Category Archives: Uncategorized

Apa Kabar Tontonan TV Kita?

Sudah lama saya puasa menonton TV. Berhenti menonton televisi tanpa sebuah niat khusus, terjadi begitu saja. Barangkali karena bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana lalu lintas begitu padat dan jarak tempuh yang tidak singkat, memang menghabiskan energi. Sampai di rumah badan sudah letih. Kalau harus ditambahi dengan tontonan sinetron yang isinya orang teriak-teriak itu bukan menghibur hati malah sebaliknya, pengin melempar sandal ke televisi :).

Maka, hubungan saya dengan televisi pun berakhir perlahan. Menonton televisi hanya di tempat-tempat tertentu, seperti stasiun kereta api, bandara, rumah saudara, dan lain-lain. Selintas lewat :). Sekarang, untuk berita-berita penting saya lebih mengandalkan TV streaming.

Maka, wajar juga kalau saya tidak update dengan kabar-kabar infotainment dan acara hiburan di TV. Sebaliknya, berita kasak kusuk tingkah laku artis malah saya peroleh dari status kawan-kawan di sosial media. Tetapi, saya hampir tidak pernah membuka link yang mereka sertakan di dalam berita itu. Pertama, keamanan. Saya belajar untuk tidak selalu ‘ingin tahu’ dengan mengeklik sembarang link. Apalagi ada masa virus dan spyware menyebar yang mengakibatkan wall sosial media milik kita ditempeli video atau gambar yang tidak pantas. Kedua, malas. Saya tak terlalu berminat mengikuti kehidupan para artis. Ini sebenarnya lebih ke arah pengereman diri pribadi saja. Saya khawatir bakal tambah nyinyir kalau membaca berita tentang mereka :). Sedangkan saya sedang belajar untuk tidak dengan mudah menghakimi orang lain. Sulit loh itu. Sungguh.

Namun ada kalanya pernyataan selintas di status kawan membuat saya gregetan juga ingin berkomentar. Halah :).

Saya tidak tahu seperti apa acara televisi saat ini. Tetapi saya percaya bahwa tontonan pun seperti halnya bacaan akan membentuk cara kita berpikir. Pembentukan karakter kita pun tidak lepas dari pengaruh keduanya, yang kita lihat dan yang kita baca.

Nah, kebetulan beberapa hari yang lalu saya melihat film televisi jaman dahulu di youtube. Mulanya saya mencari film Neraca Kasih yang dibintangi Tuti Indra Malaon. Konon ini film bagus. Dari film Neraca Kasih saya lalu menenukan tak sengaja film yang dibintangi oleh Yessy Gusman dan Rano Karno (dua artis paling top di jamannya) yang berjudul Buah Terlarang. Hm, memang agak gimana gitu judulnya ya? πŸ™‚

Filmnya tak penuh, tapi ada beberapa hal menarik yang saya amati dari film lama ini.

Dikisahkan, sepasang remaja SMA yang saling jatuh cinta. Singkat cerita, terjadi kehamilan. Bagaimana sikap orang tua, anak, dan orang-orang disekeliling mereka menyikapi peristiwa tersebut? Ini yang menarik.

Dalam sebuah adegan, ditampilkan bagaimana si Ibu perempuan berkomunikasi dengan sang putri. Bagaimana si Ibu menghargai privasi anaknya dengan meminta asisten rumah tangganya membuat bubur dan segera menutup pintu kamar agar mereka berdua bisa berkomunikasi. Walaupun kaget dan marah dengan pengakuan putrinya tetapi si Ibu tampak bisa menahan emosinya. Kalau di sinetron sekarang barangkali si Ibu sudah teriak-teriak histeris (semoga masih dengan kalimat yang santun ya? πŸ™‚ ) sambil tak lupa mata melotot dan urat wajah menegang. Lalu, sang anak pun tak kalah galak. Balik menyalahkan Ibunya dan membanting pintu, pergi. Tinggal deh si Ibu menangis sesengukan. Drama banget ya? (Jadi bertanya-tanya, apakah kepandaian masyarakat kita ber-drama di dalam dunia nyata ini diwarisi dari tontonan yang seperti ini ya?).

