BBM Naik

Tadi malam pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan untuk mencabut subsidi BBM yang berdampak kepada kenaikan harga BBM. Keputusan ini tentu saja ditanggapi dengan beragam komentar, ada yang setuju dan lebih banyak yang menolak plus juga ditambahi dengan hujatan kiri-kanan serta prasangka yang tak jelas ujungnya :).

Saya tidak ingin menjelaskan posisi keberpihakan saya. Saya hanya ingin bercerita bahwa tadi malam saya berdiskusi dengan partner. Kami berbicara tentang harga minyak dunia yang konon menurun. Lalu, mengapa BBM kita dinaikkan jika harga minyak dunia turun?

Jadi, begini, partner mengibaratkan seperti kita naik gunung. Ketika kita naik gunung maka jalannya akan menaik, bukan? Tetapi waktu kita mendaki itu ada kalanya kita harus naik atau turun untuk bisa mencapai puncak gunung. Nah, begitu juga minyak. Secara global harga minyak naik dari tahun ke tahun (tidak mungkin turun. Kenapa tidak mungkin? Lihat penjabarannya di bawah nanti ya). Tetapi dalam proses kenaikannya terkadang ada turun dan naik. Kondisi turun ini lah yang dimaksud saat ini.

Harga minyak selalu naik karena sumber daya alam kita semakin lama semakin sedikit sementara kebutuhan kita semakin besar (Itu sebabnya harga minyak dunia tidak mungkin turun).

Kita terus saja mengebor minyak, mencari daerah-daerah baru dengan cadangan minyak di bawahnya, lalu meninggalkan ketika wilayah itu tidak lagi menguntungkan. Tidakkah kita menyadari bahwa kita telah merusak planet kita sendiri? Tempat kita dan anak cucu kita tinggal?

Di buku Dunia Anna digambarkan para pengungsi dari Arab yang meninggalkan tanah kelahiran mereka yang telah menjadi kering, tandus dan panas.
“Minyak bumi telah menjadi bencana buat negaraku. Kami menjadi kaya dengan cepat, tapi sekarang kami malah menjadi miskin. Bagaimana bisa tetap kaya kalau kami tidak lagi punya negara yang dapat ditinggali?” (halaman 77)

Apa hubungan minyak dengan lingkungan hidup? Kutipan-kutipan dari buku Dunia Anna ini mungkin bisa memberi sedikit sudut pandang yang berbeda mengenai perlu adanya pencabutan subsidi BBM. Walaupun akan lebih bagus jika membaca bukunya langsung. Dengan demikian kita bisa merenungkannya lebih dalam.

“Dulu ada yang berpendapat bahwa mencairnya es di Kutub Utara tidak perlu dikhawatirkan… Toh, tidak ada orang yang main ski atau seluncuran di sana … Lagi pula di bawah itu lapisan es itu ada cadangan minyak yang besar … dan Norwegia berhak untuk mengekstraksi minyak bumi sampai ke wilayah Kutub Utara. Kenapa sih, harus ribut tentang kelangsungan hidup beruang kutub? Kan, sudah cukup kita menyelamatkan beruang panda? Namun, para burung unta iklim ini tidak mengerti bahwa kalau es mencair … maka itu tandanya keseluruhan bumi memanas.” (halaman 88)

“Jika seluruh cadangan minyak, batu bara, dan gas bumi yang masih tersimpan dalam planet ini dipompa keluar dan disebarkan ke atmosfer, mungkin peradaban kita tidak akan bisa bertahan.” (halaman 67 )

Anna terus berdiri di depan jendela dan merenungkan apa yang telah dibacanya tentang minyak bumi. Dia mencatat angka-angka yang hampir tak terperikan.

Satu barel minyak bumi sama dengan 159 liter dan pada saat ini bisa dijual kira-kira seharga seratus dollar, atau 600 kroner. Satu barel minyak ini menghasilkan energi sebanyak 10.000 jam kerja manusia. Di negeri ini angka itu sebanding dengan enam tahun bekerja. Dengan gaji tahunan sebesar 350.000 kroner, itu berarti total pengeluarannya 2.1 juta kroner dalam bentuk gaji. Jadi, satu barel minyak bumi menghasilkan energi yang sebanding dengan lebih dari dua juta kroner bila harus digantikan dengan kerja manual. Namun, rata-rata satu orang Amerika menggunakan 25 barel minyak per tahun. Ini sebanding dengan 150 tahun kerja dan ini kira-kira berarti juga rata-rata setiap orang Amerika menghabiskan seratus lima puluh “budak energi” yang digunakan untuk menjalankan semua mobil dan mesin, semua kulkas dan AC, seluruh pesawat terbang, pabrik, pertanian, dan mesin-mesin hiburan … Dan ini baru bicara tentang minyak bumi saja! Padahal, masih ada batu bara dan gas.

