya sama dengan yang pernah saya tulis dulu di sini? Hehe, mau nya begitu tapi sungguh saya sudah lupa dengan isi resensi saya waktu itu. Jadi, saya membaca kembali buku tersebut dan membuat resensinya di dua lembar kertas yang sudah disiapkan panitia.

Sebenarnya saya cukup gagap kalau menulis dengan tangan, karena barangkali lebih sering mengetik di komputer dibandingkan menggunakan tulisan tangan maka tulisan tangan saya begitu hancur lebur. Mungkin teori evolusi Darwin itu benar adanya ya? ;-). Jadi, mohon maaf kepada panitia kalau tulisan saya jelek, tapi mudah-mudahan masih bisa terbaca ya? hehe.

Dan, kemarin tanggal 3 Desember, sepulang mengajar, saya menerima email dari Qbaca yang menyatakan bahwa saya masuk ke dalam 3 besar. Tapi saya sendiri belum tahu saya ada di urutan mana, karena sebelumnya saya sudah masuk ke web mereka tapi belum ada pengumuman pemenang. Bersamaan dengan email, saya di-mention oleh seseorang yang memberikan ucapan selamat. Sempat heran juga, darimana anak ini tahu saya yang menang? Selanjutnya saya cek ke web Qbaca dan Alhamdulillah, nama saya ada di urutan kedua. Dan seseorang itu ternyata salah satu finalis juga di acara babak final kemarin. Kalau nggak salah kamu yang di depan saya kan ya? πŸ™‚

Terima kasih untuk pihak Qbaca atas kepercayaannya. Dan juga terima kasih untuk seorang teman yang sudah ‘memaksa’ saya mengikuti lomba resensi ini.. hehe. Eh, tapi sudah layak di-publikasi-kan kan ya kemenangan ini? hehe πŸ™‚

Pengumuman lengkapnya bisa dilihat di sini.

qbaca

Negara-negara Asia Tengah dari pecahan Uni Soviet

Mikhail Gorbachev, presiden Uni Soviet periode 1985-1991, melakukan perubahan besar-besaran dalam sistem perekonomian dan politik yang secara langsung dan tidak langsung memicu bubarnya Uni Soviet. Kebijakan glasnots (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi ekonomi) yang ia usung selain memberikan kesempatan yang lebih luas pada kebebasan dan demokrasi di dalam negeri juga mengancam keberadaan partai komunis.

Maka, kemudian lahirlah 15 negara pecahan baru dari Uni Soviet ini, yang dibagi menjadi beberapa kelompok, salah satunya

kelompok Asia Tengah, yaitu:

  • Tajikistan
  • Kirgizstan
  • Uzbekistan
  • Kazakhstan
  • Turkmenistan
  • Kelompok wilayah lainnya dapat dilihat di sini.

    Tajikistan adalah negara paling miskin dan menempati jajaran nomor sepuluh di dunia. Walaupun miskin ternyata rakyatnya pantang mengemis dan menggelandang. Paska perang sipil, kondisi negara ini semakin mengenaskan. Korupsi, kolusi, dan nepotisme pun tumbuh subur di kalangan pemerintah.

    Konon, dibanding negara stan asia tengah lainnya, Tajikistan termasuk yang paling religius. Namun demikian perlu diingat karena pengaruh komunisme yang membelenggu ratusan tahun membuat mereka tidak terlalu ketat beribadah.

    Rakyat Tajikistan beragama islam. Umat islam syiah sekte Ismaili Tajikistan tidak naik haji, dan nyaris tidak puasa. Haji mereka adalah menyediakan tumpangan dan makanan bagi musafir. Mereka meyakini bahwa menolong musafir itu wajib hukumnya. Mereka bersikap hormat dalam melayani tamu. Kendati miskin, mereka murah hati.

    Vodka atau minuman keras adalah minuman wajib mereka sebagai jalan keluar dari tekanan dan kesuraman hidup sehingga tingkat kriminalitas pun sangat tinggi.

    Berbeda dengan Kazakhstan, ini negeri yang berjaya dengan gemilang kemakmuran kapitalisme. Kazakhstan dan Kirgiztan, keduanya menggandrungi Uni Soviet. Sementara Uzbezkistan sangat anti Rusia. Kesusastraan merupakan warisan peradaban Uzbezkistan jaman antik. Sementara Turkmenistan diliputi nostalgia sosialisme utopistan.

    sumber: diadaptasi dari kisah Urbanisasi Kesadaran, buku Guru Gokil Murid Unyu.

