Mengingkari perasaan betapa sulitnya :’(
Ruang Kelas
Aku sedang berdiri di ruang kelas sambil memandangi anak-anak berjalan menuju pintu keluar ketika bocah laki-laki dengan pipinya yang gemuk mendekatiku. Dengan kemanjaan khas seorang anak ia menyandarkan tubuhnya ke pinggangku. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Ia memberi isyarat. Aku membungkukkan tubuh. “Ibu wanginya seperti Ibuku,” bisiknya cepat sambil tersenyum malu. “Aku jadi suka nyiumnya.” Aku menahan senyum. “Oh, parfum Ibu sama dengan mamamu ya?” tanyaku. Anak laki-laki itu mengganggukkan kepala. “Kalau begitu salam buat mama ya,” kataku sambil mengacak rambutnya yang halus. Bocah itu memekarkan lubang hidungnya seolah ingin menyesap aroma wangi sekali lagi sebelum ia mencium tanganku dan berlari ke luar kelas.
Kelas kembali sunyi. Dari dalam ruangan sesekali terdengar sayup suara langkah kaki ramai anak-anak dan suara riang percakapan mereka. Aku membuka agenda pengajaran. Aku masih punya waktu 2 jam untuk rehat sebentar. Ada kalanya lelah begitu terasa dan aku terheran-heran dengan energi yang dimiliki anak-anak sekolah dasar ini. Begitu ulet begitu enerjik.
Muridku berikutnya adalah kelas 5. Seorang anak perempuan masuk ke dalam kelas dengan memelukku tiba-tiba dari belakang sambil berteriak ‘Ibuu..’. Itu kebiasaannya, berteriak dan melompat-lompat. Aku kadang berpura-pura memarahinya. Anak perempuan itu malah menyampirkan kedua tangannya di leherku dan memberikan senyum lebar sebelum duduk di kursinya.
Keributan yang mereka hadirkan di ruang kelas kadang menyisakan kekesalan, namun sekaligus menghadirkan senyum dan kebahagiaan yang luar biasa. Kata-kata, sikap dan perhatian tulus mereka mencairkan kepenatan sehari itu.
Setiap hari adalah petualangan baru. Dan setiap hari bersama mereka akan menjadi kenangan yang selalu ingin aku ingat selamanya.
Sahabat,
Baru kutahu kebencianmu
bahkan aku tak pernah menjelekkanmu sedemikian rupa
tidak juga membencimu
walau aku tahu jarak kita membentang semakin jauh
Awalnya aku hanya kecewa
namun kau sungguh berubah
bahkan mereka yang mendukungmu saat inipun memalingkan wajah
tapi kau tak merasa salah
setelah sekian banyak terluka oleh sikapmu
aku memaafkan
untuk semua perkataanmu yang menyakitkan
untuk semua perlakuanmu terhadapku
untuk semua prasangka yang kau timpakan padaku
tak apa,
aku tak akan jatuh
untuk segala yang kau kira tlah kau lumatkan untukku
semoga kau bahagia
dan baik-baik saja
(untukmu yang dulu kuanggap sahabatku)
Tanaman di Pot
Dulu aku kira perlu lahan yang luas untuk menanam buah-buahan, tapi sejak berhasil menanam dan memanen buah jambu air kancing di pot, sejak itu aku ingin belajar lebih banyak lagi cara bertanam di pot. Sebelumnya bahkan sampai saat ini pohon mangga dan jambu air (entah varietas apa) tetap belum membuahkan hasil. Padahal kedua pohon itu aku tanam di drum. Sudah sering juga mengalami pemangkasan daun-daunnya. Tapi belum juga menampakkan bunga, apalagi berbuah. Apa karena potnya yang terlalu besar?