Anna bertanya pada diri sendiri mungkinkah sebenarnya minyak bumi itu sebuah sumber energi yang dihargai terlampau murah. ………

“Kok, bisa, ya sumber energi yang satu ini jadi sebegitu murahnya? Anna mencoba mencari jawabannya sendiri. Minyak jadi sebegitu murahnya karena tidak ada yang memilikinya. Tidak ada pihak yang bisa disebut pemilik minyak bumi, sehingga tidak ada yang menentukan harganya. Yang ada tinggal memompa saja!
Minyak bumi itu umurnya jutaan tahun. Pada dasarnya itu adalah sebuah simpanan dari jutaan tahun energi matahari. Namun, karena tidak ada yang memilikinya, ia bisa saja dihabiskan begitu saja. Satu, dua, tiga, dan tamatlah riwayatnya!

Memang benar apa yang dikatakan para politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun, banyak juga orang-orang yang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. …

Apakah dengan cara ini orang tidak menghabiskan sumber daya alam yang seharusnya bisa digunakan generasi selanjutnya? ….
Apakah dia sedang menjadi saksi sebuah perampokan besar-besaran terhadap generasi di masa depan?
Tidakkah pembakaran berbagai sumber daya fosil ini dalam waktu singkat juga akan memusnahkan berbagai cadangan sumber daya alam yang dapat diperbarui? Tidakkah pesta minyak tak bermoral ini menjadi ancaman signifikan bagi sumber penghidupan tanaman, hewan, dan manusia? Dan bukankah penghancuran alam ini merupakan sebuah perampokan atas mereka yang seharusnya mewarisi Bumi ini?

**

Minggu kemarin saya menonton Interstellar. Entah mengapa saya melihat keterkaitan kisah di film dengan Dunia Anna. Di film itu digambarkan dunia masa depan yang tak lagi punya gairah atas ilmu pengetahuan karena saat itu masyarakat dihantui krisis pangan. Jagung yang menjadi sumber makanan satu-satunya gagal panen oleh badai debu. Bumi tak lagi ramah. Pada saatnya jagung pun akan menghilang. Kondisi yang ada pada film itu bukanlah situasi masa lalu ketika teknologi belum ditemukan tetapi sebaliknya, bumi pernah memiliki masa gemilang namun perlahan hancur oleh keserakahan manusia.

Dunia Anna pun menggambarkan dunia masa depan yang barangkali maju dengan teknologinya tetapi dengan situasi bumi yang tak lagi ramah. Kelaparan ada dimana-mana. Cuaca panas dan kering sementara di belahan lainnya dengan dingin menggigit dan terpaan badai sementara sumber daya alam yang tersisa semakin sedikit. Perlahan manusia pun akan menghilang dari bumi ini.

Dan, menyikapi keputusan pemerintah menaikkan harga BBM saya memilih untuk tidak menanggapi dengan kesinisan. Alasan di atas itulah yang membuat saya mencoba memahami bahwa Bumi ini bukan hanya milik kita, tetapi kita bertanggungjawab kepada generasi berikutnya.

Barangkali juga mencairnya es di kutub, pemanasan global tidak membuat kita cukup peduli dan terus saja merusak planet ini. Dengan adanya kenaikan BBM barangkali bisa menyadarkan kita untuk mau melakukan penghematan, berjalan kaki jika jarak yang kita tempuh tidak jauh, menggunakan sepeda, apapun. Mungkin, ya , mungkin, Tuhan sekali lagi ingin mengingatkan kita tentang masa depan planet ini.

Bumi adalah planet yang Tuhan peruntukkan untuk kita bertumbuh. Mari kita menjaganya bersama-sama untuk anak cucu kita kelak. Kita tidak boleh menghabiskannya begitu saja tanpa menyisakan apapun untuk mereka.

Mengutip kata Jostein, Kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk daripada saat kita tinggali.

Apa Kabar Tontonan TV Kita?

Sudah lama saya puasa menonton TV. Berhenti menonton televisi tanpa sebuah niat khusus, terjadi begitu saja. Barangkali karena bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana lalu lintas begitu padat dan jarak tempuh yang tidak singkat, memang menghabiskan energi. Sampai di rumah badan sudah letih. Kalau harus ditambahi dengan tontonan sinetron yang isinya orang teriak-teriak itu bukan menghibur hati malah sebaliknya, pengin melempar sandal ke televisi :).