Adegan lainnya dalam film lama itu adalah ketika si Ibu mencari waktu yang tepat untuk bisa menceritakan kehamilan putri mereka kepada sang suami. Ada juga diceritakan bagaimana para Guru berdebat untuk menyelesaikan permasalahan yang bisa mencoreng nama sekolah. Para Guru di film ini digambarkan sebagai orang-orang pintar yang terdidik. Perhatikan bagaimana mereka berdiskusi dan sampai kepada keputusan akhir.

Beberapa kutipan dialog yang saya suka dari film ini.

“Memberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah juga berarti merupakan hukuman yang berat. Dia diuji untuk menghadapi kenyataan dan lingkungannya. Hukuman tidak harus berupa penistaan. Senyuman pun bisa merupakan hukuman.”

“… Pendidikan tidaklah sekedar memperoleh ijasah tetapi mempersiapkan anak didik kita menghadapi masyarakatnya kelak.”

Ibu si anak laki-laki: “… Tampaknya dia putus asa dan tidak sanggup menghadapi Guru dan teman-temannya.” (ketika si Ibu menceritakan bahwa anak laki-lakinya tidak ingin melanjutkan sekolah)

Wali kelas: “… Tetapi ini merupakan ujian bagi dia untuk menghadapi kenyataan. Dan itu memang pahit tapi ini sangat perlu untuk membuktikan bahwa perbuatannya tidak dilakukan iseng-iseng.”

Tanpa harus berteriak kasar dan melotot serta tegangan syaraf lainnya toh pesan film ini pun tetap sampai, bahwa apa yang kedua remaja itu lakukan adalah hal yang salah, yang membuat orang tua mereka marah dan kecewa. Namun, itu lah konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Keduanya harus berani belajar untuk menghadapi kehidupan dan bertanggungjawab terhadap pilihan mereka.

Jaman memang berubah, tapi nilai-nilai moral dan budi pekerti tak selayaknya tergerus oleh kemajuan jaman.

Yang berminat melihat trailernya silakan ke sini: https://www.youtube.com/watch?v=pmzy5ebC810

Menulis itu Mengasyikkan

Saya mempunyai 4 blog yang kesemuanya aktif, dan beberapa blog gratisan :). Barangkali tampak seperti kurang kerjaan ya? Hehe. Entahlah, bagi saya menulis adalah kebutuhan. Sama halnya dengan membaca. Ketika kedua kebutuhan itu terlepas maka yang tersisa adalah kehampaan.

Empat blog itu berisi bermacam-macam bentuk tulisan, yaitu:
1. Blog yang berisi materi pembelajaran di sekolah. Blog ini untuk memudahkan murid-murid mengakses materi yang saya berikan. Blog ini juga berperan sebagai majalah dinding yang berisi karya kreasi murid-murid saya.
2. Blog kedua berisi seputar penerbitan dan penulisan serta tulisan perjalanan. Blog ini juga memuat tulisan job review baik produk atau jasa dari layanan blog advertising.
3. Blog resensi buku. Seperti namanya, blog ini berisi review buku-buku yang saya baca. Beberapa buku ada yang diberikan langsung oleh pengarangnya untuk di-review, atau dari penerbit buku melalui komunitas BBI (Blogger Buku Indonesia). BBI bekerjasama dengan banyak penerbit yang seringkali mengirimkan buku-buku baru dan gratis untuk diresensi oleh para blogger pecinta buku.
4. Blog curhat :). Nah, ini blog tempat saya menulis tentang kegemaran saya berkebun dan juga tulisan sehari-hari semisal yang sedang saya tulis ini.
5. Blog lainnya yang gratisan ada yang berisi puisi dan sajak, kutipan dari buku-buku dan blog untuk trial dan error :), diantaranya: http://castor05pollux.tumblr.com/ , http://enggar.tumblr.com/ , dst πŸ˜‰

Apakah semua blog itu rutin di isi? Nggak juga sih. Namun saya berusaha untuk menulis walau sesedikitpun. Blog-blog itu ternyata sangat membantu saya loh. Contohnya, ketika saya diminta secara mendadak untuk menggantikan nara sumber yang berhalangan hadir. Saat itu saya nderedeg juga, tak terbayang mau bicara apa saya nanti di depan? Hehe. Saya kemudian ingat beberapa materi yang pernah saya tulis di blog dan kebetulan saat itu menjadi topik talk show. Nah, saya cukup mengunduh materi presentasi saya di slideshare dan membuka blog yang berisi materi serupa. Talk show berjalan lancar dan cukup memuaskan :).

