Terkadang ingin rasanya bisa jadi orang bebas yang bisa talk apapun dengan orang lain, tanpa perlu merasa khawatir bersalah. Bermimpi seandainya punya seseorang yang bisa merasakan apa yang aku rasakan tanpa harus menceritakannya. Berharap dan berdoa agar Allah swt akan dan selalu memberiku kekuatan. Bukankah aku tidak boleh runtuh oleh situasi atau oleh apapun?
Hope
March 26th, 2009where
March 18th, 2009Miss my best friend…
can i see u? can i talk with you again?
Patutkah?
November 15th, 2008Boleh tidak menuliskan semua rasa di diary kita sendiri? Hm, tentu saja boleh. Tapi, benarkah? Ya, tentu saja. Kenapa memangnya? Tapi.. tapi, ah tak usah sajalah. Lho?
Aku ingin menikmati saja semua ini dalam hati. Kegetiran hidup tidak selalu harus dilalui dalam kesedihan berlarut-larut. Itu tidak bersyukur namanya. Di luar sana, kepedihan lebih nyata. Tak seharusnya merasa lelah. Hidup toh harus diperjuangkan, bukan?
Rasa
November 4th, 2008Membaca berita di milis yang mengatakan banyak guru PNS yang selingkuh. Alasannya, mereka bilang sehari-hari lebih banyak ketemu rekan kerja dibanding pasangan masing-masing. Halah, hari gini gitu lho, masih bikin alasan yang sama seperti beberapa tahun silam. Nggak keren
. Jadi ingat, di sekolah ini ada isu santer yang berembus mengenai hal di atas. Menanggapi isu-isu di atas, aku seperti biasa, tak ingin tahu. Itu urusan mereka lah.
Bagaimana aku menyikapi kejadian di atas, terutama jika terjadi padaku? Kalau sekedar disukai dan menyukai orang lain, pernah sih. Tapi, aku belajar menanggapi hal-hal seperti itu dengan candaan atau minimalnya kasih senyum hehehe aja
. Lantas, kalau ada orang lain menyukai suamiku, marahkah aku? Hmm, kenapa aku harus marah ya? Aku memilih tidak. Sesuatu hal yang manusiawi jika kita menyukai seseorang.
Aku ingat cerita seorang teman yang dilabrak istri temanku karena alasan pulang bareng. Duh. Tahu apa yang terjadi? Beritanya sampai ke seantero kantor. Malu jelas. Akibatnya, teman cowok itu malah dijauhi rekan-rekannya. Kasian kan? Ada banyak lagi cerita menarik yang sejenis. Waktu aku SMA, pernah ada dua teman cewek berantem (berantem beneran sampai jenggut-jenggutan rambut) gara-gara cowok. Satu sekolah ngeliatin. Pelajaran moral pertama buatku. Jangan pernah berantem gara-gara cowok, malu-maluin sangat.
Di tempat kerja aku juga belajar bagaimana seharusnya aku menyikapi suatu kondisi yang akan melibatkan banyak orang. Aku tidak pernah ikut campur urusan pertemanan suamiku. Dia layak punya teman seperti hal nya aku. Kami perlu bersosialisasi dan mempunyai komunitas dengan orang lain. Ini pelajaran moral nomor dua, yang aku peroleh saat aku kuliah. Teman-teman kuliahku dulu suka mendadak hilang setelah mereka punya pacar dan akan kembali kepada kami setelah bubar jalan dengan pacarnya. Saat itu aku berjanji dalam hati, kelak jika aku mempunyai pacar dan menikah, aku tidak akan melupakan teman-temanku. Dunia kita tidak hanya berdua, bukan?
Mengagumi dan dikagumi orang lain adalah hal yang wajar. Rasa suka kepada seseorang tidak pernah kita rencanakan. Namun demikian aku belajar bagaimana mengolah perasaan itu. Dimana aku harus menempatkannya pada sisi relung hatiku atau sebaliknya membiarkannya pergi. Terluka dan dilukai itu juga bagian dari kehidupan. Namun sesungguhnya luka itu tidak benar-benar menyayat jika kita bisa mengambil hikmahnya.
Thanks
November 1st, 2008Sebenarnya sudah lama ingin menuliskan ini tapi ragu-ragu. Nah, karena sepertinya sudah banyak yang tidak mengunjungi blog ini jadi mending sekalian aja. Hehehe, alasannya nggak banget. Nggak ding. Bukan itu. Aku ingin berterima kasih kepada seseorang, yang dulu pernah menjadikan aku sahabatnya. Mungkin sekarang pun masih. Walau ada masa aku sangat terluka. Tapi berlalunya waktu aku menyadari bahwa dia sesungguhnya menyayangi aku. Sahabat sejati adalah orang yang tidak membiarkan kita jatuh. Aku mengerti dan memahami hal itu kemudian. Walaupun saat itu begitu banyak pertanyaan yang berkelebat dalam pikiranku.
