Category Archives: Kebun

Bikin Kompos tanpa Lahan

Mengolah sampah menjadi kompos tidak hanya bisa dilakukan bagi mereka yang memiliki lahan kosong. Bagi mereka yang memiliki lahan sempit atau bahkan tidak ada lahan sama sekali bisa kok bikin kompos sendiri.

Cara yang sudah beberapa kali saya praktikkan adalah dengan menggunakan pot. Dasar pot saya lapisi dengan batu bata. Bisa juga dengan styrofoam atau gabus. Kemudian masukkan daun-daun kering. Daun-daun ini saya peroleh dari hasil pemangkasan koleksi tanaman saya. Selanjutnya masukkan sampah-sampah dapur berupa sayur atau buah-buah yang tak lagi layak konsumsi. Kulit buah atau tangkai sayur dan lain-lainnya bisa juga dimasukkan. Setelah itu taburi dengan sedikit tanah, atau bisa juga serbuk gergaji dan kapur secara berkala. Fungsi tanah, serbuk gergaji atau kapus ini salah satunya untuk mengurangi bau. Letakkan pot atau drum di tempat yang teduh (jangan terkena hujan). Kalau sudah penuh tutup dengan tanah dan diamkan selama dua bulan. Nah, pot siap ditanami dengan tanaman. Biasanya kalau sudah ada bibit yang mau ditanam tanpa menunggu dua bulan langsung saya sebar saja bibitnya atau langsung ditanami tanaman :).

Cara ini ternyata membantu untuk kesuburan tanaman-tanaman saya loh :). Tanaman jadi rajin berbuah dan tumbuh subur. Dan …menghemat juga karena tidak perlu sering-sering membeli pupuk ;-).

Saya berharap apa yang saya lakukan dapat meringankan beban permasalahan yang disebabkan oleh sampah dan walau sedikit dapat berturut serta menjaga lingkungan hidup.

IMG_4017

IMG_4018

IMG_4021

IMG_4025

Cara Menanam Jeruk Lemon

Pohon jeruk lemon ini sudah lama saya tanam. Setelah sempat sekali berbuah kemudian pohon ini lebih banyak mengeluarkan rimbun daun yang tak lama meranggas diserbu ulat. Ulat adalah musuh utama pohon jeruk. Entah berapa kali saya menanam jeruk (jeruk nipis, jeruk limau, jeruk purut, jeruk lemon dan jeruk buah) masalahnya selalu sama, ulat. Herannya, kok ya nggak bosan nanam jeruk lagi sih? Hehe.

Nah, jeruk lemon ini awalnya ditanam di tanah di halaman depan rumah di bawah atap. Beberapa bulan lalu saya pindahkan ke halaman belakang dan ditanam di pot. Bulan berlalu si jeruk lemon masih ngeyel dengan status awalnya.

Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan munculnya bunga-bunga putih yang muncul diantara daun-daun jeruk lemon. Ini calon buah bukan ya? Semoga saja 🙂
10608216_10208568771326712_1045738341789067122_o IMG_3092

Untuk perawatan pohon jeruk yang saya lakukan umumnya sama dengan pohon-pohon lainnya. Untuk memberantas hama dan penyakit pada tanaman saya memilih cara-cara alami, seperti memangkas bagian daun yang terkena hama putih. Memangkas cabang dan ranting pohon secara berkala juga saya lakukan agar cabang pohon rapi dan pohon nantinya tidak terlalu tinggi.

Untuk pupuk bisa digunakan pupuk kandang. Sebagai tambahan nutrisi lainnya saya menggunakan limbah dapur seperti air bekas cucian beras, daging, ikan dan lain-lain.

Oya, seperti tanaman lainnya, si jeruk lemon harus mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Hem, jangan-jangan waktu ditanam di halaman depan itu jeruk lemon saya ini tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup ya karena terhalang atap rumah? Makanya dia ngambek nggak mau berbuah?

Semai benih tanaman

Koleksi benih tanaman saya lumayan banyak. Beberapa dari hasil barter dan pemberian kawan, lainnya hasil beli kalau berkunjung ke tempat-tempat tanaman. Niat awal mau disemai begitu sampai rumah tetapi ternyata kesibukan dan lahan yang terbatas seringkali menjadi penghalang (ah, ini alasan aja kan? hehe). Nah, tak terasa beberapa bibit tanaman itu kadaluwarsa. Kalau sudah seperti ini solusi satu-satunya adalah menebarkan bibit di pot. Syukur alhamdulillah kalau bisa tumbuh walaupun biasanya cukup lama.

Nah, benih yang kadaluwarsa sebenarnya masih layak disemai. Kadang ada yang masih mau tumbuh kok. Ada baiknya sebelum disemai benih direndam air hangat selama 1 jam. Tujuan direndam air hangat untuk meningkatkan tingkat kelembaban kecambah.