    Jadi pengin baca buku Selimut Debu dan Garis Batas-nya Agustinus Wibowo. Kapan ke Gramedia ya? πŸ™‚

    Seminar Manfaat Buku Digital Bagi Pembaca dan Penulis

    Hari Sabtu kemarin saya menghadiri seminar dan FGD (Focus Group Discussion) dari Qbaca dengan tema Manfaat Buku Digital Bagi Pembaca dan Penulis. Datang terlambat tapi tetap semangat.. hehe. Buktinya? Dapat buku gratis donk ^-^.
    goodie
    Berhubung terlambat jadi tidak mengikuti perbincangan secara lengkap oleh nara sumber hari itu, yang terdiri dari: Moammar Emka (Penulis), Dr. Ruli Nasrullah (Doktor Budaya Cyber UGM), Intan Savitri. msi (Ketua Forum Lingkar Pena) dan Iyut Syifa Fauzia (Publisis Buku).

    Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta, dari masalah buku seperti apa yang best seller, pembajakan buku sampai infrastruktur yang belum merata yang menjadi kendala bagi sebagian besar masyarakat untuk mengakses buku digital.

    Mbak Sekar dari Komunitas Pondok Baca mengeluhkan mahalnya biaya transportasi dan pengiriman buku ke daerah pelosok. Beliau juga mempertanyakan pendistribusian buku dari penerbit yang tidak mencapai ke daerah-daerah tersebut.

    Menurut Moammar Emka, buku seperti apa yang bakal best seller itu tidak bisa terjawab. Laris tidaknya sebuah buku tergantung kepada banyak hal, yang terutama adalah marketing. Terkadang ada buku yang tidak terlalu bagus tapi karena pemasarannya oke maka buku itu terangkat naik.

    Untuk masalah pembajakan buku, ingat ketika buku Laskar Pelangi menjadi best seller? Tidak lama setelah itu bajakannya ada dimana-mana. Atau mungkin buku Jakarta Undercover nya Moammar Emka? Itu hanya sekedar contoh bahwa apapun bentuknya, baik buku cetak atau buku digital peluang untuk disalin selalu ada. Namun perlu diketahui jangan bayangkan bahwa buku digital selalu berformat pdf, yang biasanya dengan mudah filenya bisa disalin orang kemana-mana. Teknologi terus berkembang demikian juga tingkat pengamanan terhadap sebuah aplikasi. Demikian juga dengan buku-buku digital (ebook).

    Ada cerita menarik dari Moammar Emka. Ia mencontohkan solusi yang ia beserta tim penerbitnya lakukan ketika buku Jakarta Undercover dibajak. Mereka membudgetkan beberapa puluh (atau ratus ya? lupa) juta untuk menyalin buku itu dan mendisainnya sedemikian rupa persis buku aslinya. Kemudian mereka menjual ke pengecer sejumlah harga biaya cetak. “Yang penting biaya sejumlah itu kembali,” ujarnya. Dan memang trik yang ia gunakan berhasil.

    Saran juga datang dari peserta seminar lain, diantaranya untuk masalah mahalnya biaya transportasi ke daerah pelosok. Seorang peserta menyarankan agar komunitas bekerjasama dengan sponsor, atau lembaga-lembaga yang menyediakan dana CSR dan sebagainya. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya.

    Sementara kenapa pendistribusian buku dari penerbit tidak mencapai ke pelosok menurut saya hal itu dikarenakan penerbit juga memiliki keterbatasan dana. Nah, hal itu barangkali bisa disiasati melalui kehadiran buku digital ini. Keberadaan buku digital justru memberi peluang besar bagi penerbitan buku untuk membentuk kekuatan pasar di kota-kota besar. Dengan demikian mereka akan mendapatkan revenue tambahan. Bahasa sederhananya subsidi silang. Dengan demikian buku-buku cetak dapat didistribusikan ke daerah pelosok.

    Kehadiran buku digital juga sebenarnya adalah suatu cara untuk meminimalisir keasyikan masyarakat kita pada sosial media serta games. Kita tentu memahami bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh minat baca masyarakatnya, terutama kesukaan membaca buku-buku bacaan yang bergizi. Sebuah peradaban perlahan akan hilang jika masyarakatnya tidak pernah membaca.