Nah, aku tidak tahu apakah pernah pada suatu masa dia bertanya-tanya tentang keberadaanku. Atau bahkan mungkin mencariku? ge er benar
. Namun satu hal, terima kasih atas semuanya. Aku tidak marah pun kesal atas semuanya. Dari hati yang paling dalam, maafkan aku.
Duh, publish nggak? Ya sudahlah, publish aja. Sebelum melantur kemana-mana lebih baik diakhiri sampai di sini
. Hehehe.
To: someone in my previous life.
Telat
October 29th, 2008Nggak enaknya kalo dapat jadwal ngajar pagi malamnya malah nggak bisa tidur. Jam pertama mengajar di sekolahku itu dimulai 6.40. Kebangun beberapa kali dan melihat jam. Hari ini aku sampai sekolah telat dikit. Malu-maluin nggak sih. Macet dan banjir gara-gara semalaman hujan, aku diturunin di tengah jalan sama tuh angkot. Kesel banget.
Benar aja baru sampai di sekolah, guru piket langsung ngasih absensi dan buku siswa di kelas tempat aku mengajar. Duh, pasti tadi guru piket sudah keliling. Maafkan. maafkan. Padahal aku telat sekitar 8 menit an
. Tapi jelas ketahuan lah, karena anak-anak masuk jam 6.30. Sekitar 10 menit sebelum belajar mereka diharuskan ber-tadarus (untuk umat islam) dan .. apa ya duh lupa namanya (untuk yang beragama kristen). Tapi, benar deh kalau telat pas kita mengajar rasanya maluu banget. Padahal dulu waktu kerja di kantor, aku bisa cuek aja tuh
. Rekan guru juga bukan orang-orang yang suka ngurusin orang lain. Mereka tak pernah menyindir orang-orang yang telat, misalnya. Yang aku rasakan sih profesi guru kaya nya memang tepat buat orang seperti aku
. Aku jadi belajar berdisiplin. Hehehe.
Jadi nggak bisa donk bilang ke murid jangan telat ya nak. Lha wong gurunya aja telat kok.. hihihi.
Foto Bareng Andrea :)
October 27th, 2008Akhirnya berhasil juga berfoto sama makhluk satu ini. Sayangnya, tak kubawa pula buku tetralogi laskar pelangi karangan Beliau
. Hore, satu lift juga. Duh, kok jadi deg-deg an gini ya
. Dengan malu-malu tapi mau, kuberanikan diri meminta doi membubuhkan tanda tangannya di tas souvenir hasil pemberian nonton bareng klub guru dengan laskar pelangi. Tak ada rotan akar pun jadilah. Nggak punya buku tas pun jadi sasaran. Nyatanya, ibu-ibu di sebelahku ikut-ikutan. Yeee…
. Ajak ngobrol nggak ya? Hitung kancing dulu. Ah, cuek deh. Dengan suara setengah tertahan, kataku “Kapan mas Andrea buku Maryamah Karpov nya keluar”. ‘Bulan November ya”, jawabnya dengan tersenyum. Duh, ramah nian makhluk ini. Senyumnya… cckk..cckk… bikin klepek-klepek aja (hahaha). Ngomong apalagi ya? Duh, sial dia sama teman-temannya sih. Jadi ngebayangin: Andaikan aku sama dia aja berdua di dalam lift. Terus lift nya mati bentar aja
. Terus.. terus… wakakakakk (nggak ding, ini mah boongan, asli
).
Yah, nih lift bentar banget sih kok tau-tau udah sampai. Ya, tak apalah setidaknya udah bisa foto dan minta tanda tangan. Berhubung tanda tangannya di atas tas, dengan hati-hati aku perhatiin tuh tas biar tinta pulpen nggak mbeleber kemana-mana.. hihihi.. segitunya. Pokoknya mah sepanjang jalan repot dan riweuh sama tuh tas
. Tak lupa sambil senyum-semyum (lha?senyum sama siapa? kkekekk). Sampai-sampai partner yang dari tadi menanyakan aku mau makan dimana, nggak aku jawab. Aku bilang sama dia, “dimana aja deh. Duh, nggak bisa jawab nih, lagi excited banget”. Doohh. Hehehe. Serasa abg aja aku
. Partner senyum sambil ketawa-ketiwi gitu. Pasti ngetawain aku ya? *melirik dengan kejam*. Ah, biar ah. Pokoknya hari ini mau nyanyi lagunya dora. Berhasil..berhasil…yeeahh
Jenuh
October 22nd, 2008Tiba-tiba merasa jenuh untuk mengajar. Kangen sama murid-murid kecilku dan murid-murid di SMPT, dulu. Mengikuti mood itu tidak baik, i know. Tapi, praktiknya susah euy. Apa yang berbeda murid-muridku sekarang dengan yang lalu-lalu? Banyak. Tapi tak baik juga membandingkan. Rasanya mengajar murid-murid yang sekarang kok lebih berat ya. Walaupun aku berusaha untuk tidak menjadikan beban. Tapi rasanya tidak cair seperti dulu. Apakah mungkin karena jumlah anak yang terlalu banyak di kelas, sehingga tidak memungkinkan aku dan mereka untuk saling berinteraksi? Sepertinya itu memang salah satu pemicu juga.