Pengalaman di atas kemudian meyakinkan saya bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Pun saya menyadari bahwa kegemaran kita membaca dan menulis bisa jadi membantu kita pada saat-saat yang krusial.

Oya, pengalaman menulis buku juga membantu saya mengatur strategi (halah, yo opo iku rek? :)).
Maksudnya begini, ada kalanya sebagai penulis, Anda dihadapkan pada situasi menulis dengan batas waktu yang ketat. Cara saya menyiasati nya adalah dengan terbiasa mengumpulkan tulisan-tulisan yang mungkin menjadi topik yang ingin saya tulis suatu saat nanti. Saya imbangi juga dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan topik tersebut. Sehingga jika suatu saat saya harus menulis tema tersebut dengan deadline mepet saya tidak terlalu kerepotan. Sebenarnya bagi seorang penulis, menulis dengan batas waktu ketat itu hal yang hampir kebanyakan pernah mengalaminya atau barangkali malah menjadi santapan mereka sehari-hari :). Untuk itu lah mereka harus senantiasa mengupdate diri dengan banyak membaca, baik yang berkaitan dengan ilmu nya langsung maupun tidak, karena percaya deh semua itu memberi nilai tambah kepada wawasan kita.

Nah, jangan kaget ya kalau dalam minggu-minggu ini saya ribut banget di blog, baik di sini atau di blog saya lainnya, maklum sekolah libur dan ini kesempatan saya menuangkan isi hati alias curhat sebanyak-banyaknya… haiyah, hehehe :))

Arti Sosmed untuk Saya

Partner adalah filter bagi saya, dimanapun. Ketika saya menceritakan kepadanya bahwa saya berdebat dengan kawan di sosial media, ia akan mengingatkan karena ia tahu bahwa saya pasti akan menyesali konfrontasi yang terjadi. Memang betul sih :). Tapi tujuan saya sebenarnya bukan untuk berkonfrontasi, saya hanya ingin sekedar mengungkapkan pendapat saya. Itu saja. Tidak pernah ada niatan untuk merasa lebih unggul atau lainnya.

Kata partner, lebih baik bagi saya menulis di blog dan bukan di sana. Sosial media adalah tempat terbatas untuk kita menuangkan pemikiran. Sepertinya saya akan menuruti partner, dan saya akan memulainya di blog ini.

Kita memang hidup dalam ketidaksempurnaan. Maka, kita tidak bisa berharap segalanya berjalan sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah membentuk sebuah lingkungan yang baik. Bagaimana caranya? Ini kata partner.

Mulai dari diri sendiri. Dan karena saya sering menggunakan sosial media facebook untuk berbagi maka saya akan memulainya dari sini. Sebenarnya saya sudah mencoba juga, tetapi ada kalanya terbawa arus juga :). Ah, manusia.

Pertama, gunakan facebook untuk berbagi berita, artikel, tulisan yang baik. Tulisan yang mengajak berantem lebih baik tidak perlu di share. Tulisan seputar prestasi remaja-remaja Indonesia, guru berprestasi, dan yang seperti itu layak di share dan di repost, kalau perlu :). Mengapa yang baik? Kata partner, berita buruk akan membuat orang berpikir bahwa, “oh, melakukan itu nggak pp.” Maka, lihat dampaknya.