Maka, hubungan saya dengan televisi pun berakhir perlahan. Menonton televisi hanya di tempat-tempat tertentu, seperti stasiun kereta api, bandara, rumah saudara, dan lain-lain. Selintas lewat :). Sekarang, untuk berita-berita penting saya lebih mengandalkan TV streaming.

Maka, wajar juga kalau saya tidak update dengan kabar-kabar infotainment dan acara hiburan di TV. Sebaliknya, berita kasak kusuk tingkah laku artis malah saya peroleh dari status kawan-kawan di sosial media. Tetapi, saya hampir tidak pernah membuka link yang mereka sertakan di dalam berita itu. Pertama, keamanan. Saya belajar untuk tidak selalu ‘ingin tahu’ dengan mengeklik sembarang link. Apalagi ada masa virus dan spyware menyebar yang mengakibatkan wall sosial media milik kita ditempeli video atau gambar yang tidak pantas. Kedua, malas. Saya tak terlalu berminat mengikuti kehidupan para artis. Ini sebenarnya lebih ke arah pengereman diri pribadi saja. Saya khawatir bakal tambah nyinyir kalau membaca berita tentang mereka :). Sedangkan saya sedang belajar untuk tidak dengan mudah menghakimi orang lain. Sulit loh itu. Sungguh.

Namun ada kalanya pernyataan selintas di status kawan membuat saya gregetan juga ingin berkomentar. Halah :).

Saya tidak tahu seperti apa acara televisi saat ini. Tetapi saya percaya bahwa tontonan pun seperti halnya bacaan akan membentuk cara kita berpikir. Pembentukan karakter kita pun tidak lepas dari pengaruh keduanya, yang kita lihat dan yang kita baca.

Nah, kebetulan beberapa hari yang lalu saya melihat film televisi jaman dahulu di youtube. Mulanya saya mencari film Neraca Kasih yang dibintangi Tuti Indra Malaon. Konon ini film bagus. Dari film Neraca Kasih saya lalu menenukan tak sengaja film yang dibintangi oleh Yessy Gusman dan Rano Karno (dua artis paling top di jamannya) yang berjudul Buah Terlarang. Hm, memang agak gimana gitu judulnya ya? 🙂

Filmnya tak penuh, tapi ada beberapa hal menarik yang saya amati dari film lama ini.

Dikisahkan, sepasang remaja SMA yang saling jatuh cinta. Singkat cerita, terjadi kehamilan. Bagaimana sikap orang tua, anak, dan orang-orang disekeliling mereka menyikapi peristiwa tersebut? Ini yang menarik.

Dalam sebuah adegan, ditampilkan bagaimana si Ibu perempuan berkomunikasi dengan sang putri. Bagaimana si Ibu menghargai privasi anaknya dengan meminta asisten rumah tangganya membuat bubur dan segera menutup pintu kamar agar mereka berdua bisa berkomunikasi. Walaupun kaget dan marah dengan pengakuan putrinya tetapi si Ibu tampak bisa menahan emosinya. Kalau di sinetron sekarang barangkali si Ibu sudah teriak-teriak histeris (semoga masih dengan kalimat yang santun ya? 🙂 ) sambil tak lupa mata melotot dan urat wajah menegang. Lalu, sang anak pun tak kalah galak. Balik menyalahkan Ibunya dan membanting pintu, pergi. Tinggal deh si Ibu menangis sesengukan. Drama banget ya? (Jadi bertanya-tanya, apakah kepandaian masyarakat kita ber-drama di dalam dunia nyata ini diwarisi dari tontonan yang seperti ini ya?).

Adegan lainnya dalam film lama itu adalah ketika si Ibu mencari waktu yang tepat untuk bisa menceritakan kehamilan putri mereka kepada sang suami. Ada juga diceritakan bagaimana para Guru berdebat untuk menyelesaikan permasalahan yang bisa mencoreng nama sekolah. Para Guru di film ini digambarkan sebagai orang-orang pintar yang terdidik. Perhatikan bagaimana mereka berdiskusi dan sampai kepada keputusan akhir.

Beberapa kutipan dialog yang saya suka dari film ini.

“Memberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah juga berarti merupakan hukuman yang berat. Dia diuji untuk menghadapi kenyataan dan lingkungannya. Hukuman tidak harus berupa penistaan. Senyuman pun bisa merupakan hukuman.”