Mengajar di sini memberikan gambaran padaku bahwa seperti inilah kebanyakan kondisi pendidikan di Indonesia. Dan aku sepenuhnya merasa gagal menyesuaikan diriku dengan situasi dan kondisi lingkungan seperti ini. Namun pada saat yang bersamaan, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sepenuhnya gagal. Aku masih bisa mencoba memperbaiki semuanya, mudah-mudahan.
Ayo, semangat.. semangat… (duh, bisa semangat nggak sih?)
Not to do
July 28th, 2008Tepar beberapa hari, maag yang kambuh-kambuhan ditambah ngeliyeng yang muncul tiba-tiba setiap hari membuatku absen mengajar dan absen juga urusan lainnya. Memaksa diri masuk juga jumat kemarin. Mudah-mudahan hari ini dan seterusnya bisa lebih baik dan pulih kembali. Hm, apa sih yang membuatku stres sebenarnya? Rasanya tidak ada tapi sesak dan rasa sakit yang datang tiba-tiba memang membuat pikiranku melantur kemana-mana. Sebel. Ah, lupakan itu dulu. Minggu ini banyak yang musti dikerjakan. Ayo, semangat. Tuhan, berikanlah aku kekuatan.
Long Distance
July 12th, 2008Ops, ada angin apa aku nulis tentang ini? Hehehe. Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman yang pernah merasa bertanya-tanya masalah ini ke aku. Impian setiap anak muda untuk menikah, bersama selalu setiap waktu bersama pasangan, dan lain-lain
. Pertanyaan yang sering muncul: kok bisa jauh-jauhan? Nggak takut suaminya selingkuh? Udah berapa tahun hubungan long distance gitu? bla bla bla lagi
.
Pertama, walaupun manusia sudah menikah masing-masing tetaplah sebuah individu. Setiap individu itu mempunyai kebutuhan untuk terus berkembang. Yang kalau menurut hirarki kebutuhan hidup nya Maslow dikenal dengan aktualisasi diri.
Dan karena salah satu pertimbangan di atas maka aku memutuskan untuk tetap bekerja. Dan karena sekali lagi kesempatan itu adanya di kota yang lain, maka dengan ijin serta restu dari dia aku mengambil kesempatan yang ditawarkan. Aku bukan istri yang baik karena tidak mengurusi suami? Ya, orang lain boleh komentar apa saja
. Bukan berarti aku tidak pernah mencoba untuk menjadi istri yang baik itu
. Pernah keluar dan memutuskan pindah ke kota dia. Tapi, sungguh deh nggak bertahan lama. Dampak ke dalam diriku juga tidak terlalu baik. Akhirnya, aku kembali bekerja dan lagi-lagi Jakarta lah yang mau menerimaku. Tentu kita semua mempunyai cara pandang yang berbeda dalam merunut berbagai permasalahan.
Takutkah aku kalau dia selingkuh? Nggak. PD atau sombong? hehehe, jangan salah. Aku tidak mau memaksa orang yang memang sudah tidak menyayangi aku lagi. Membiarkan dia pergi dan memilih orang lain yang menurut dia lebih baik tentu menyakitkan tapi masih lebih baik jika hubungan dipertahankan hanya untuk suatu kepura-puraan. Tidak ada sesuatu pun yang kekal di dunia ini. Kekecewaan, kesedihan, kehilangan, ketakutan, semuanya mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu atau seorang pun yang layak dijadikan gantungan dalam hidup. Hanya tuhan, Allah swt, tempat kita bergantung. Lagian menurut aku konyol aja kalau ada yang menyarankan agar kita selalu mengawasi pasangan kita. Kurang kerjaan bener
. Mungkin suka nongkrong nonton sinetron maka bawaannya curiga melulu.
Berapa lama aku sudah menjalani hubungan long distance ini? Hm, ada kali 10 tahun. Diantara tahun tersebut ada 1 tahun dimana aku dan dia benar-benar tidak bersama. Karena dia harus melanjutkan sekolah ke negara nya elizabeth. Berat? Ya iyalah, masa ya iya donk
. Bohong banget kalau dibilang tegar
. Well, sampai hari ini kami masih berjauh-jauhan. Dan mensyukuri nikmat -Nya karena kami masih diberi kesempatan untuk selalu bersama.
Dan kalau ada orang yang bertanya apa resepnya kami bisa bertahan walau jarak memisahkan, hmm, aku nggak punya jawabannya. Semua nya kami jalani saja, mengalir dan apa adanya.