Tanaman lainnya yaitu apel india (putsa), jambu air kancing, jambu getas, jambu bangkok, dan belimbing yang aku taruh di pot yang rata-rata diameternya antara 40-45 lumayan memunculkan bunga dan buah. Perawatan yang aku lakukan sih masih standar banget, maklumlah pemula
. Paling menambahkan tanah, pupuk. Pupuk yang aku gunakan biasanya NPK (yang harganya berkisar 5-10 ribu kalau beli sama bakul tanaman), pupuk kambing (beli sama bakul tanaman juga dan sekalian minta mereka yang menaburkan di koleksi tanamanku). Lainnya adalah pupuk air bekas cucian beras, air bekas cucian daging atau ikan. Kalau tanah aku beli di toko tanaman.
Untuk putsa bunganya muncul terus, termasuk genjah. Sudah beberapa kali merasakan buah putsa. Manis kriuk..kriuk. Kalau masih mentah rasanya seperti kedondong. Banyak yang mengatakan bahwa putsa lebih enak dikonsumsi ketika kematangan 85%. Belimbing berbunga dan ada beberapa buah yang mulai besar, namun berjatuhan diterpa hujan dan angin kencang. Masih ada sisa satu. Semoga bisa bertahan sampai layak dipanen. Ingin merasakan buah belimbing perdana dari kebun sendiri
.
Jambu air kancing dari pohon yang baru sudah mulai keluar pentilnya. Semoga pohonnya sehat dan berbuah lebat. Sedih, soalnya pohon jambu air kancing yang dahulu nyaris mati kena jamur. Sudah aku coba perawatan minimalis. Sekarang semoga mulai pemulihan dan bisa sehat kembali.
Pohon jambu getas dan jambu biji bangkok serta lengkeng aku letakkan di atas loteng. Kedua jambu sudah sering berbunga dan berbentuk buah kecil, tapi kemudian rontok
. Entah sudah beberapa kali. Teman-teman di grup penggemar tanaman buah menyarankan menggunakan MKP. Aku sudah mencoba mencarinya sih di toko tanaman, tapi kok susah ya? Kalau kelengkeng sepertinya masih lama, belum layak berbunga
, tapi ya siapa tahu saja ya? hehe.
Ada juga buah naga, yang beberapa bulan lalu baru aku pindah ke tempat yang terkena sinar matahari setelah sebelumnya dari tahun 2010 menyempil di tempat yang teduh. Sulur dan batangnya sudah tinggi dan bercabang, karenanya perlu diberi tiang penyangga. Minggu lalu aku ambil anakan dari induknya, dan mencoba menanamnya kembali serta aku letakkan di teras atas. Kemudian ada murbei. Murbei aku dapat dari seorang teman berupa stek batang berisi 7 buah. Dari ketujuh batang yang muncul tunas ada 5. Sisanya dua buah belum menampakkan tunas baru. Satu batang daunnya sudah lebat. Dua lainnya sudah mulai banyak daunnya dan dua lagi di Bandung.
Selain itu ada jambu bol dan jeruk. Keduanya milik Ibuku yang mendapat oleh-oleh ketika berkunjung ke mekar sari.
Selain tanaman buah ada juga tanaman sayur. Ada selada, kangkung, dan bayam hijau. Rencananya mau coba hidroponik dan aku isi dengan tanaman sayur. Minggu lalu mencoba semai anggur, delima merah, dan melon. Baru melon yang keluar tunas. Lainnya masih bobo
Bibit sayur lainnya yang belum aku semai ada caisim manis (sawi) dan bayam merah.
Duh, rasanya sih selalu ingin menambah tanaman tapi lahan terbatas. Ini saja semua tanaman diletakkan dalam pot, karena tidak ada lahan tanah sedikitpun. Semuanya sudah dilapis semen
.
Ingin bikin dak di atas untuk menambah koleksi tanaman lainnya, tapi menunggu izin dari Ayahku nih, karena ini rumah Beliau. Doakan saja semoga bisa terkabul keinginannya membuat dak
. Amin yra.