Jadi, kalau kawan punya benih yang sudah kadaluwarsa jangan dibuang dulu ya. Coba semai dengan merendam bibitnya di air hangat terlebih dulu.

Oya, seorang kawan pernah merekomendasikan web petanirumahan ini jika ada kawan yang ingin membeli benih dengan porsi tak banyak. Cocok buat yang mau memulai berkebun. Silakan ke sini.

Atau bisa ke sini untuk yang ingin membeli benih secara online.

Pupuk Cair (Mol) dari Tapai

Ada banyak media yang bisa digunakan untuk membuat pupuk cair organik. Yang pernah saya coba adalah membuat pupuk cair dari buah, isi perut ikan, kepala udang dan sayuran hijau. Mengenai pupuk cair dengan media yang saya sebutkan tadi dapat dibaca di sini.

Nah, kita juga bisa membuat pupuk cair dari tapai. Sepertinya ini lebih mudah tapi saya sendiri belum mencobanya.
Berbeda dengan pupuk cair dari kepala udang atau perut ikan barangkali pupuk cair dengan tape aromanya tidak terlalu memabukkan ya? Hehehe.

Oke, ini lah langkah untuk membuat pupuk cair dari tapai. Sumber dari sini

1. Siapkan 1 botol plastik bekas air minum kemasan berukuran 1000-1500 ml.
2. Masukkan sekitar segenggam tapai singkong yang matang ke dalam botol. Lalu tambahkan air hingga mencapai separuh botol.
3. Masukkan 5 sendok gula pasir atau 1 balok gula merah yang telah dicairkan terleih dahulu. Total air di botol maksimum 3/4 ukuran botol.
4. Kocok dengan cara mengguncangkan botol selama 2-3 menit supaya berikutnya bisa tercapai fermentasi dari larutan yang sudah tercampur merata.
5. Biarkan botol terbuka selama 4-5 hari atau ditutup, tetapi sesekali tutup dibuka untuk membuang gas hasil fermentasi. Biarkan mikroorganisme lokal (mol) berkembang.
6. Setelah 5-6 hari akan tercium bau alkohol dan berwarna agak kecoklatan, pertanda pupuk cair organik siap digunakan.

Cara pengggunaan:
Encerkan larutan pupuk cair organik dengan air (1:15) lantas siram ke tanah disekeliling pohon.

Fungsi molmembantu memaksimalkan media tanam agar mampu menyediakan unsur hara yang nantinya diserap oleh tanaman melalui akar-akar halus.

Hm, tampaknya lebih mudah dan tidak terlalu berkotor-kotor ria, nggak ada salahnya dicoba, bukan? 🙂

Membuat Pestisida Nabati

Pestisida nabati atau sering disingkat dengan pesnab adalah pestisida yang bahan dasarnya diperoleh dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lain yang berkhasiat untuk mengendalikan serangan hama pada tanaman atau tumbuhan. Pestisida nabati tidak meninggalkan residu yang berbahaya baik pada tanaman dan lingkungan. Untuk membuat pesnab ini tidak sulit dan peralatan yang dibutuhkan pun sangat sederhana.

Di bawah ini adalah cara pembuatan pestisida nabati disertai kegunaannya yang saya peroleh dari hasil berbagi informasi dengan kawan-kawan di grup penggemar tanaman.

1. Pesnab sabun deterjen
Cara membuat: sabun deterjen dicampur dengan air. Untuk penggunaannya dapat disemprotkan langsung ke daun yang terkena kutu putih. Atau dapat dengan mengusapkan kapas ke daun yang terserang hama.
Jika serangan kutu sudah berat, penyemprotan dengan deterjen dapat dilakukan 2x seminggu sampai kutu bersih. Jika ringan cukup 1x seminggu.

2. Pesnab bawang putih
Cara membuat: bawang putih (1 biji atau 1/2 ons) diblender dengan menambahkan air kira-kira 2 1/2 lt. Saring ampasnya. Air hasil saringan disemprotkan ke daun.

3. Pesnab dengan daun sambiloto
Cara membuat:
15-20 lembar daun sambiloto atau 1 jari daun pepaya
sejumput tembakau
3/4 (0.75) lt air
campurkan semuanya dan diblender. Inapkan semalam lalu semprotkan.

Atau bisa juga blender daun sambiloto + bawang putih + setetes sunlight. Lalu saring dan campurkan dengan tembakau. Inapkan semalam sebelum disemprotkan ke tanaman.
(Untuk memperoleh tembakau dapat dengan mengumpulkan puntung rokok. Setelah agak banyak rendam tembakau sisa rokok dengan air selama minimal 1×24 jam. Setelah itu ambil secukupnya dan campur dengan air. Semprotkan ke tanaman yang terkena hama).