Berita baik yang disiarkan terus menerus akan mengubah cara pandang kita. Sebagai contoh, Jokowi. Berita seputar Jokowi yang baik akan membuka mata bagi yang lain bahwa kesederhanaan, kejujuran, kerja keras adalah sifat-sifat yang dirindukan dan diimpikan oleh rakyat Indonesia untuk seorang pemimpin. Lihat efeknya. Berbagai media akan mencari tahu dan mengulas pemimpin-pemimpin (yang sebenarnya banyak hanya saja tidak pernah tampil di permukaan karena barangkali selama ini media terlalu sibuk dan asyik dengan berita-berita korupsi dan berita sampah lainnya) dengan karakter serupa. Dan akan banyak calon pemimpin yang terinspirasi dan terdorong untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.

Kedua, hindari menulis status yang mengundang konfrontasi. Dan juga, komentar yang menyindir atau mengajak berantem. Abaikan saja. Karena, menulis status itu acapkali tidak bisa menggambarkan pemikiran kita sepenuhnya. Kadangkala, informasi sepenggal yang tertangkap itu bisa melahirkan persepsi yang berbeda. Jangankan tulisan, berkomunikasi lisan saja kita seringkali salah menafsirkan.

Ketiga, pamerkan saja foto koleksi tanaman dan buku :).
Kata seorang pakar, untuk mempengaruhi orang lain itu mudah. Masa? Hehe.

Mau tahu trik saya untuk memancing murid-murid memiliki ketertarikan pada bacaan? Begini, di sela-sela jam mengajar saya sering menceritakan tokoh-tokoh terkemuka. Karena mata pelajaran yang saya ampu adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka saya akan bercerita tentang tokoh pencipta facebook, google, tokoh-tokoh IT dan berita terbaru dunia IT yang semuanya saya peroleh dari buku bacaan. Sambil bercerita tak lupa berikan judul bukunya.

Nah, demikian juga di sosial media. Saya seringkali memasang foto buku yang sedang saya baca atau saya koleksi. Selain itu, saya juga suka menulis kutipan dari buku-buku yang sedang saya baca. Cara ini memudahkan saya ketika membuat review buku tersebut nanti. Saya pun ada kalanya tertarik dengan sebuah buku oleh karena status kutipan sebuah buku yang dibuat oleh kawan-kawan saya.

Ingin mengajak orang lain peduli lingkungan? Pasang saja foto koleksi tanaman kita. Selanjutnya, akan banyak kawan-kawan kita yang tergerak untuk memulai berkebun.

Ya, kita semua saling mempengaruhi. Selama mempengaruhi untuk hal-hal baik, tak apa, bukan? πŸ™‚

Jadi, kembali lagi, pada akhirnya nasihat yang berhasil itu adalah teladan.

Mari kita memperbaiki diri selalu untuk menjadi lebih baik. Kalau sesekali kita khilaf itu adalah manusiawi. Sangat manusiawi malah, kita kan bukan malaikat. Aneh nanti kalau tidak pernah melakukan kesalahan, dan itu tidak akan mungkin selama kita menjadi manusia πŸ™‚

Budi Pekerti

Tengah malam tadi saya berbincang-bincang dengan partner. Tema obrolan kami mengenai budi pekerti.

Di Indonesia, budi pekerti erat dikaitkan dengan agama. Sementara, menurut dia, budi pekerti adalah sains. Budi pekerti bekerja seperti sebuah ekosistim.

Maksudnya?

Menurut Wikipedia, ekosistim adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Atau bisa dikatakan juga tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.

Begini, misalkan saya seorang siswa. Saya memperoleh nilai bagus hasil mencontek. Dengan nilai bagus saya mendapatkan sekolah yang baik dan pada akhirnya pekerjaan bagus. Di dalam bekerja, saya menjadi pengambil keputusan untuk proyek-proyek besar. Saya bernegosiasi dan melakukan praktik-praktik kecurangan untuk mendapatkan keuntungan besar untuk diri saya sendiri. Saya sukses dan kaya dengan hasil kecurangan-kecurangan yang sudah biasa saya lakukan tadi. Sekarang, mari kita lihat, siapa yang dirugikan? Perusahaan, proyek-proyek, lingkungan sekitar? Apa hanya itu saja? Tentu tidak, perekonomian negara pun akan berpengaruh. Dan ketika perekonomian negara hancur, siapa yang menderita? Kita semua.