Cinta itu Absurd, Jenderal
September seharusnya jadi bulan yang ceria, itu kalau Vina Panduwinata yang bilang. Bukankah ada lagunya September Ceria? Tapi buatku jangankan ceria, bulan itu adalah bulan yang menyakitkan. Pahit. Setelah beberapa bulan kedekatan kami, sebuah surat panjang membuatku remuk redam. Aku bahkan tak memahami (atau sesungguhnya aku tak mau mengerti) mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku, setelah sekian puluh pernyataan cinta dan segenap perhatian? Laki-laki memang brengsek, makiku dalam hati. Seenaknya datang dan pergi. Sejuta penjelasan yang ia tuliskan dalam surat bersampul biru itu tak mampu meredam air mataku. Kamar aku kunci. Aku menangis sesengukan. Bantal dan seprai ku basah. Mengapa..oh, mengapa.
Aku tertidur. Dalam mimpi aku bertemu dengannya. Ingin kumaki dia. Tapi mulutku terkunci. Aku hanya berdiri mematung, bahkan menatap matanya pun aku tak sanggup. Aku ingin lari saja, lebih bagus lagi kalau bumi menenggelamkanku. Oh, kenapa aku? Biar ia saja yang tenggelam. Bukankah ia yang menyakitiku sedemikian rupa? Tapi, mengapa ia diam saja? Apa yang dilakukannya? Berjalan mendekatiku? Oh, Tuhan, mengapa aku tiba-tiba menggigil? Tubuhku membeku. Aku ingin pergi tapi aku tak bisa. Wangi tubuhnya menerpa hidungku. Mengapa ia begitu dekat? Dua langkah lagi, dan aku pasti mati berdiri. Keringat mengucur deras.
“Ah, memalukan kau ini, “kata bayangan diriku. “Persetan, diam kau. Kau tak tahu apa-apa, teriakku jengkel pada bayangan diriku itu.
“Ayo, kalau kau berani, tanyalah. Tanya mengapa dia meninggalkanmu, mengapa ia tega membiarkanmu menangis berhari-hari. Membanjiri bantalmu dengan air mata. Ayo, jangan diam saja seperti itu,” kata bayanganku semakin berani.
“Dan membuatmu depresi berat? Hahaha, tanya. Jangan hanya diam membeku seperti patung es lilin begitu,” bayanganku semakin meracau.
“Diamm,” teriakku jengkel.
“Ah, kau tak seberani yang ku kira. Kau pengecut.”
Aku melempar sebuah sandal dengan keras. Sandal itu jatuh tepat mengenai sasarannya. Tapi bayanganku semakin tak mau diam. Ia malah tertawa semakin keras.
“Kasihan. Kasihan kau ini. Menangisi dirimu sedemikian rupa. Apa yang kau tangisi?”
Entahlah. Aku tak tahu apa yang kutangisi. Kehilangan seseorang yang begitu penuh perhatian kepadaku selama ini? Ah, konyol. Atau aku hanya ingin ia tak melupakanku?
Mengapa sekali ini logikaku pergi jauh?
Mpus Belang Coklat
Untuk: IndonesiaBercerita
Matahari bersinar terik. Udara terasa panas. Selly sedang duduk di beranda sambil mengipas-ngipas sebuah buku ketika matanya menangkap bayangan sesuatu. Dihampirinya makhluk mungil berbulu coklat itu. Hatinya tersentak. Anak kucing!
Sudah berapa lama anak kucing ini ada di sini? Tubuhnya kurus dan tampak kumal. “Sepertinya anak kucing ini sakit,” ujar Selly dalam hati. “Mungkinkah ia haus? Kemana induknya?
Selly segera membuatkan susu untuk si anak kucing.
“Minumlah mpus…” kata Selly sambil mengulurkan susu hangat ke dekat mulut si anak kucing.Tapi si mpus tak menyentuhnya sedikitpun.
“Ayo mpus… minum.. susu ini enak kok” ujar Selly lagi. Anak kucing meringkuk semakin dalam.
Selly merasa hatinya sedih. “Pasti si mpus sakit sekali.”
“Ayo mpus.. minum.. supaya kau cepat sembuh,” kata Selly mendekatkan susu itu kembali ke dekat mulut si anak kucing.
Anak kucing tampak ketakutan dan menumpahkan susu yang telah dibuat Selly.