Untuk hama putih dan untuk serangan pada tanaman cabe atau tomat berupa daun keriting atau layu
4. Pesnab dengan minyak sayur
Cara membuat: 1 ml minyak bekas sayur dan 1 ml sabun cair cuci piring dicampur dengan 1 lt air. Kocok dan langsung bisa digunakan.

Atau
bawang putih dan tembakau diblender. Saring pakai kain lalu campur sabun cair cuci piring.

5. Pesnab untuk mengusir belalang
Cara membuat: air tembakau dicampur sabun cair cuci piring dan bawang putih. Semprot dua kali sehari.

6. Pesnab untuk mengusir hama aphid dan hama lainnya.
Cara membuat: air cucian beras diendapkan selama 2 malam. Sereh/serai 3-5 batang yang dihaluskan (bisa dicincang halus lalu diblender). Campur keduanya lalu saring. Semprotkan ke tanaman yang terkena hama.

Mudah, bukan? Ayo bertanam dengan konsep ramah lingkungan 🙂

Beach Cherry

Nama latin tanaman ini adalah Eugenia Reinwardtiana. Cantik ya namanya? Secantik buahnya yang merah merona 🙂

Beach cherry saya saat ini sedang berbunga. Ini panen yang ke sekian kali. Tanaman beach cherry termasuk mudah perawatannya. Selain memberikan NPK sesekali saya juga menambahkan pupuk kandang. Sehari-hari cukup disiram dengan air bekas cucian beras, daging, atau ikan dan larutan nutrisi hidroponik, lebih sering dengan air biasa. Ada baiknya juga dilakukan pemangkasan untuk merangsang tumbuhnya cabang baru yang nantinya memunculkan bunga dan buah.

Konon, asal tanaman beach cherry ini dari Australia dan masuk ke Indonesia pada tahun 1996 oleh Dr. Muhammad reza Tirtawinata. Tanaman buah ini tahan akan serangan penyakit. Biasanya hama yang menyerang beach cherry adalah hama kutu putih. Untuk menghilangkan hama kutu putih biasanya saya memberikan larutan berisi campuran minyak sayur (atau bawang putih diblender) dan sabun cair pencuci piring.

Biji beach cherry ini bisa ditanam loh. Buah-buah beach cherry yang tak sempat ter-panen ada kalanya jatuh dan memunculkan tanaman beach cheery baru. Perbanyakan tanaman beach cherry dengan biji ini memerlukan waktu 2.5 tahun sampai 3 tahun untuk dapat berbuah. Pertumbuhan melalui biji memang lebih lambat dibandingkan dengan sistim cangkok.

Warna buah ini merah mempesona. Walaupun daging buahnya tipis rasa buah ini manis. Enak lah 🙂
Nah, ini tanaman beach cherry saya 🙂
bc Cherry-6

Bikin Kompos dari Sampah Dapur

Nah, ini lanjutan kemajuan dari membuat kompos sendiri yang pernah saya tulis di sini. Karena saya tidak menambahkan bakteri ke dalam drum, yang artinya sampah-sampah dapur ini memang murni didiamkan saja. Bakteri hanya diperoleh dari sampah itu sendiri. Maka waktu yang diperlukan untuk sampai menjadi kompos memang terbilang lama.

Untuk mencegah bau maka sampah yang masuk ke drum hanya berupa daun, sayur, buah, telur, kue-kue. Untuk sampah hewani saya kurangi. Bukan berarti tidak ada sama sekali sih, karena seringkali sayur yang sudah tak layak dikonsumsi bercampur juga dengan lauk hewani ini.

Alhamdulillah drum sampah ini juga tidak bau. Dari literatur yang saya baca, pembuatan kompos yang benar memang mustinya tidak bau.

Sekarang saya tidak perlu merasa bersalah kalau setiap kali harus membuang sisa sayur, buah atau makanan yang tak lagi layak disantap, karena semuanya langsung saya buang ke drum penampungan sampah untuk pupuk :). Sisa-sisa makanan itu tetap bisa memberikan manfaat dan juga menghemat biaya untuk pembelian pupuk.

Ini hasil kompos buatan saya :). Lihat lapisan bawah sudah mulai menunjukkan hasil. Agar merata fermentasinya, sesekali sampah diaduk-aduk atas bawah agar oksigennya tersuplai bagus dan matangnya cepat merata.
10959712_10206140332177251_72497008930034664_n

Nah, mudah, kan membuat kompos? Tak punya lahan tanah bukan alasan tidak bisa membuat kompos sendiri. Kamu bisa memanfaatkan ember, drum, atau pot atau wadah apapun yang sudah tak terpakai lagi.