“… Pendidikan tidaklah sekedar memperoleh ijasah tetapi mempersiapkan anak didik kita menghadapi masyarakatnya kelak.”

Ibu si anak laki-laki: “… Tampaknya dia putus asa dan tidak sanggup menghadapi Guru dan teman-temannya.” (ketika si Ibu menceritakan bahwa anak laki-lakinya tidak ingin melanjutkan sekolah)

Wali kelas: “… Tetapi ini merupakan ujian bagi dia untuk menghadapi kenyataan. Dan itu memang pahit tapi ini sangat perlu untuk membuktikan bahwa perbuatannya tidak dilakukan iseng-iseng.”

Tanpa harus berteriak kasar dan melotot serta tegangan syaraf lainnya toh pesan film ini pun tetap sampai, bahwa apa yang kedua remaja itu lakukan adalah hal yang salah, yang membuat orang tua mereka marah dan kecewa. Namun, itu lah konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Keduanya harus berani belajar untuk menghadapi kehidupan dan bertanggungjawab terhadap pilihan mereka.

Jaman memang berubah, tapi nilai-nilai moral dan budi pekerti tak selayaknya tergerus oleh kemajuan jaman.

Yang berminat melihat trailernya silakan ke sini: https://www.youtube.com/watch?v=pmzy5ebC810

Nanas

Nanas atau ananas adalah tanaman buah tropis. Tanaman ini berasal dari Brasil. Pohon nanas dapat ditanam di ketinggian 1-1500 m dpl dan membutuhkan asupan matahari yang cukup. Pohon nanas berperawakan rendah, tidak tinggi seperti umumnya tanaman. Pohon nanas memiliki daun yang panjang dengan duri-duri tajam di tepi daunnya. Rasa buah nanas asam sampai manis. Selain dapat dikonsumsi langsung, buah nanas juga dapat dibuat menjadi selai atau sirop.

Buah nanas dipercaya dapat mengurangi jerawat dan meningkatkan pencernaan. Berbagai kelebihan buah nanas lainnya dapat ditelusuri di internet.

Nah, entah kapan tepatnya, saya membeli buah nanas. Saya membeli buah ini karena bentuknya yang unik, kecil dengan daun panjang bergerigi, langsing dan tipis. Pokoknya cantik deh :). Saya lupa nama buahnya, kalau tidak salah nanas madu hias atau nanas hias. Entahlah. Selesai mengupas nanas, mahkota nanas saya tancapkan ke dalam pot. Karena awalnya diniatkan sebagai hiasan maka pot kecil menjadi pilihan. Nyaris tanpa perawatan khusus, pohon nanas ini tumbuh dengan daun-daun yang semakin panjang dan rimbun. Durinya sangat tajam.

Sampai suatu ketika, saya terkejut dengan munculnya bunga di tampuk pohon nanas. Saya sama sekali tidak menyangka pohon nanas ini akan berbuah, apalagi di dalam pot ukuran kecil. Senang? Iya donk, tapi juga bingung bagaimana memindahkan si pohon ke dalam pot yang lebih besar agar buahnya bisa tumbuh sempurna. Pengalaman tertusuk duri membuat saya mengurungkan niat untuk memindahkan si nanas. Sementara ini, sesuai saran kawan-kawan pekebun, saya berikan nutrisi hidroponik atau air bekas cucian beras, daging dan ikan sebagai gizi tambahannya. Semoga si nanas tumbuh sehat dan bisa dipanen. Amin.

Ini penampakan pohon nanas saya. Btw, ada yang tau nama jenis nanas ini?
photo 1 (2) photo 3 (1) nanas

Srikaya

Menurut Wikipedia, srikaya atau buah nona (Annona squamosa), adalah tanaman yang tergolong ke dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis. Buahnya berbentuk bulat atau kerucut seperi cemara dengan kulit bermata banyak serupa sirsak. Kulinya bersisik dan berbenjol. Daging buahnya berwarna putih dan memiliki rasa seperti podeng (es podeng kah maksudnya? wow, itu enak sekali 🙂 ).

Tanaman ini konon bisa mencapai 8 m tingginya. Daunnya berjarang (ini kah yang menyebabkan pohon srikaya daunnya tampak tidak rimbun seperti tanaman lain?). Bunga srikaya bisa muncul dalam tandan sebanyak 3-4, tiap bunga berlebar 2-3 cm, dengan enam daun bunga atau kelopak, kuning-hijau berbintik ungu di dasarnya.