Selly memperhatikan mpus dengan getir. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Anak kucing tampak tertidur. Selly tak berani mengganggunya. “Mungkin si mpus capek dan ia ingin tidur,” kata Selly dalam hati. Selly menunggu. Ia duduk di beranda sambil terus memperhatikan si mpus.
Angin sepoi-sepoi membawa Selly ke alam mimpi. Ia tertidur. “Sel, bangun sayang,” suara Ibu mengagetkannya.
Selly mengerjapkan matanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Selly berdiri dan melangkahkan kakinya ke tempat si mpus berada. Tapiii… “Buu, ke mana anak kucing yang tadi ada di sini?” tanya Selly sambil menatap Ibunya dengan penuh rasa khawatir. Bola matanya berputar-putar, mencari-cari si anak kucing.
Ibu menatap Selly. Perlahan..
“Anak kucing itu sudah mati Sel. Tadi mbak menemukan….”
“Nggak… nggak mungkin. Tadi dia masih hidup. Anak kucing itu cuma ingin tidur sebentar, Ibu…” mata Selly mulai berkaca-kaca.
Ibu menghampiri Selly.
“Mbak sudah menguburkan anak kucing itu. Ia sakit. Mungkin sakitnya sudah lama,” kata Ibu lagi sambil memeluk Selly. “Kita doakan saja, semoga si mpus bahagia di sana.”
“Bu, boleh aku ambil bunga di sana itu?” kata Selly sambil menunjuk bunga yang ada di halaman rumah. Ibu menggangguk.
Selly memetik beberapa kuntum bunga. Ia melangkahkan kakinya menuju gundukan tanah, tempat anak kucing dikuburkan. Diletakkannya kuntum-kuntum bunga yang masih segar. Selly mengatupkan kedua tangan. Ia memejamkan mata dan merapalkan doa untuk anak kucing berbulu coklat yang baru dikenalnya hari itu.
Forget and Forgive
Apakah aku harus sakit hati? Sekian tahun mengajar dan tiba-tiba kontrakku tak diperpanjang?
Tapi mungkin Tuhan tahu bahwa aku tak cocok berada di sana.
Mungkin memang aku keras kepala, tidak bisa dipahami, aku bukan orang yang mudah diatur, pembangkang kelas satu, dan lain-lain.
Aku mencintai dunia pendidikan, anak-anak, ilmu pengetahuan. Tapi aku juga tahu bahwa aku masih bisa mengabdi di manapun dan dengan anak-anak di manapun tanpa harus ada penyekat yang bernama instituasi.
Dunia Mereka
Setiap sore saya menyiram tanaman. Pada jam yang sama, anak-anak kecil bermain di depan rumah ditemani Ibu mereka. Hal yang paling menakjubkan adalah anak-anak itu. Beberapa dari mereka akan berdiri dan memandangi saya. Ada juga yang lantas memaksa Ibunya untuk mengambilkan ember kecil atau penyemprot mainan milik mereka. Kemudian, ikut mengisinya dengan air dan menyiram tanaman-tanaman yang ada di rumah saya
. Agar tak terlalu banyak air yang mereka tumpahkan ke pot tanaman yang sama, biasanya saya ajak mereka menyiram tanaman lain yang ada di depan rumah. Mereka senang dan terkadang berebutan. Dan saya, senang aja melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang besar yang memancar dari binar mata anak-anak itu.
“Lagi ngapain?” tanya bocah laki-laki ndut dari balik pagar.
“nyiram tanaman” jawab saya sambil membuka pintu pagar.
“nyiram tanaman ya?” tanyanya lagi sambil serius memperhatikan setiap gerak yang saya lakukan.
“Iya, Arkan lagi apa?” tanya saya lagi. (Saya jarang keluar rumah dan bercakap-cakap, jadi mungkin saya salah mengeja nama anak ini.)
Bocah itu tidak menjawab apa-apa. Pandangannya lebih asyik melihat tanaman-tanaman yang sedang saya siram.