    Dan bagi saya pribadi, selama saya bisa membaca, saya tak terlalu peduli apapun perangkat yang harus saya gunakan. Apakah itu buku cetak atau buku digital sekalipun, tak akan mengurangi minat saya untuk membaca. Saya membaca buku digital sama nyamannya dengan saya membaca buku cetak. Karena bagi saya, apa yang terkandung dalam sebuah buku itu adalah lebih penting dari wujud buku itu sendiri.

    Acara berlanjut dengan diskusi antar kelompok setelah santap siang. Kemudian ada musikalisasi puisi yang keren banget. Dan dilanjut dengan presentasi sedikit dari Qbaca dan ditutup dengan foto-foto. Oya, ada goodie bag juga dari Qbaca loh .. hehe.

    Terima kasih Qbaca dan kawan-kawan baru. Senang bertemu dengan kalian ^-^.

    qbaca2

    qbaca

    Mengenai cara mengunduh aplikasi bisa dilihat di sini.

    Menikmati Musik

    If you really want to you can seize the day
    Only if you want to will you fly away

    Sepenggal lirik di atas dikutip dari Only If nya Enya. Musik bergenre Celtic ini adalah salah satu musik andalan saya, terutama ketika saya harus berkonsentrasi menulis. Musik Enya adalah campuran dari irama yang tenang, bersemangat sekaligus berkesan heroik. Bukan karena saya penggemar Man of steel aka Superman ya, makanya tergila-gila dengan segala yang berjenis super hero ^-^.

    Menulis membutuhkan konsentrasi tinggi. Pada situasi seperti ini musik Enya adalah teman menyenangkan. Alasan saya memilih Enya, pertama, kebanyakan lirik di lagu Enya menggunakan bahasa latin, bahkan ada pula bahasa fiksi yang mereka ciptakan sendiri, yang tentunya tidak saya mengerti sehingga saya tidak akan ikut sibuk bernyanyi. Beberapa ada juga yang ditulis dalam bahasa Inggris, namun juga tidak banyak mempengaruhi disebabkan oleh iramanya yang melarutkan saya ke dalam situasi mistis dan terkadang lupa dengan sekitar, terasa dunia milik sendiri .. hehe.

    Enya adalah penyanyi dari Irlandia. Konon, musik Celtic adalah nama genre musik yang berevolusi dari musik tradisional rakyat Celtic di Eropa bagian barat. Musik tradisional asal Irlandia dan Skotlandia ini memiliki irama dan melodi yang serupa. Oya, musik Celtic ini kerap diselipkan dalam adegan film-film seperti Robin Hood, Lord of the Rings dan semacamnya.

    Selain musik Celtic saya menyukai koleksi musik Andrea Bocelli. Kalau Enya lebih tepat untuk menulis, Andrea cocok didengarkan ketika kita membutuhkan suntikan semangat. Putar lagu Con te Partiro dan rebahkan punggung di kursi sambil merem sejenak. Dalam hitungan menit, energi mengalir dan tubuh kita bersiap melakukan aktivitas.

    Selang-seling di antara itu saya menyukai musik klasik, musik di era Barok adalah pilihan saya. Canon in D, Arrival of the Queen of Sheba, dan Four Season adalah beberapa diantaranya. Musik Barok kebanyakan dinamis, cepat, dan riang namun ada juga yang lambat dan menyentuh.

    Pop? Tentu saya juga suka. Saya tidak terlalu fanatik terhadap satu label pemusik atau kelompok tertentu. Sepanjang musik itu enak dan bisa dinikmati kenapa tidak? West Life, Vina Panduwinata, Chrisye, Adele, atau lagu-lagu baru saya juga menikmatinya loh.

    Musik adalah bahasa universal di dunia.
    Pesan-pesan yang disampaikan melalui lirik lagu, melodi, dan irama musik, menyebar dan larut ke dalam jiwa manusia di belahan bumi manapun.

    selamat menikmati musik, kawan πŸ™‚

    Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Menulis Blog yang Asyik di sini.

    Hormatilah semua umat beragama, pun yang tidak beragama

    Dari catatan kecil di facebook, 9 juli 2012.

