Murbei

Murbei adalah tanaman yang mudah hidup, dan dapat ditanam dengan cara distek. Buahnya berwarna hijau jika masih sangat muda, kemudian menjadi merah dan akan berwarna hitam jika sudah matang. Jika masih berwarna merah, rasa buah murbei asem manis. Buah murbei terasa manis jika sudah hitam.

Murbei memiliki banyak manfaat, dari buah, daun hingga rantingnya. Daun murbei digunakan untuk pakan ulat sutra. Lizard (kadal) juga menyukai daun murbei. Daun murbei juga dapat disayur. Manfaat murbei lainnya adalah untuk pereda demam, flu, malaria, batuk, rematik, darah tinggi, kencing manis (diabetes melitus), kolesterol tinggi, dan lain-lain. Banyak sekali kasiat yang bisa didapat dari tanaman murbei ini.

Murbei memiliki bermacam varietas. Selain murbei biasa yang bentuknya pendek dan kecil (Morus Alba) ada juga murbei yang bentuknya panjang (long murbei).
Bentuk buahnya mirip ulat bulu, karena buahnya yang berbulu dan panjang.

Saya menanam kedua varietas murbei ini di dalam pot. Seperti tanaman lainnya, saya memberikan pupuk alami untuk semua tanaman saya, seperti air bekas cucian beras, daging, dan ikan. Untuk merangsang munculnya buah saya sering memangkas ranting yang sudah kecoklatan.

Ini foto tanaman murbei saya.

Morus Alba
11215140_10207994773257119_936845308704689806_n 11232234_10208402775856929_4157428037687079154_o

Long Murbei
12794535_10209127350370839_7333688235966490129_n 13575887_10210244817666823_5984579858801400242_o

Bertanam Anggur

Tanaman anggur dalam pot di rumah sudah mulai menampakkan buah-buahnya. Senang? Tentu donk. Sebelumnya saya beberapa kali menanam anggur tapi semuanya tak ada yang bertahan hidup. Nah, anggur yang berbuah ini saya beli di pameran flona setahun yang lalu. Awalnya maju mundur mau beli tapi mumpung murah 15 ribu akhirnya dibeli juga. Apalagi saat itu ada pembeli lain yang berkomentar kalau anggur yang saya taksir itu mudah dan cepat berbuah, karena dia sudah membeli di pameran yang sama tahun sebelumnya. Kata Beliau sih, kurang lebih 6 bulan tanaman anggurnya sudah berbuah. Ah, baiklah, kenapa tidak mencoba? 🙂

Ada 2 jenis anggur, entah apa namanya yang akhirnya saya beli, anggur hijau dan merah. Jenis yang merah ini kata Bapak penjualnya lebih manis dibandingkan yang hijau. Sesampai di rumah keduanya saya pindah ke pot.

Tepat setahun, tanaman anggur ini berhasil tumbuh besar. Dan secara tak sengaja pula saya melihat dompolan calon buah anggur di satu sisi cabang pohon. Ini foto tanaman anggur saya.
IMG_5280 IMG_5375

Perawatan untuk tanaman anggur ini sama dengan tanaman saya lainnya. Agar tanaman anggur bisa berbuah sebaiknya cabang sekunder dipangkas dan semua daun dirompes. Setelah pemangkasan dan perompesan nantinya akan tumbuh ranting baru yang berdaun dan bersulur. Sulur itu umumnya tumbuh dekat mata tangkai daun yang ketiga, keempat dan kelima. Pelihara satu sulur yang paling besar dan sehat pertumbuhannya. Dari ranting yang bersulur ini akan tumbuh calon bunga yang akan berkembang menjadi buah.
wpid-gbrpemangkasanbentuk
gambar dari sini.

Sayangnya, pohon anggur satunya mati. Tampaknya kekeringan.
Semoga pohon anggur yang sedang berbuah ini sehat dan buahnya pun lebat. Semoga. Amin yra.

John Atanasof

Inilah satu tokoh inovator yang nyaris terlupakan dalam sejarah perkembangan komputer. John Atanasof lahir pada 1903 dari pasangan imigran Bulgaria dan wanita keturunan yang paling lama tinggal di England. Ayahnya bekerja sebagai insinyur di pembangkit listrik New Jersey yang dikelola oleh Thomas Edison. Ibunya pernah menjadi guru matematika. Sejak kanak-kanak dia sudah belajar algoritma dengan serius dan ketekunan yang terkesan sinting. John Atanasof tertarik dengan jangka sorong yang diberikan ayahnya ketika ia membantu sang ayah menyambungkan listrik. Menamatkan SMA dengan meraih semua nilai A.