Sementara, barangkali, si koruptor tidak terlalu merasakan dampak dari perbuatannya. Ia, selain dipenjara, mungkin masih bisa hidup nyaman juga.

Sekarang, bagaimana kalau kita balik? Saya bekerja jujur, bekerja keras dan tekun. Dengan kinerja yang baik maka sistim di tempat saya memperoleh keuntungan yang pada akhirnya memperbaiki perekonomian negara secara menyeluruh. Saya kaya dan sukses. Demikian juga dengan orang lain. Mereka pun akan merasakan dampak dari sebuah sistim yang terbentuk dengan bagus. Kalau kata partner, tumbuh dan besar bersama-sama. (Serupa dengan pemikiran koperasinya Bung Hatta).

Saya kemudian teringat pada sebuah film, judulnya Pay it Forward. Lakukan sebuah kebaikan maka kebaikan itu akan menulari banyak orang. Pun demikian keburukan. Satu keburukan, dampaknya tidak hanya kembali kepada yang melakukan keburukan tetapi menyeluruh, kita semua menanggungnya.

Begitulah.

Santun adalah juga Tujuan Pendidikan

Belum lama seorang teman di facebook men-share tulisan mengenai Etika Ber-SMS dengan Dosen. Tulisan tersebut bisa dibaca di sini. Saya setuju bahwa ada etika ketika kita berkomunikasi dengan siapapun, tidak hanya kepada Guru dan Dosen.

Seperti halnya ketika berhubungan dengan bermasyarakat, kita harus memperhatikan etika, adab, tata krama. Apa yang terjadi kalau di dalam pergaulan sosial manusia tidak lagi mengenal sopan santun? Barangkali kita tidak perlu banyak berbicara, karena peristiwa yang ada di sekitar kita saat ini sudah menjadi bukti dampak dari memudarnya nilai-nilai budi pekerti.

Budi pekerti adalah induk dari segala etika, tata krama, bagaimana berperilaku baik dalam pergaulan.

Ada cerita menarik dari buku Bung Hatta. Hatta kecil pernah menolak sekolah, karena menurut ia sekolah adalah bikinan Belanda. Sang Kakek kemudian mengatakan seperti ini, “Ilmu bukan datang dari orang Belanda, tapi dari Allah. Kita wajib belajar dan bersekolah agar pandai dan berbudi”. (halaman 28, dari sebuah novel. Hatta, Aku Datang karena Sejarah).

Dengan belajar, manusia mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan, menurut Helen Keller, seseorang semustinya bisa membedakan mana perbuatan yang baik dan buruk, mana yang mulia dan tidak. Selaras dengan arti kata budi, yaitu kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Maka, sangat jelas bukan, bahwa tujuan pendidikan itu tidak hanya menjadikan kamu pandai tapi sejatinya juga berbudi pekerti luhur. Berbudi, dalam kamus bahasa Indonesia artinya mempunyai budi (tabiat dan watak yang baik), mempunyai kebijaksanaan, berakal, berkelakuan baik, murah hati, baik hati.

Jadi, absurd buat saya kalau ada orang berkilah bahwa etika tidak diperlukan dalam pergaulan di masyarakat. Apalagi, untuk kasus di atas, beranggapan bahwa Guru atau Dosen mereka gila hormat. Sama sekali bukan dengan alasan seorang Guru atau Dosen ingin dihargai tetapi memiliki etika yang baik itu juga merupakan tujuan sebuah pendidikan.

Lomba Resensi Buku

Jadi, 26 November lalu saya dikirimi email dari Qbaca. Isinya memberitahukan bahwa dari hasil voting publik resensi saya dinyatakan masuk ke dalam babak final. Senang? Iya donk.. hehe. Untuk itu, maka saya dan beberapa finalis lain diundang untuk datang ke kantor Qbaca di menara multimedia untuk mengikuti babak final. Dalam email juga dinyatakan bahwa para finalis diminta untuk membawa peralatan gadget mereka dan alat tulis. Sampai di sini sempat mikir, barangkali nanti para finalis mau di tes cara pemakaian aplikasi Qbaca. Tapi alat tulis? Buat apa ya?