Untuk mereka yang memiliki darah rendah, srikaya adalah buah yang disarankan untuk dikonsumsi karena merupakan sumber zat besi yang baik. Selain itu srikaya juga kaya akan energi makanan.

Selain buahnya yang menyehatkan, biji srikaya dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan juga dapat digunakan untuk membasmi kutu rambut.

Di atas adalah sekilas mengenai buah srikaya disertai manfaatnya. Nah, kali ini saya akan bercerita tentang pohon srikaya kami. Pohon srikaya ini mulanya ditanam di dalam pot. Lama tak berbuah dan beberapa kali terkena hama kutu putih. Akhirnya saya memutuskan untuk memindahkan pohon srikaya ini ke tanah. Barangkali kalau di tanam di tanah akarnya bisa lebih berkembang.

Tetapi ternyata tidak ada banyak perubahan. Saya sempat berpikir pohon ini akan mati. Lalu, saya tebarkan NPK ke sekeliling media. Entah karena NPK atau memang sudah saatnya, saya melihat beberapa bunga muncul di ranting pohon srikaya. Antara ragu dan berharap perkiraan saya tepat, maka saya menanyakan ke kawan-kawan penggiat berkebun. Tada, coba tebak apa jawaban mereka. Pasti sudah tahu deh. Yup, itu bunga srikaya 🙂

Lekas besar ya buah, sehat dan semoga bisa dipanen .. hehe.
1475899_10205163216589972_1920125423369818127_n 10320370_10205163216949981_5039486315449785203_n

Bikin Kompos Sendiri

Penyumbang terbesar sampah di kota-kota besar seperti di Jakarta adalah dari sektor rumah tangga. Selain menyebarkan bau tidak sedap sampah-sampah ini juga bisa menjadi sumber penyakit.

Nah, bagaimana ya menyiasati sampah-sampah ini agar bermanfaat sekaligus juga bisa meringankan pekerjaan mang tukang sampah?

Kompos. Yup, coba bikin kompos sendiri ah. Kompos bikinan kami ini khusus untuk menampung sampah dari daun-daun kering, sayuran dan buah yang tidak layak dikonsumsi lagi.
Kata kunci pembuatan kompos sederhana saja, yaitu unsur karbon dan nitrogen harus terpenuhi.
Nah, berikut ini adalah cara pembuatan kompos yang diajarkan partner 🙂

1. Siapkan ember atau drum. Lubangi bagian dasarnya, tidak perlu besar, kira-kira cukup sebagai tempat pembuangan air.
2. Isikan sebagai dasarnya dengan tumpukan daun kering. Usahakan agar lembap saja, cukup semprotkan beberapa tetes air (jangan sampai basah atau tenggelam).
3. Berikutnya, sampah yang boleh dimasukkan ke dalam drum adalah sampah daun, sayur, atau buah yang sudah busuk dan sejenisnya.

Partner juga suka menuangkan biji kopi hasil dari bikin kopinya :). Daun teh juga bisa dimasukkan. Kalau misalnya menggunakan teh celup, buka dari wadahnya dan tuang daun tehnya ke dalam drum.

Untuk tahap berikutnya, setelah sampah daun cukup banyak dapat dimasukkan nasi, kue-kue yang sudah basi atau cangkang telur bisa dimasukkan. Bahan makanan hewani usahakan sedikit saja untuk menghindari bau tak sedap. Oya, kami tak menggunakan bahan tambahan lainnya seperti bakteri pengurai dan lain-lain. Saat ini sedang mencoba hanya dengan mengandalkan dari sampah-sampah di atas tadi. Dan karena kami baru mencoba jadi hasilnya memang belum tampak.

Ini drum tempat meletakkan kompos. Sebagai penutup drum kami menggunakan triplex.
kompos

Pepaya

Sudah lama pengin banget menanam pepaya. Pertama, tanam di pot tapi gagal karena pohonnya kena kutu putih.
Coba semai biji pepaya di rumah Bandung. Tumbuh dan waktu balik ke Bandung ternyata si pohon udah nggak ada. Sepertinya dicabut waktu kebun dirapikan oleh mang tukang kebun. Baiklah, semai berikutnya di depan rumah. Tenyata, si akar nempel tembok rumah. Kok bisa sih? Sepertinya memang belum jodoh, maka dicabutlah si pohon pepaya itu.