Kegemarannya mengotak-atik membuat Atanasof sering menghabiskan waktu di lab mesin milik universitas. Ia menerima beasiswa untuk menempuh studi dan riset magister di bidang matematika dan fisika di universitas Iowa dan diterima di Harvard, namun ia memutuskan untuk bertahan di Ames, yang merupakan kota pedalaman Amerika, yang lebih terkenal dengan produksi jagung daripada cendekiawannya.

Sama seperti para pelopor komputer lain, ia ingin mencari cara supaya perhitungan matematika yang itu-itu saja dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat. Ia memutuskan untuk membuat komputer.

Mesin Atanasof dirancang dan diprogram untuk satu tujuan: menyelesaikan lebih dari satu persamaan linear secara simultan. Pembuatan mesin ini mendapat bantuan dan hampir rampung pada september 1942. Namun terdapat masalah bahwa mekanisme penghasil bunga api untuk melubangi kartu tidak kunjung berhasil diciptakan.

Komputer Atanasof yang semustinya bisa menjadi terobosan penting nyatanya ditakdirkan masuk tong sampah, baik dalam arti harfiah maupun kiasan. Mesin ini nyaris terlupakan namun sebuah peristiwa menyelamatkan Atanasof dari kuburan sejarah.

Yang menarik dari kisah Atanasof ini adalah karena ia adalah penemu tunggal. Berbeda dengan sebagian besar inovator pada era digital, Atanasof bekerja sendiri dengan hanya ditemani asistennya. Barangkali akan berbeda ceritanya jika Atanasof bekerja di Bell labs, di tengah banyak teknisi, insinyur serta mekanik atau di universitas besar dengan banyak para cendekiawannya. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.

Namun itu adalah daya tarik Atanasof sebagai penemu karena ia mengotak-atik kreasinya sendirian di ruang bawah tanah hanya ditemani oleh rekan mudanya, Clifford Berry. Kisahnya membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang seperti itu. Sama dengan Babbage yang juga bekerja sendirian, Atanasof gagal membuat mesin yang berfungsi seutuhnya. Namun penemuan Atanasof telah mendorong perkembangan komputer ke depan.

Selain komputer Atanasof banyak menciptakan penemuan-penemuan baru.

Kisah Atanasof membuktikan bahwa kerja tim adalah penting. Itu sebabnya mengapa nilai-nilai keterampilan hidup seperti kolaborasi, komunikasi perlu dilatih dan dikembangkan.

Review dari buku The Innovators, Walter Isaacson

Membuat Kompos dari Model Keranjang Takakura

Keranjang sampah yang diberi nama keranjang pintar ini dirancang oleh Mr Koji Takakura dari Jepang. Alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana. Saya sendiri belum pernah mencobanya tetapi dari membaca beberapa artikel mengenai kerajang takakura sepertinya layak dicoba suatu hari nanti 🙂

Oke, langsung saja.

Bahan dan Cara Kerja:
1. Keranjang pakain bekas dari plastik.
2. bantalan sekam 4 buah (untuk dasar keranjang dan penutup keranjang)
3. garpu pengaduk
4. kain penutup keranjang
5. kompos matang sebagai aktivator
6. kardu bekas masukkan ke dalam keranjang untuk melapisi keranjang
7. Masukkan bantalan sekam ke dalam kardus yang sudah diletakkan ke dalam keranjang
8. Masukkan kompos matang satu bungkus -/+ 4 kg sebagai starter/aktivator.

catatan:
Ciri-ciri kompos matang yang dapat dijadikan aktivator adalah warna hitam sudah berbau tanah/tidak berbau busuk, kalau ditekan hancur.

Potong kecil-kecil limbah sampah dapur. Sayur berminyak atau bersantan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam keranjang. Hindari sampah hewani seperti ayam, ikan, dan lain-lain.
Setelah semua sampah dimasukkan ke dalam keranjang lalu diaduk merata. Pengadukan berfungsi agar fermentasi berjalan baik. Kemudian tutup keranjang dengan bantalan sekam. Guna bantalan sekam adalah untuk meredam bau. Boleh juga memasukkan kulit jeruk ke dalam keranjang agar komposnya berbau harum.

Letakkan keranjang di tempat yang mendapatkan sirkulasi udara penuh namun tidak boleh terkena matahari langsung dan tidak boleh terkena hujan.

Pengisian sampah dapat dilakukan setiap hari. Jangan lupa untuk selalu mengaduk rata selesai mengisi sampah. Proses fermentasi akan ditandai dengan suhu sampah yang terasa panas. Reaksi itu membuktikan kalau mikroba bekerja aktif mengurai sampah. Kompos sudag dpaat dipanen kurang lebih 2-3 bulan.