Kemudian email berikutnya datang, berisi keterangan bahwa para finalis nanti akan diminta untuk meresensi buku yang sudah disiapkan oleh Qbaca. Oh, baiklah :). Namun judul buku yang harus diresensi masih disembunyikan oleh pihak panitia dan baru akan diberitahu pada saat pembukaan acara di kantor menara multimedia pada hari Kamis, tanggal 28 November. Maka, usai mengajar (sebenarnya belum selesai sih, saya ijin pulang terlebih dahulu di jam terakhir. Hanya satu kelas kok dan murid-murid sudah diberi tugas :)) saya pulang ke rumah dan bersiap untuk berangkat menghadiri tes tertulis itu :). Saya datang paling awal, syukurlah, padahal sudah khawatir terlambat.

Layar di depan meja menayangkan judul sebuah buku terbitan Qbaca. Kebetulan saya pernah mengunduh buku tersebut dan juga meresensinya dulu sekali, kali pertama buku itu diterbikan oleh Qbaca. Oya, Qbaca memiliki koleksi buku-buku yang kamu bisa unduh secara gratis. Dan tentu saja, buku yang harus kami resensi saat itu adalah salah satu koleksi dari buku-buku gratis milik Qbaca. Apakah resensi saya sama dengan yang pernah saya tulis dulu di sini? Hehe, mau nya begitu tapi sungguh saya sudah lupa dengan isi resensi saya waktu itu. Jadi, saya membaca kembali buku tersebut dan membuat resensinya di dua lembar kertas yang sudah disiapkan panitia.

Sebenarnya saya cukup gagap kalau menulis dengan tangan, karena barangkali lebih sering mengetik di komputer dibandingkan menggunakan tulisan tangan maka tulisan tangan saya begitu hancur lebur. Mungkin teori evolusi Darwin itu benar adanya ya? ;-). Jadi, mohon maaf kepada panitia kalau tulisan saya jelek, tapi mudah-mudahan masih bisa terbaca ya? hehe.

Dan, kemarin tanggal 3 Desember, sepulang mengajar, saya menerima email dari Qbaca yang menyatakan bahwa saya masuk ke dalam 3 besar. Tapi saya sendiri belum tahu saya ada di urutan mana, karena sebelumnya saya sudah masuk ke web mereka tapi belum ada pengumuman pemenang. Bersamaan dengan email, saya di-mention oleh seseorang yang memberikan ucapan selamat. Sempat heran juga, darimana anak ini tahu saya yang menang? Selanjutnya saya cek ke web Qbaca dan Alhamdulillah, nama saya ada di urutan kedua. Dan seseorang itu ternyata salah satu finalis juga di acara babak final kemarin. Kalau nggak salah kamu yang di depan saya kan ya? πŸ™‚

Terima kasih untuk pihak Qbaca atas kepercayaannya. Dan juga terima kasih untuk seorang teman yang sudah ‘memaksa’ saya mengikuti lomba resensi ini.. hehe. Eh, tapi sudah layak di-publikasi-kan kan ya kemenangan ini? hehe πŸ™‚

Pengumuman lengkapnya bisa dilihat di sini.

qbaca

Seminar Manfaat Buku Digital Bagi Pembaca dan Penulis

Hari Sabtu kemarin saya menghadiri seminar dan FGD (Focus Group Discussion) dari Qbaca dengan tema Manfaat Buku Digital Bagi Pembaca dan Penulis. Datang terlambat tapi tetap semangat.. hehe. Buktinya? Dapat buku gratis donk ^-^.
goodie
Berhubung terlambat jadi tidak mengikuti perbincangan secara lengkap oleh nara sumber hari itu, yang terdiri dari: Moammar Emka (Penulis), Dr. Ruli Nasrullah (Doktor Budaya Cyber UGM), Intan Savitri. msi (Ketua Forum Lingkar Pena) dan Iyut Syifa Fauzia (Publisis Buku).

Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta, dari masalah buku seperti apa yang best seller, pembajakan buku sampai infrastruktur yang belum merata yang menjadi kendala bagi sebagian besar masyarakat untuk mengakses buku digital.