Selamat mencoba.

Menanam Nanas

Tak pernah terlintas saya bakal bertanam nanas. Pertama, saya nggak terlalu suka nanas. Kedua, rasanya nggak mungkin aja bertanam nanas di pot. Sampai suatu saat saya melihat kawan penggiat berkebun bertanam nanas di pot. Dan, bentuk buah nanas saat ini beragam, dari yang dulu besar sekarang bentuk buahnya mungil, cantik, dan rasanya juga manis. Dan karena partner suka nanas, disertai rasa penasaran maka saya tak menolak ketika Bapak saya memberikan buah nanas untuk ditanam. Ayah saya memperoleh buah nanas ini dari pemberian saudara yang memiliki kebun buah dan sayur di pekarangan rumahnya.

Nah, ingin tau bagian mana dari buah nanas yang bisa ditanami?

1. Potong mahkota nanas, seperti gambar di bawah ini.
nanas-y
2. Tancapkan di media tanam.
nanas-x
3. Selesai 🙂

Mudah, ya? Ada juga yang menanam dengan mengambil bagian daun mahkota nanas. Tapi, saya tidak begitu paham caranya dan belum pernah mencoba.

Nah, ini tanaman nanas saya di pot. Nanas ini saya tanam dengan menerapkan cara yang telah saya tuliskan di atas, yaitu dengan mengambil bagian mahkota nanas. Sudah berbuah loh :). Ini jenis nanas madu hias, buahnya memang kecil. Mustinya sih buahnya bisa lebih besar lagi, namun karena saya menanam di pot kecil maka pertumbuhannya agak lambat.
IMG_6861

Ternyata nanas bisa ditanam di pot juga, bukan? Kalau sudah berbuah selain disatap sebagai buah juga bisa dijadikan selai untuk kemudian diolah menjadi kue nastar deh 🙂

Oya, kawan-kawan saya penggiat berkebun pernah memberikan ide yang sedikit ‘agak’ nyeleneh ;-). Begini, kata mereka, biasanya di toko-toko swalayan, di bagian buah, kalau si mas atau mbak nya sedang memotong buah nanas, coba tanya apakah kita boleh meminta mahkota nanas yang, tentu saja, bagian buah nanas itu dibuang oleh mereka di plastik besar. Ada kawan yang mempraktikkan dan boleh tuh.. hehe. Mungkin mereka malah senang ya karena nggak harus membuang sia-sia sampah dari buah nanas itu, iya, nggak?

Nanas

Nanas atau ananas adalah tanaman buah tropis. Tanaman ini berasal dari Brasil. Pohon nanas dapat ditanam di ketinggian 1-1500 m dpl dan membutuhkan asupan matahari yang cukup. Pohon nanas berperawakan rendah, tidak tinggi seperti umumnya tanaman. Pohon nanas memiliki daun yang panjang dengan duri-duri tajam di tepi daunnya. Rasa buah nanas asam sampai manis. Selain dapat dikonsumsi langsung, buah nanas juga dapat dibuat menjadi selai atau sirop.

Buah nanas dipercaya dapat mengurangi jerawat dan meningkatkan pencernaan. Berbagai kelebihan buah nanas lainnya dapat ditelusuri di internet.

Nah, entah kapan tepatnya, saya membeli buah nanas. Saya membeli buah ini karena bentuknya yang unik, kecil dengan daun panjang bergerigi, langsing dan tipis. Pokoknya cantik deh :). Saya lupa nama buahnya, kalau tidak salah nanas madu hias atau nanas hias. Entahlah. Selesai mengupas nanas, mahkota nanas saya tancapkan ke dalam pot. Karena awalnya diniatkan sebagai hiasan maka pot kecil menjadi pilihan. Nyaris tanpa perawatan khusus, pohon nanas ini tumbuh dengan daun-daun yang semakin panjang dan rimbun. Durinya sangat tajam.

Sampai suatu ketika, saya terkejut dengan munculnya bunga di tampuk pohon nanas. Saya sama sekali tidak menyangka pohon nanas ini akan berbuah, apalagi di dalam pot ukuran kecil. Senang? Iya donk, tapi juga bingung bagaimana memindahkan si pohon ke dalam pot yang lebih besar agar buahnya bisa tumbuh sempurna. Pengalaman tertusuk duri membuat saya mengurungkan niat untuk memindahkan si nanas. Sementara ini, sesuai saran kawan-kawan pekebun, saya berikan nutrisi hidroponik atau air bekas cucian beras, daging dan ikan sebagai gizi tambahannya. Semoga si nanas tumbuh sehat dan bisa dipanen. Amin.

Ini penampakan pohon nanas saya. Btw, ada yang tau nama jenis nanas ini?
photo 1 (2) photo 3 (1) nanas