Cara memanen kompos
Ambil bagian paling atas, sisihkan. Ambil bagian selanjutnya lalu ayak. Sisa ayakan ini dapat dijadikan aktivator kembali atau sebagai pupuk tanaman. Kembalikan kompos dan masukkan ke dalam keranjang bersama bagian awal tadi. Kardus yang sudah hancur atau lapuk dapat diganti kembali.

Bertanam Mint

Daun mint dikenal memiliki berbagai manfaat selain wanginya yang segar. Daun mint dapat digunakan untuk meringankan mual dan gangguan pencernaan serta meredakan stres.
Daun mint biasanya disajikan bersama minuman. Tetapi bisa juga untuk penghias dan pengharum makanan.

Menanam daun mint tidak sulit. Kalau pergi ke pasar atau swalayan beli daun mint yang dijual beserta batangnya. Kemudian cari batang daun mint yang segar. Ambil beberapa batang mint (tanpa daun) dan tancapkan ke media tanah. Selesai 🙂

Semudah itu? Yup. Perbanyakan daun mint cukup melalui stek. Untuk tumbuh dan munculnya daun juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Jadi, kenapa tidak memulai saat ini untuk menanam mint?

IMG_3720
batang mint tancapkan langsung ke media tanam

IMG_3798
Daun mint mulai bermunculan

Nah, ini tanaman mint saya beserta infus water lemon dan mint di dalamnya. Seger, bukan? 🙂
IMG_4028 IMG_4052

Bikin Kompos tanpa Lahan

Mengolah sampah menjadi kompos tidak hanya bisa dilakukan bagi mereka yang memiliki lahan kosong. Bagi mereka yang memiliki lahan sempit atau bahkan tidak ada lahan sama sekali bisa kok bikin kompos sendiri.

Cara yang sudah beberapa kali saya praktikkan adalah dengan menggunakan pot. Dasar pot saya lapisi dengan batu bata. Bisa juga dengan styrofoam atau gabus. Kemudian masukkan daun-daun kering. Daun-daun ini saya peroleh dari hasil pemangkasan koleksi tanaman saya. Selanjutnya masukkan sampah-sampah dapur berupa sayur atau buah-buah yang tak lagi layak konsumsi. Kulit buah atau tangkai sayur dan lain-lainnya bisa juga dimasukkan. Setelah itu taburi dengan sedikit tanah, atau bisa juga serbuk gergaji dan kapur secara berkala. Fungsi tanah, serbuk gergaji atau kapus ini salah satunya untuk mengurangi bau. Letakkan pot atau drum di tempat yang teduh (jangan terkena hujan). Kalau sudah penuh tutup dengan tanah dan diamkan selama dua bulan. Nah, pot siap ditanami dengan tanaman. Biasanya kalau sudah ada bibit yang mau ditanam tanpa menunggu dua bulan langsung saya sebar saja bibitnya atau langsung ditanami tanaman :).

Cara ini ternyata membantu untuk kesuburan tanaman-tanaman saya loh :). Tanaman jadi rajin berbuah dan tumbuh subur. Dan …menghemat juga karena tidak perlu sering-sering membeli pupuk ;-).

Saya berharap apa yang saya lakukan dapat meringankan beban permasalahan yang disebabkan oleh sampah dan walau sedikit dapat berturut serta menjaga lingkungan hidup.

IMG_4017

IMG_4018

IMG_4021

IMG_4025

Cara Menanam Jeruk Lemon

Pohon jeruk lemon ini sudah lama saya tanam. Setelah sempat sekali berbuah kemudian pohon ini lebih banyak mengeluarkan rimbun daun yang tak lama meranggas diserbu ulat. Ulat adalah musuh utama pohon jeruk. Entah berapa kali saya menanam jeruk (jeruk nipis, jeruk limau, jeruk purut, jeruk lemon dan jeruk buah) masalahnya selalu sama, ulat. Herannya, kok ya nggak bosan nanam jeruk lagi sih? Hehe.

Nah, jeruk lemon ini awalnya ditanam di tanah di halaman depan rumah di bawah atap. Beberapa bulan lalu saya pindahkan ke halaman belakang dan ditanam di pot. Bulan berlalu si jeruk lemon masih ngeyel dengan status awalnya.

Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan munculnya bunga-bunga putih yang muncul diantara daun-daun jeruk lemon. Ini calon buah bukan ya? Semoga saja 🙂
10608216_10208568771326712_1045738341789067122_o IMG_3092

Untuk perawatan pohon jeruk yang saya lakukan umumnya sama dengan pohon-pohon lainnya. Untuk memberantas hama dan penyakit pada tanaman saya memilih cara-cara alami, seperti memangkas bagian daun yang terkena hama putih. Memangkas cabang dan ranting pohon secara berkala juga saya lakukan agar cabang pohon rapi dan pohon nantinya tidak terlalu tinggi.

Untuk pupuk bisa digunakan pupuk kandang. Sebagai tambahan nutrisi lainnya saya menggunakan limbah dapur seperti air bekas cucian beras, daging, ikan dan lain-lain.

Oya, seperti tanaman lainnya, si jeruk lemon harus mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Hem, jangan-jangan waktu ditanam di halaman depan itu jeruk lemon saya ini tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup ya karena terhalang atap rumah? Makanya dia ngambek nggak mau berbuah?

Ada Apa dengan Masyarakat Kita?

Kasus rusaknya kebun amaryllis banyak disorot di sosial media dan juga media. Banyak kemudian komentar baik secara langsung atau tidak langsung menghakimi perilaku anak-anak muda Indonesia saat ini. Etika anak-anak ini lalu dipertanyakan. Jauh dari kasus kebun bunga, saya seringkali menarik nafas sekaligus miris melihat perilaku beberapa anak-anak saat ini. Sekali lagi, tidak semua. Saya percaya bahwa membuat generalisasi terhadap segala hal adalah sikap yang ngawur.

Oke, balik ke kasus amaryllis, ada fenomena menarik mengenai mengapa masyarakat kita abai terhadap kepatutan. Maksud saya, coba amati hal-hal kecil di sekitar kita. Pernah memperhatikan anak muda yang cuek saja ketika ada orang tua dengan susah payah membuka pintu supermarket misalnya? Atau sekelompok anak muda yang asyik berjalan di mall beriringan tanpa menyadari menutup jalan orang lain? Atau, ah banyak deh. Coba amati. Saya pernah berdiskusi dengan partner. Saya sering merasa tak habis pikir bagaimana anak muda seringkali cuek terhadap hal-hal seperti itu. Ada apa dengan mereka?

Nah, partner bilang, anak-anak itu tidak tahu. Kita tidak bisa menyalahkan mereka 100%. Mereka melakukan itu karena tidak pernah diajarkan berpikir kritis. Jika anak dibiasakan berpikir kritis, maka setiap tindakannya akan didasarkan pada analisa. Sebelum melakukan sesuatu ia akan selalu bertanya kepada dirinya, apakah dampaknya jika ia melakukan ini? Apakah betul yang akan ia lakukan, bagaimana dampaknya kepada orang lain? dan sebagainya. Ia tumbuh menjadi anak yang tidak sekedar ikut-ikutan, ia akan meneliti setiap masalah yang dihadapinya.

Proses berpikir kritis memang harus dilatih sejak dini. Dikutip dari Parents Guide Magazine.

Berpikir kritis adalah cara berpikir logis, dimana kita memecah-belah suatu masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil serta menganalisanya. Bagian dari berpikir kritis adalah: kemampuan menggolongkan, memilah, membandingkan persamaan dan perbedaan (Church, 1993). Beberapa ciri anak yang berpikir kritis adalah: penuh rasa ingin tahu dan ingin menjelajah/bereksplorasi.

Berpikir kritis penting bagi setiap manusia karena itulah modal untuk pemecahan masalah, dimana masalah adalah hal yang pasti dihadapi manusia sepanjang hidupnya. Kemampuan menganalisa masalah membantu kita meneliti penyebab masalah, kemudian mencari solusinya.

Nah, jika tidak ingin generasi kita tumbuh menjadi orang yang egois, tidak punya rasa peduli, apatis terhadap lingkungan dan terhadap apapun mulailah membiasakan anak-anak untuk berpikir kritis.

Dan mengutip artikel di Parents Guide, “Mari kita bantu anak-anak kita agar berpikir kritis sejak dini, dengan juga mempraktikkan pola pikir kritis dalam diri sendiri. Bagaimanapun anak paling banyak belajar dari orang-tuanya melalui contoh!.”

Sudah kah Anda menjadi panutan bagi anak Anda sendiri? 🙂

Semai benih tanaman

Koleksi benih tanaman saya lumayan banyak. Beberapa dari hasil barter dan pemberian kawan, lainnya hasil beli kalau berkunjung ke tempat-tempat tanaman. Niat awal mau disemai begitu sampai rumah tetapi ternyata kesibukan dan lahan yang terbatas seringkali menjadi penghalang (ah, ini alasan aja kan? hehe). Nah, tak terasa beberapa bibit tanaman itu kadaluwarsa. Kalau sudah seperti ini solusi satu-satunya adalah menebarkan bibit di pot. Syukur alhamdulillah kalau bisa tumbuh walaupun biasanya cukup lama.