Mbak Sekar dari Komunitas Pondok Baca mengeluhkan mahalnya biaya transportasi dan pengiriman buku ke daerah pelosok. Beliau juga mempertanyakan pendistribusian buku dari penerbit yang tidak mencapai ke daerah-daerah tersebut.

Menurut Moammar Emka, buku seperti apa yang bakal best seller itu tidak bisa terjawab. Laris tidaknya sebuah buku tergantung kepada banyak hal, yang terutama adalah marketing. Terkadang ada buku yang tidak terlalu bagus tapi karena pemasarannya oke maka buku itu terangkat naik.

Untuk masalah pembajakan buku, ingat ketika buku Laskar Pelangi menjadi best seller? Tidak lama setelah itu bajakannya ada dimana-mana. Atau mungkin buku Jakarta Undercover nya Moammar Emka? Itu hanya sekedar contoh bahwa apapun bentuknya, baik buku cetak atau buku digital peluang untuk disalin selalu ada. Namun perlu diketahui jangan bayangkan bahwa buku digital selalu berformat pdf, yang biasanya dengan mudah filenya bisa disalin orang kemana-mana. Teknologi terus berkembang demikian juga tingkat pengamanan terhadap sebuah aplikasi. Demikian juga dengan buku-buku digital (ebook).

Ada cerita menarik dari Moammar Emka. Ia mencontohkan solusi yang ia beserta tim penerbitnya lakukan ketika buku Jakarta Undercover dibajak. Mereka membudgetkan beberapa puluh (atau ratus ya? lupa) juta untuk menyalin buku itu dan mendisainnya sedemikian rupa persis buku aslinya. Kemudian mereka menjual ke pengecer sejumlah harga biaya cetak. “Yang penting biaya sejumlah itu kembali,” ujarnya. Dan memang trik yang ia gunakan berhasil.

Saran juga datang dari peserta seminar lain, diantaranya untuk masalah mahalnya biaya transportasi ke daerah pelosok. Seorang peserta menyarankan agar komunitas bekerjasama dengan sponsor, atau lembaga-lembaga yang menyediakan dana CSR dan sebagainya. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya.

Sementara kenapa pendistribusian buku dari penerbit tidak mencapai ke pelosok menurut saya hal itu dikarenakan penerbit juga memiliki keterbatasan dana. Nah, hal itu barangkali bisa disiasati melalui kehadiran buku digital ini. Keberadaan buku digital justru memberi peluang besar bagi penerbitan buku untuk membentuk kekuatan pasar di kota-kota besar. Dengan demikian mereka akan mendapatkan revenue tambahan. Bahasa sederhananya subsidi silang. Dengan demikian buku-buku cetak dapat didistribusikan ke daerah pelosok.

Kehadiran buku digital juga sebenarnya adalah suatu cara untuk meminimalisir keasyikan masyarakat kita pada sosial media serta games. Kita tentu memahami bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh minat baca masyarakatnya, terutama kesukaan membaca buku-buku bacaan yang bergizi. Sebuah peradaban perlahan akan hilang jika masyarakatnya tidak pernah membaca.

Dan bagi saya pribadi, selama saya bisa membaca, saya tak terlalu peduli apapun perangkat yang harus saya gunakan. Apakah itu buku cetak atau buku digital sekalipun, tak akan mengurangi minat saya untuk membaca. Saya membaca buku digital sama nyamannya dengan saya membaca buku cetak. Karena bagi saya, apa yang terkandung dalam sebuah buku itu adalah lebih penting dari wujud buku itu sendiri.

Acara berlanjut dengan diskusi antar kelompok setelah santap siang. Kemudian ada musikalisasi puisi yang keren banget. Dan dilanjut dengan presentasi sedikit dari Qbaca dan ditutup dengan foto-foto. Oya, ada goodie bag juga dari Qbaca loh .. hehe.

Terima kasih Qbaca dan kawan-kawan baru. Senang bertemu dengan kalian ^-^.

qbaca2

qbaca

Mengenai cara mengunduh aplikasi bisa dilihat di sini.