    Saya seorang muslim. Dalam pergaulan sosial saya berteman dengan siapa saja, non muslim bahkan yang mengaku tak memilih agama sekalipun. Saya belajar menghormati keyakinan dan pilihan mereka pun demikian sebaliknya.

    Seringkali kita sebagai umat yang mengaku beragama berlaku tidak adil terhadap mereka yang tidak memilih agama apapun. Dan kita kemudian memperlakukan mereka sebagai orang jahat, orang yang tak pantas kita jadikan teman dan sebagainya. Karena mungkin kita menilai terlalu tinggi diri kita sendiri.

    Saya ingat tulisan Gunawan Mohammad ketika dia bercerita tentang seorang laki-laki muda yang siang hari bekerja di kedai bunga dan malam hari acapkali mabuk-mabukan. Dalam sebuah percakapan, laki-laki ini tak dapat menjawab pertanyaan mengenai agama yang dianutnya. Yang ia tahu adalah bahwa ia tak boleh mengganggu dan menyakiti orang yang berbuat baik dan tak dengki kepada dirinya. Sebuah keyakinan moral yang ia junjung tinggi.

    Kata Gunawan β€œSeraya diam tentang Tuhan, seseorang toh tetap bisa merasakan lebih intens apa artinya dosa: Jika ia berbuat salah kepada yang lain, ia tahu bahwa -di bawah langit yang kosong dan tak bisa diharapkan-tak ada yang akan memaafkannya. Maka ia berusaha agar tak berbuat salah. Maka ia akan letakkan orang lain sebagai sumber maaf. Dan ia sadar ia juga harus bisa jadi sumber maaf bagi yang lain.” Dan menyitir kalimat Umberto Eco, kata Gunawan lagi: β€œEco punya dua kata yang penting: Kebaikan hati dan sikap berhati-hati. Mungkin pada akhirnya: Kerendahan Hati.”

    Ramayana

    Jadi, sabtu malam lalu kami memutuskan untuk meluangkan waktu menonton sendratari Ramayana di Prambanan, Jogyakarta. Awalnya, tujuan kami adalah pementasan indoor Ramayana sesuai saran kerabat yang juga menemani kami malam itu. Namun ternyata kami mengantre di loket yang salah, yang justru mendatangkan keberuntungan. Kami mendapatkan tiket untuk pementasan Ramayana Open Air Theatre yang konon hanya diadakan sekali dalam setahun. Wow, how lucky we are ^-^.

    Dibelakang panggung terbuka Trimurti tampak menjulang candi Prambanan bersinar keperakan di siram cahaya lampu. Cahaya bulan purnama menambah keelokan suasana malam itu. Trimurti adalah sebutan untuk tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma (Dewa Pencipta), Wishnu (Dewa Pemelihara) dan Siwa (Dewa Pemusnah).

    Pementasan diawali dengan keriaan di kerajaan Mantili, di mana sang raja Prabu Janaka sedang mengadakan sayembara untuk menentukan calon suami bagi putrinya yang cantik jelita, yaitu Dewi Shinta. Sayembara kemudian dimenangkan oleh Putra Mahkota kerajaan Ayodya yang bernama Rama Wijaya.
    photo(2)
    Sang Putra Mahkota Rama Wijaya beserta istrinya, Dewi Shinta disertai Leksmana (adik Rama) sedang dalam pengembaraan dan sampai di hutan Dandaka. Rahwana yang melihat Shinta kemudian berniat untuk memilikinya. Rahwana sebenarnya sangat memuja Dewi Widowati. Dan setelah melihat Shinta, Rahwana menganggap bahwa Shinta adalah titisan Dewi Widowati yang selama ini ia cari. Maka, Rahwana mencari akal. Rahwana mengubah seorang pengikutnya menjadi seekor kijang kencana untuk menggoda. Melihat keelokan kijang tersebut Dewi Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Rama berusaha untuk menangkap kijang tersebut dan meninggalkan Shinta bersama Leksmana. Karena Rama tak kunjung datang Shinta merasa cemas. Ia meminta Leksmana untuk mencari Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana melingkari Shinta dengan lingkaran magis untuk menjaga keselamatan Shinta. Rahwana yang telah mengetahui Shinta seorang diri berusaha untuk menculiknya. Namun usaha itu gagal karena lingkaran magis yang dibuat Leksmana. Rahwana mencari akal dengan mengubah dirinya menjadi Brahmana tua. Shinta yang melihat Brahmana tua itu merasa kasihan dan keluar dari lingkaran untuk memberikan sedekah. Pada saat itu Rahwana langsung menarik Shinta dan dibawa terbang ke Alengka.