Berikutnya semai lagi. Senang nih ceritanya, aku foto lah si pepaya california yang daunnya cakep itu. Lalu, upload donk. Tak disangka ada kawan yang menyarankan agar pepaya jangan ditanam di dekat tembok rumah karena akarnya bisa merusak. Duh, antara sedih dengan terpaksa akhirnya aku cabut hati-hati dengan harapan bisa tumbuh walaupun aku pindah. Namun teryata si pepaya layu dan mati. Hemm, bagaimana baiknya? Akhirnya semai lagi di belakang rumah, masih deket tembok (abis gimana lagi?) tetapi ruang di depannya masih luas untuk tumbuh si akar (begitu kira-kira perhitunganku 🙂 ). Masih ragu terus tanya si mas, jawaban dia sebenarnya sudah bisa aku tebak :). Maka aku mantapkan diri untuk membiarkan si pepaya ini tumbuh dahulu.

Nah, ini pohon pepaya ku yang entah ke sekian kali. Semoga nanti pertumbuhannya bagus dan tidak merusak benda-benda di sekitarnya. Amin.
photo (1)

Tin Green Yordan

Ini pohon tin saya, buahnya sedang ramai sekali. Kata beberapa kawan, tin green yordan memang berbeda dengan jenis tin lainnya, walaupun ditanam di dalam pot namun tidak mengurangi kuantitas buahnya.

Satu lagi, rasa tin GY ini sungguh enak, manis legit. Sayang, untuk bisa menyantap buah ini sepertinya harus bersabar beberapa bulan lagi. Buah tin memang agak lama untuk sampai pada masa matangnya.
10688076_10205021594729514_99000506156694178_o gy1

Membuat Pupuk Cair

Ceritanya saya ingin mempraktikkan ilmu dari kawan-kawan berkebun, salah satunya membuat pupuk cair organik. Saya menyukai hampir segala macam buah kecuali durian dan nangka. Nah, ada kalanya buah yang kita beli ini rusak atau kemudian tidak layak dikonsumsi. Biasanya untuk kasus seperti ini buah akhirnya dibuang. Sayang juga sih tapi untuk disantap pun tidak mungkin karena akan lebih membahayakan.

Dari kawan-kawan berkebun saya belajar bahwa sampah atau limbah sampah yang ada di dapur itu bisa loh kita manfaatkan agar lebih berguna. Salah satunya dengan mengolahnya menjadi pupuk. Jadi, buah atau sayuran pun isi perut ikan dan kepala udang yang tidak terpakai lagi itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Ada beberapa pupuk yang bisa kita hasilkan dari limbah sampah dapur, yaitu:
1. Pupuk cair dari buah
2. Pupuk cair dari sayuran hijau
3. Pupuk cair dari isi perut ikan
4. Pupuk cair dari kepala udang
5. Dan masih banyak lainnya.

Beberapa pembuatan pupuk cair yang pernah saya buat adalah pupuk cair dari sampah buah dan kepala udang. Cara pembuatan pupuk lebih lengkapnya saya baca dari blog kawan berkebun saya, mbak Evyta.

Begini langkah saya membuat pupuk cair buah.
1. Buah yang sudah tidak layak konsumsi saya kumpulkan. Biasanya saya memilih buah-buah yang lunak, seperti strawberry, jambu biji, pepaya, anggur, pisang. (Kebetulan saya penyuka strawberry, jadi buah ini lumayan sering ada di kulkas rumah..hehe).
2. Buah-buah tersebut saya tumbuk. Lalu saya masukkan ke dalam botol plastik aqua seukuran 1 liter dengan dicampur air.
3. Tumbuk gula merah dan larutkan bersama air. Masukkan ke dalam botol pertama yang telah berisi larutan buah.
4. Tutup dan diamkan selama kurang lebih seminggu. Pada saat itu, biasanya larutan akan menjadi jernih dan sisa buah yang tidak tertumbuk halus akan mengambang di permukaan botol.
5. Untuk menggunakan, tuang sedikit pupuk cair ke dalam ember dan tambahkan 1 liter air. Siramkan ke tanaman.

Langkah yang sama saya terapkan untuk pembuatan pupuk cair dari kepala udang yang baru saya buat beberapa minggu yang lalu.