Nah, benih yang kadaluwarsa sebenarnya masih layak disemai. Kadang ada yang masih mau tumbuh kok. Ada baiknya sebelum disemai benih direndam air hangat selama 1 jam. Tujuan direndam air hangat untuk meningkatkan tingkat kelembaban kecambah.

Jadi, kalau kawan punya benih yang sudah kadaluwarsa jangan dibuang dulu ya. Coba semai dengan merendam bibitnya di air hangat terlebih dulu.

Oya, seorang kawan pernah merekomendasikan web petanirumahan ini jika ada kawan yang ingin membeli benih dengan porsi tak banyak. Cocok buat yang mau memulai berkebun. Silakan ke sini.

Atau bisa ke sini untuk yang ingin membeli benih secara online.

The Little Prince

12065896_10208265668589333_1484272200727452431_n
Akhirnya film yang ditunggu-tunggu tayang juga :). Film yang diadopsi dari buku dengan berjudul sama ini mengisahkan seorang gadis muda yang kehidupannya diatur oleh sang Ibu. Suatu hari si gadis kecil berkenalan dengan tetangga barunya, seorang kakek mantan pilot yang baik hati. Melalui pertemanan dengan kakek ini si gadis muda menemukan dunia yang berbeda, dunia imajinasi penuh warna dan keindahan.

Apa menariknya film ini? Hm. Saya mengenal kisah Little Prince melalui buku yang dikenalkan partner. Tepatnya, partner adalah kolektor buku The Little Prince. Awalnya saya nggak mudeng dengan isi buku tersebut. Saya hanya menangkap sebagian makna dari buku tersebut. Tapi saya selalu penasaran dengan koleksi bacaan partner, dan Little Prince pasti lah sangat istimewa :).

Untuk saya, Little Prince mengingatkan bagaimana semustinya saya menjalani kehidupan sebagai orang dewasa yang tidak kehilangan kepekaan. Ketika manusia bertumbuh menjadi orang dewasa, kerap kehilangan imajinasi kanak-kanak, kebahagiaan dan keindahan yang begitu sederhana. Barangkali rutinitas telah melupakan orang dewasa, sehingga mereka menjalani hari dan kehidupannya tanpa memiliki makna. Orang dewasa bekerja demi sesuatu dan untuk memiliki sehingga setelahnya mereka baru bisa merasa bahagia. Anak-anak tidak begitu. Setiap hari mereka selalu penuh antusias, mereka bisa bahagia dengan melihat bunga-bunga bermekaran, burung beterbangan, dan hal-hal sederhana lainnya. Mereka berimajinasi dan penuh rasa ingin tahu. Orang dewasa kehilangan semua itu dikarenakan kesibukan. Orang dewasa beranggapan bahwa semua yang ada di sekitar mereka memang sudah sepatutnya begitu. Take it for granted. Bunga yang mekar, ikan di kolam, pohon yang menghasilkan bunga, atau kicauan burung-burung adalah hal biasa. Orang dewasa abai memperhatikan semua itu karena merasa ada yang lebih penting yang harus mereka pikirkan dan kerjakan.

Seperti dikatakan si gadis kecil kepada orang dewasa yang telah menawannya di film The Little Prince, “Aku akan tumbuh dewasa namun aku tidak mau menjadi dewasa seperti kalian.”

Setiap kanak-kanak pasti akan tumbuh dewasa. Kita bisa memilih untuk menjadi orang dewasa yang seperti apa. Kita bisa menjadi orang dewasa yang haus pujian, serakah, tak peduli, atau memilih menjadi seperti si Pangeran Kecil :).

Kalau saya menangkap isi buku The Little Prince seperti di atas tadi, maka partner ternyata memiliki banyak mata yang ia lihat dengan hati ;-).

Kata partner, Exupery mempersembahkan buku ini untuk anak-anak yang di dalamnya ia sisipi dengan metafor, juga beberapa kisah biografinya sendiri. Ia juga menceritakan kisah perang (Nazi) saat itu yang digambarkan dalam kisah pohon baobab. Baobab melukiskan benih kejahatan yang jika dibiarkan maka akan menghancurkan bumi.

Mendengar cerita partner tentang Little Prince bikin saya penasaran baca biografinya Exupery. Racun banget deh 🙂