    Rama berhasil memanah kijang, yang kemudian berubah menjadi Raksasa Kalamarica. Maka terjadilah peperangan antara mereka berdua. Rama akhirnya berhasil memanah Marica. Leksmana berhasil menyusul Rama dan mengajak untuk segera menemui Shinta.

    Perjalanan Rahwana membawa Shinta ke Alengka terhambat oleh seekor burung garuda bernama Jatayu. Jatayu ingin menolong Shinta yang dikenalinya sebagai putri Prabu Janaka sahabatnya. Namun sayang Jatayu dapat dikalahkan oleh Rahwana. Sementara itu Rama dan Leksama kembali ke tempat dimana Shinta ditinggalkan. Karena tidak menemukan Shinta maka mereka mencarinya. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Jatayu yang terluka parah. Rama yang mengira istrinya diculik oleh Jatayu hampir saja membunuh Jatayu. Untunglah Leksamana berhasil mencegah Rama. Jatayu kemudian menceritakan peristiwa yang sebenarnya sebelum akhirnya ia sendiri mati. Di tengah kesedihan itu, mereka bertemu dengan seekor kera putih yang bernama Hanuman. Hanuman diutus oleh pamannya Sugriwa untuk mencari dua satria yang dapat mengalahkan Subali. Sugriwa tidak dapat mengalahkan Subali, kakaknya yang sangat sakti yang telah merebut Dewi Tara kekasih Sugriwa. Rama kemudian membantu Sugriwa mengalahkan Subali. Dan atas jasa baik Rama, Sugriwa membantu Rama untuk mencari Dewi Shinta. Sugriwa meminta Hanuman untuk mencari dan menyelidiki negeri Alengka.

    Di negeri Alengka sendiri, kemenakan Rahwana Trijata sedang menghibur Shinta. Rahwana yang kesal karena Shinta menolak menjadi istrinya berupaya untuk membunuh Shinta. Namun niat itu dapat dicegah Trijata. Trijata meminta Rahwana untuk bersabar dan berjanji akan menjaga Shinta. Hanuman yang telah berhasil mengetahui keberadaan Shinta kemudian menyanyikan tembang sebagai isyarat kehadirannya dan menghadap Shinta untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Untuk mengetahui kekuatan kerajaan Alengka, Hanuman mengobrak-abrik taman kerajaan. Karena kejadian itu, Hanuman ditangkap oleh Indrajid, putra Rahwana. Rahwana sangat marah dan hampir saja membunuh Hanuman namun dapat dicegah oleh Kumbakarna, adik Rahwana. Sayang, Kumbakarna diusir dari kerajaan Alengka karena dianggap menentang. Dan Hanuman dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup. Akan tetapi bukannya mati, dengan api itu Hanuman dapat membakar kerajaan Alengka. Hanuman kemudian menemui Rama.

    Setelah mengutus Hanuman, Rama Wijaya beserta kera-keranya mereka berangkat untuk membendung samdra sebagai jalan menuju Alengka. Usai membendung samudra, Hanuman datang untuk melaporkan keadaan dan kekuatan bala tentara Alengka. Kemudian Rama mengutus Hanuman, Anggodo, Anila, dan Jembawana untuk memimpin prajurit menyerang Alengka.

    Bala tentara yang sedang berjaga-jaga dikejutkan oleh serangan prajurit kera. Dalam peperangan itu Kumbakarna dan Indrajid gugur. Rahwana juga gugur terkena panah pusaka yang ditembakkan oleh Rama.

    Usai peperangan, Shinta, dengan diantar oleh Hanuman kemudian menghadap Rama. Namun Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama di Alengka. Shinta kemudian dengan suka rela membakar dirinya untuk membuktikan kesucian dirinya. Shinta selamat dari api berkat kejujuran dan pertolongan dari Dewa Api. Rama pun menerima kembali Shinta dengan rasa haru dan bahagia.