Beberapa kali saya membuat pupuk cair dari buah dengan cara di atas. Saya baru sadar kalau ada bagian yang terlewatkan, yaitu menambahkan EMx atau MOL yang berfungsi untuk menguraikan dan membantu proses fermentasi.
Awalnya sempat ragu namun setelah berkonsultasi dengan mbak Evyta, saya mendapat pencerahan bahwa mikroorganisme yang dibutuhkan untuk membantu proses penguraian dapat muncul dari buah-buahan dan udang itu sendiri. Yang membedakan mungkin pada waktu yang diperlukan untuk proses penguraian yang sedikit lebih lama dibandingkan jika kita menggunakan mol atau EMx. Kelebihannya mikroba yang diperoleh benar-benar lokal dari bahan pupuk tersebut. Hasilnya pun tak kalah bagus kok 🙂

Berikut ini adalah penampakan pupuk cair dari sisa buah dan kepala udang yang saya buat.
photo 1 photo 2

Belajar hal-hal baru itu sungguh menyenangkan. Dari awalnya belajar bertanam buah dalam pot lanjut mengolah sampah dapur menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pestisida nabati dan pupuk untuk tanaman kita. Mudah-mudahan langkah ini juga bisa meringankan pekerjaan mang tukang sampah juga 🙂

update:
POC (Pupuk Cair Organik) dari kepala udang, atau isi perut ikan ini umumnya berbau kurang sedap. Untuk mengatasi hal tersebut dapat membuat resep untuk menghilangkan bau tadi. Bahan-bahannya adalah:
1/2 kg tempe
200 ml molases (gula putih)
10 biji ragi tapai
5 lt air minum

Cara pembuatan:
Blender tempe dan ragi lalu masukkan ke stoples atau botol bekas air minum. Tambahkan air dan gula ke dalam botol. Aduk lalu tutup rapat. Selanjutnya, siapkan slang dan botol yang diisi air sebagai filter dan jalan keluar gas metan reaksi fermentasi unaerob. Seminggu kemudian buka dan saring. Larutan sudah siap digunakan. Resep larutan ini juga dapat digunakan untuk menghilangkan bau sampah.

Untuk pemakaian: dosis dapat ditentukan sendiri. Boleh diencerkan, dioleskan atau pun langsung disemprotkan ke sumber bau.

Semoga berhasil 🙂

Menanam Cabe

Nah, hari ini saya mau cerita tentang pengalaman menanam cabe. Bukan cabe rawit tapi cabe hijau dan cabe merah panjang yang gendut-gendut itu. Beberapa kali saya menanam cabe tidak pernah sampai berbunga. Kalau pun bisa berbunga biasanya rontok dan tak lama pohonnya mati. Biasanya diawali dengan daunnya yang keriting-keriting lalu layu. Tapi kegagagalan tidak meruntuhkan semangat untuk mencoba menanam cabe kembali (ehem.. :)). Maka, semai biji cabe dari dapur. Setelah pohon sedikit besar saya rajin menyemprotnya dengan pestisida nabati. Pestisida nabati yang saya buat adalah air cucian beras yang diendapkan semalam. Lalu blender sereh. Campur keduanya. Hampir setiap hari saya menyiramkan pestisida nabati ke pohon cabe. Pohon cabe bertambah besar, bunganya banyak dan mulai muncul bakal cabe… hore.

Tanpa terasa beberapa cabe sudah mulai gede. Sepertinya sudah layak panen, tapi saya masih menunggu apakah si cabe ini nantinya memerah atau memang jenis cabe hijau? Soalnya saya lupa yang saya tanam ini cabe merah atau hijau ya? hehe. Saat itu sih semai keduanya, hanya saja yang akhirnya tumbuh itu entah yang versi cabe hijau atau merah.

Untuk pupuk sama dengan pohon lainnya, saya berikan bekas air cucian beras, daging dan ikan. Oya, sesekali saya berikan pupuk cair buah-buahan. Pupuk ini juga saya buat sendiri. Cara membuatnya mudah. Buah-buahan yang sudah tidak layak makan saya satukan kemudian saya tumbuk. Mustinya diblender sih supaya mudah dan cepat. Berhubung blender di rumah hanya satu dan itu khusus buat makanan yang dkonsumsi maka saya memilih menumbuknya. Selanjutnya taruh di botol plastik aqua yang besar. Campur dengan gula merah yang sudah dilarutkan. Terus diamkan selama semingggu. Untuk menggunakannya cukup ambil sedikit dan campurkan dengan air lalu siramkan ke tanaman.

Oya, menurut mbak Evyta (blognya mengenai pembuatan pupuk cair bisa dilihat di sini) seharusnya sih ditambahkan semacam mikroorganisme hidup yang berfungsi untuk menguraikan dan membantu proses fermentasi. Dan, saya lupa menambahkannya selain memang belum beli juga sih. Ya, tak apa. Namanya juga belajar, kalau salah-salah masih wajar, kan? (ngeles.. hehe).