Hehe, saya selalu suka melihat ekspresi anak-anak. Sesuatu yang lepas dari perhatian kita orang dewasa sebaliknya mengambil tempat yang teristimewa bagi mereka. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik minatnya. Anak itu tidak memperhatikan lagi mainannya. Dia berlari ke dalam rumah dan kembali dengan alat penyemprot plastik miliknya yang cukup besar. Seorang mbak mencoba menghalangi anak itu, tapi anak itu sudah masuk ke dalam rumah saya. Saya membantunya mengisi air. Ia mulai menyiram. Si mbak kembali merayunya agar menyiram tanaman yang ada di rumahnya. Dua anak lainnya masih bolak-balik mengisi air di keran dan menyiram tanaman-tanaman kembali.
Esok sore, ketika saya sedang menyiram tanaman, anak-anak itu kembali berdiri memperhatikan. Mereka tampak asyik. Kadang saya bertanya, apa kiranya yang mereka sedang pikirkan ya? Apakah mereka sedang membuat skenario cerita yang menarik tentang air dan pohon-pohon itu?
Arkan kembali dengan pertanyaan yang sama.
“Lagi apa?”
Dan saya menjawab dengan kalimat yang sama pula “tante lagi nyiram tanaman”
Anak-anak kecil lainnya, juga akan mengajukan pertanyaan yang sama. Keponakan saya juga akan ikut merubung. Saya pun menjawab pertanyaan mereka dengan kalimat yang sama.
Sekali waktu, anak-anak akan berdiri terus memperhatikan saya yang sedang menyiram. Saya sesekali menengok kepada mereka dan tersenyum. Saya ingin menawarkan mereka untuk menemani saya menyiram, tapi saya ragu apakah orang tua mereka mengijinkan, jadi cara paling ampuh yang saya lakukan adalah membiarkan mereka memandangi saya, membuka pintu pagar. Kadang mereka membuntuti saya, bertanya pohon apa ini, buah apa itu, dan lain-lain.
Dunia indah, bukan? Anak-anak selalu mengajarkan kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hanya sayang, kita seringkali tidak menyadarinya. Kita berpikir kesenangan dan kebahagiaan untuk mereka dengan cara kita dan bukan mereka.
My sweet mbee :)
Setiap Idul Adha saya teringat pada domba kami yang kalem dan tenang sekali, beberapa tahun silam, di atas pegunungan di selatan Bandung, Papakmangu.
Sebelumnya, saya menghindari melihat acara kurban. Pertama, saya trauma dengan peristiwa masa kecil. Saat itu saya melihat acara kurban di masjid dekat rumah. Entah bagaimana, kaki saya terkena darah hewan kurban. Sejak saat itu saya tak berani melihat hewan dipotong. Masih terbayang darah segar yang merembes jatuh ke kaki saya. Kedua, saya tak tega. Saya tak siap melihat ketika hewan-hewan itu ada yang berusaha melarikan diri.
Namun kemudian, makhluk bandel ini berhasil memaksa saya melihat acara kurban. Domba kami cakep dan bersih. Makhluk bandel bilang domba itu mencari saya juga. Saya harus membantu menguatkan agar si domba tenang. Itu saat saya melihat sang domba sedikit gelisah, matanya nanar menatap sekeliling. Saya yang tadinya takut memberanikan diri untuk menampakkan diri. Makhluk bandel berdiri di samping saya, menggenggam tangan saya. Kami menatap mata si domba sambil mencoba berbicara dengannya. Domba itu terus memandang kami, tenang, sampai perlahan ia memejamkan mata.
Itu adalah pengalaman yang tak terlupakan. Saya selalu teringat pada mata domba kami yang tenang dan indah. Dan hari ini saya berdoa, walaupun kami tidak bisa menemani domba yang kami kurbankan hari ini, semoga ia tahu bahwa saya mengirimkan doa untuk mereka.
Dan seperti kata makhluk bandel, semoga mereka menunggu kami kelak, menghantarkan kami ke alam abadi yang penuh keceriaan asasi.
(Insya Allah foto menyusul, karena albumnya ada di Bandung
)
Selamat Idul Adha 1432 H. Selamat berbagi kebahagiaan.
Semoga Allah swt memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beryukur. Amin yra.