    Oya, di tengah-tengah pementasan ternyata hujan mengguyur. Tidak lama dan deras sih tapi lumayan membuat sebagian besar orang meninggalkan tempat duduknya. Pesan moralnya: ada baiknya mempersiapkan untuk membawa payung sekedar berjaga-jaga.

    Ini beberapa cuplikan rekaman video amatir. Silakan menikmati.

    Rahwana terkena panah Rama Wijaya

    Editing Buku

    Seorang teman beberapa bulan lalu menawarkan saya untuk mengedit sebuah buku religi. Tawaran yang menarik sekaligus menantang. Pertama, saya belum pernah mengedit buku religi. Dari dua buku yang ia ajukan saya memilih satu buku. Buku kedua saya belum berani mengeditnya, karena topik bahasan yang kurang saya kuasai.

    Sebenarnya saya sedikit khawatir juga, karena buku religi tentulah berbeda dengan buku umum. Penulisan ayat-ayat al-Qur’an tentulah harus diperhatikan secara seksama. Saya kemudian mulai membaca buku-buku religi. Membaca di sini maksudnya memperhatikan aturan yang digunakan dalam penulisan buku agama. Saya juga bertanya kepada seorang kawan editor yang kebetulan bekerja di penerbitan buku-buku islami. Walau ia sendiri lebih banyak mengedit dan menerjemahkan buku dan novel umum.

    Dan, merujuk dari artikel mengenai editing, tugas editor salah satunya adalah mengedit atau menyunting sebuah buku tanpa mengubah isi buku. Maka, itulah yang saya lakukan. Saya mencoba memperbaiki kesalahan tulis, bahasa, ejaan, dan lain-lain. Saya beruntung karena ternyata mas Setiadi R. Saleh (penulis buku) yang bukunya saya edit ini jam terbang profesi kepenulisannya sudah tinggi, maka proses editing yang saya lakukan tidak begitu banyak.

    Buku ini sudah terbit dalam bentuk e-book. Untuk yang berminat membeli dan membacanya, Anda dapat mengunduhnya dengan menggunakan aplikasi Qbaca. Qbaca dapat diakses melalui telepon genggam dengan OS Android, juga sudah dapat diunduh di Iphone. Berikut ini adalah tampilan buku tersebut. Oya, Anda juga boleh memberi saran dan kritikan untuk hasil penyuntingan naskah dari buku religi ini :).
    Screenshot_2012-12-28-12-25-02 Screenshot_2012-12-28-12-25-23

    Launching Peluncuran Novel Tofi

    Saya sebenarnya tak menyangka ketika mendapat undangan Peluncuran Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius dari Surya Edu Gasing. Beberapa bulan sebelumnya saya dan beberapa rekan BBI berkesempatan menjadi first reader untuk novel yang ditulis oleh Prof. Yohanes beserta dua kawannya. Dan ternyata setelah dikonfirmasi dengan kawan BBI (Blogger Buku Indonesia), mereka yang dikirimi draft novel itu juga dikirimi undangan untuk acara di atas. Sayangnya, beberapa kawan yang tinggal di luar kota tidak bisa hadir, dan kawan lainnya di Jakarta tidak bisa absen dari kantor. Walaupun sebenarnya mereka sangat antusias. Tentu saja, untuk para pecinta buku, acara-acara bedah buku, talk show, atau apapun yang berkaitan dengan buku selalu menarik perhatian ^-^.

    Jadi, saya ingin berbagi cerita sedikit mengenai Launching Peluncuran Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius. Bertempat di cafe The Cone, Lantai 7, FX-Senayan, acara ini dijadwalkan mulai jam 13.00-16.00.

    Tofi adalah novel pertama karya Prof. Yohanes Surya. Cukup membuat pertanyaan, mengapa seorang ilmuwan yang kesehariannya pasti sudah sangat sibuk mau menyempatkan dirinya membuat novel. Apa motif dibelakang lahirnya karya Tofi ini?

    Sebelumnya, nama Tofi diambil dari singkatan Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Kita tahu bahwa Prof. Yohanes Surya adalah seorang fisikawan. Ia juga aktif membimbing TOFI. Di bawah asuhannya, anak-anak binaan Prof. Yohanes Surya berhasil menyabet medali emas, perak, dan perunggu dalam berbagai kompetisi Sains dan Fisika Internasional.

    Nama Tofi kemudian diambil untuk dijadikan salah satu tokoh dalam novel ini.