Sekarang kalau butuh cabe satu dua tinggal tengok-tengok pot di depan rumah deh. Mau lihat tanaman cabe saya? Jangan pengin ya. Kalau pengin gampang kok, semai sekarang juga biji cabe yang ada di dapur Anda 🙂

20140810_104955 10516766_10204941885736839_5618673496037624731_n 10547706_10204941885776840_4341051512696315496_n 10556244_10204986637135596_8511328653838659598_n

Menulis itu Mengasyikkan

Saya mempunyai 4 blog yang kesemuanya aktif, dan beberapa blog gratisan :). Barangkali tampak seperti kurang kerjaan ya? Hehe. Entahlah, bagi saya menulis adalah kebutuhan. Sama halnya dengan membaca. Ketika kedua kebutuhan itu terlepas maka yang tersisa adalah kehampaan.

Empat blog itu berisi bermacam-macam bentuk tulisan, yaitu:
1. Blog yang berisi materi pembelajaran di sekolah. Blog ini untuk memudahkan murid-murid mengakses materi yang saya berikan. Blog ini juga berperan sebagai majalah dinding yang berisi karya kreasi murid-murid saya.
2. Blog kedua berisi seputar penerbitan dan penulisan serta tulisan perjalanan. Blog ini juga memuat tulisan job review baik produk atau jasa dari layanan blog advertising.
3. Blog resensi buku. Seperti namanya, blog ini berisi review buku-buku yang saya baca. Beberapa buku ada yang diberikan langsung oleh pengarangnya untuk di-review, atau dari penerbit buku melalui komunitas BBI (Blogger Buku Indonesia). BBI bekerjasama dengan banyak penerbit yang seringkali mengirimkan buku-buku baru dan gratis untuk diresensi oleh para blogger pecinta buku.
4. Blog curhat :). Nah, ini blog tempat saya menulis tentang kegemaran saya berkebun dan juga tulisan sehari-hari semisal yang sedang saya tulis ini.
5. Blog lainnya yang gratisan ada yang berisi puisi dan sajak, kutipan dari buku-buku dan blog untuk trial dan error :), diantaranya: http://castor05pollux.tumblr.com/ , http://enggar.tumblr.com/ , dst 😉

Apakah semua blog itu rutin di isi? Nggak juga sih. Namun saya berusaha untuk menulis walau sesedikitpun. Blog-blog itu ternyata sangat membantu saya loh. Contohnya, ketika saya diminta secara mendadak untuk menggantikan nara sumber yang berhalangan hadir. Saat itu saya nderedeg juga, tak terbayang mau bicara apa saya nanti di depan? Hehe. Saya kemudian ingat beberapa materi yang pernah saya tulis di blog dan kebetulan saat itu menjadi topik talk show. Nah, saya cukup mengunduh materi presentasi saya di slideshare dan membuka blog yang berisi materi serupa. Talk show berjalan lancar dan cukup memuaskan :).

Pengalaman di atas kemudian meyakinkan saya bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Pun saya menyadari bahwa kegemaran kita membaca dan menulis bisa jadi membantu kita pada saat-saat yang krusial.

Oya, pengalaman menulis buku juga membantu saya mengatur strategi (halah, yo opo iku rek? :)).
Maksudnya begini, ada kalanya sebagai penulis, Anda dihadapkan pada situasi menulis dengan batas waktu yang ketat. Cara saya menyiasati nya adalah dengan terbiasa mengumpulkan tulisan-tulisan yang mungkin menjadi topik yang ingin saya tulis suatu saat nanti. Saya imbangi juga dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan topik tersebut. Sehingga jika suatu saat saya harus menulis tema tersebut dengan deadline mepet saya tidak terlalu kerepotan. Sebenarnya bagi seorang penulis, menulis dengan batas waktu ketat itu hal yang hampir kebanyakan pernah mengalaminya atau barangkali malah menjadi santapan mereka sehari-hari :). Untuk itu lah mereka harus senantiasa mengupdate diri dengan banyak membaca, baik yang berkaitan dengan ilmu nya langsung maupun tidak, karena percaya deh semua itu memberi nilai tambah kepada wawasan kita.

Nah, jangan kaget ya kalau dalam minggu-minggu ini saya ribut banget di blog, baik di sini atau di blog saya lainnya, maklum sekolah libur dan ini kesempatan saya menuangkan isi hati alias curhat sebanyak-banyaknya… haiyah, hehehe :))