    Dalam presentasi singkatnya, Prof. Yohanes menjelaskan alasan Beliau membuat novel Tofi. Novel Tofi adalah alat perjuangan. Apa yang diperjuangkan? Memperjuangkan visi besar Surya Institute untuk Indonesia Jaya, yaitu Indonesia yang mandiri, aman, maju, dan makmur.

    Apa yang melatarbelakangi keinginan terbentuknya Indonesia Mandiri?
    Kemudian Prof. Yohanes bercerita latar belakang sejarah dunia.
    Abad 13 dan 14, Dunia dikuasai oleh bangsa Mongol, Jengis Khan
    Abad 15: Kebangkitan Gajah Mada dan Hayam Wuruk
    Abad 16-17: Inggris, Belanda, Spanyol (Negara-negara Barat berkuasa)
    Abad 21: China, India (Kembali ke Asia)

    Kemudian Prof. Yohanes mempertanyakan, apakah itu artinya kejayaan akan berulang kembali untuk Asia, seperti di abad 13 dan 14? Apakah ini saatnya majapahit baru bangkit kembali?

    Menurut Prof. Yohanes ada tanda-tanda kemunculan Majapahit baru, di antaranya:
    1. Perekonomian membaik. Menurut data statistik tingkat pendapatan Indonesia mencapai 7% per tahun.
    2. 118 juta manusia ada di usia produktif.
    3. Mereka percaya diri, dibuktikan dengan keberhasilan Tofi meraih 100 medali di ajang internasional.
    4. Sadar bahwa kita memiliki kekayaan alam yang tak habis.
    5. Terbentuk Asean State. Adanya 30.000 Ph.d dalam bidang sains dan teknologi.
    6. Papua dan daerah-daerah terbelakang bangkit. (Prof. Yohanes bilang jika dulu anak Papua takut bersaing dengan anak Jakarta, sekarang terbalik. Anak Jakarta tahu bahwa saingan terberat mereka dalam kompetisi adalah anak-anak Papua)
    7. Metode Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan)

    Karena itulah, melalui novel Tofi, Prof. Yohanes ingin memasyarakan gerakan cinta sains. Kita tahu, sains bisa mengubah peradaban.

    Novel Tofi adalah sebuah cerita fiksi yang berlatarbelakang sains. Konsep fisika yang ada di dalamnya adalah fakta. Semisal sepatu nano, sepatu yang membuat pemakainya dapat meloncat beberapa meter. Sepatu ini memang belum ada di pasaran tapi teknologinya sudah ada. Begitu juga dengan pakaian yang membuat pemakainya tak terlihat, dan lain-lain. Namun jangan khawatir, novel ini sangat mudah dicerna. Jangan bayangkan kita akan melihat rumus-rumus fisika atau matematika yang rumit. Sebaliknya fisika dipaparkan dengan sederhana. Di sini juga kamu belajar arti sebuah persahabatan dan kejujuran. Untuk resensi singkat novel ini kamu bisa membacanya di sini.

    Novel Tofi ditulis oleh Prof. Yohanes dan dua rekannya, yaitu Ellen Conny dan Sylvia Lim. Menurut Ellen, mereka mempersiapkan waktu 3 tahun untuk menulis novel Tofi. Wow, bukan main, bukan?

    Prof. Yohanes sudah mempraktikkan apa yang disampaikan oleh Ibu Sirikit Syah, Direktur Sirikit School of writing yang mengatakan bahwa ilmuwan harus peduli pada masyarakat. Ilmuwan juga sebaiknya bisa menulis hal-hal lain. Tidak ada yang harus digaris batasi antara ilmuwan dan seni. Keduanya harus saling melengkapi. Saya tiba-tiba teringat pada Steve Jobs dan Apple-nya. Kepopuleran Apple adalah karena Jobs mampu mensinergikan sebuah produk teknologi canggih dengan karya seni yang indah.

    Kembali ke novel Tofi, ada baiknya para pendidik membaca buku ini. Melalui buku ini kita bisa belajar bagaimana pengajaran dan pendidikan dapat diberikan dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

    Oya, saya dapat goodie bag loh. Isinya? Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius Jilid 1. Tak lupa, di akhir acara kami meminta tanda tangan Beliau. Dan karena saya mengajak keponakan, maka acara tanda tangan ini biar untuk dia saja… hehe.

    Bedah Buku “Manajemen Alhamdulillah”

    Sambil menunggu acara bedah buku “Manajemen Alhamdulillah” dimulai, yang semula dijadwalkan jam 16.30 namun kemudian diundur jam 18.30, saya berkeliling melihat buku yang dipamerkan di ajang Pameran Buku. Banyak sekali pilihan buku yang memikat hati. Namun kali ini saya harus memantapkan hati untuk tidak tergoda setelah hari Minggu kemarin saya memborong buku di satu penerbit ditambah satu dua buku di stan lainnya. Berhasil atau tidaknya, kita lihat saja nanti ya.

    Suasana sedikit lengang. Mungkin karena hari kerja. Tapi, jangan salah. Kesan sunyi itu buyar ketika saya memasuki area tengah di dalam gedung. Di sana rupanya seorang Dahlan Iskan sedang mengadakan talk show untuk buku barunya. Cukup rame juga.

    Sambil menunggu bedah buku Pak Indra Utoyo, saya berkenalan atau tepatnya dikenalkan oleh partner dengan Ibu Tutu, salah satu direktur di Mizan, dan Bapak Novel. Karena kebetulan saya pernah menerbitkan buku cerita bergambar di salah satu divisi Mizan, yaitu Ekuator, perbincangan kami akhirnya tidak jauh dari seputaran menulis. Sayangnya, kami tidak bisa mengobrol banyak. Namun demikian saya berharap semoga kelak saya bisa menulis buku untuk Mizan ^-^. Amin yra.

    Saya juga berkenalan dengan penulis novel Jakarta, pemuda campuran Perancis Inggris yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia. Saya sendiri baru tahu novel Jakarta ini. Mumpung ketemu sekalian saja foto bareng.

    Akhirnya, acara yang ditunggu pun tiba. Diawali oleh penandatanganan MoU antara Qbaca dengan para publishers. Mengenai Qbaca bisa dibaca di sini. Diikuti kemudian presentasi yang diberikan oleh Pak Indra sebagai pembicara utama. Pak Indra ditemani oleh Bapak Bambang Trim perwakilan dari IKAPI, Bapak Irfan dari MUI, dan Bapak Novel dari Mizan. Sebelumnya, Pak Bambang Trim memberikan kesan mengenai buku Manajemen Alhamdulillah dari sisi editorial serta kesan Beliau terhadap isi buku tersebut. Pak Novel menceritakan visi dan misi Mizan dalam rangka menerbitkan buku Manajemen Alhamdulillah. Sementara Pak Irfan menambahi dan mengupas dari sisi religi.

    Pak Indra menuturkan konsep Manajemen Alhamdulillah adalah selalu bersyukur. Hidup tidak selalu indah, namun dibalik semua itu selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Maka, selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. adalah sikap yang senantiasa harus kita lakukan. Dari sikap itu akan lahir dorongan dalam diri untuk mencapai kesuksesan yang seharusnya.

    Penulis juga memaparkan resep untuk menjadi orang-orang besar (great people) dengan membagi atas tiga unsur penting, yaitu: self development, self-conciousness, dan self-contribution. Dengan ketiga sikap itu diharapkan dapat membawa kita menuju cahaya kearifan. Dan kitapun dapat menerapkan ketiganya tidak hanya untuk manajemen diri sendiri namun juga perusahaan.

    Setelah menuntaskan presentasinya, pemandu memberikan kesempatan kepada peserta bedah buku untuk bertanya. Ternyata, cukup banyak juga yang bertanya. Di akhir acara semua peserta diberi buku Manajemen Alhamdulillah. Dan seperti acara bedah buku lainnya, segera semua peserta mengantre untuk mendapatkan tanda tangan penulis, tak terkecuali saya.. hehe. Oya, berfoto bareng juga donk.

    “Al-Fatihah, rahasianya luar biasa. Mengapa pembukaannya alhamdulillahi rabbil alamin? Pada saat orang bisa membedah samudra syukur, dia bisa menemukan hal dahsyat dalam hidupnya. Apapun yang terjadi, ya alhamdulillah.” ~ Eros Djarot.

    Untuk resensi bukunya dapat dibaca di blog saya di sini. Untuk sinopsisnya dapat langsung ke situs Mizan di sini.