Hormatilah semua umat beragama, pun yang tidak beragama

Dari catatan kecil di facebook, 9 juli 2012.

Saya seorang muslim. Dalam pergaulan sosial saya berteman dengan siapa saja, non muslim bahkan yang mengaku tak memilih agama sekalipun. Saya belajar menghormati keyakinan dan pilihan mereka pun demikian sebaliknya.

Seringkali kita sebagai umat yang mengaku beragama berlaku tidak adil terhadap mereka yang tidak memilih agama apapun. Dan kita kemudian memperlakukan mereka sebagai orang jahat, orang yang tak pantas kita jadikan teman dan sebagainya. Karena mungkin kita menilai terlalu tinggi diri kita sendiri.

Saya ingat tulisan Gunawan Mohammad ketika dia bercerita tentang seorang laki-laki muda yang siang hari bekerja di kedai bunga dan malam hari acapkali mabuk-mabukan. Dalam sebuah percakapan, laki-laki ini tak dapat menjawab pertanyaan mengenai agama yang dianutnya. Yang ia tahu adalah bahwa ia tak boleh mengganggu dan menyakiti orang yang berbuat baik dan tak dengki kepada dirinya. Sebuah keyakinan moral yang ia junjung tinggi.

Kata Gunawan β€œSeraya diam tentang Tuhan, seseorang toh tetap bisa merasakan lebih intens apa artinya dosa: Jika ia berbuat salah kepada yang lain, ia tahu bahwa -di bawah langit yang kosong dan tak bisa diharapkan-tak ada yang akan memaafkannya. Maka ia berusaha agar tak berbuat salah. Maka ia akan letakkan orang lain sebagai sumber maaf. Dan ia sadar ia juga harus bisa jadi sumber maaf bagi yang lain.” Dan menyitir kalimat Umberto Eco, kata Gunawan lagi: β€œEco punya dua kata yang penting: Kebaikan hati dan sikap berhati-hati. Mungkin pada akhirnya: Kerendahan Hati.”

Editing Buku

Seorang teman beberapa bulan lalu menawarkan saya untuk mengedit sebuah buku religi. Tawaran yang menarik sekaligus menantang. Pertama, saya belum pernah mengedit buku religi. Dari dua buku yang ia ajukan saya memilih satu buku. Buku kedua saya belum berani mengeditnya, karena topik bahasan yang kurang saya kuasai.

Sebenarnya saya sedikit khawatir juga, karena buku religi tentulah berbeda dengan buku umum. Penulisan ayat-ayat al-Qur’an tentulah harus diperhatikan secara seksama. Saya kemudian mulai membaca buku-buku religi. Membaca di sini maksudnya memperhatikan aturan yang digunakan dalam penulisan buku agama. Saya juga bertanya kepada seorang kawan editor yang kebetulan bekerja di penerbitan buku-buku islami. Walau ia sendiri lebih banyak mengedit dan menerjemahkan buku dan novel umum.

Dan, merujuk dari artikel mengenai editing, tugas editor salah satunya adalah mengedit atau menyunting sebuah buku tanpa mengubah isi buku. Maka, itulah yang saya lakukan. Saya mencoba memperbaiki kesalahan tulis, bahasa, ejaan, dan lain-lain. Saya beruntung karena ternyata mas Setiadi R. Saleh (penulis buku) yang bukunya saya edit ini jam terbang profesi kepenulisannya sudah tinggi, maka proses editing yang saya lakukan tidak begitu banyak.

Buku ini sudah terbit dalam bentuk e-book. Untuk yang berminat membeli dan membacanya, Anda dapat mengunduhnya dengan menggunakan aplikasi Qbaca. Qbaca dapat diakses melalui telepon genggam dengan OS Android, juga sudah dapat diunduh di Iphone. Berikut ini adalah tampilan buku tersebut. Oya, Anda juga boleh memberi saran dan kritikan untuk hasil penyuntingan naskah dari buku religi ini :).
Screenshot_2012-12-28-12-25-02 Screenshot_2012-12-28-12-25-23

Launching Peluncuran Novel Tofi

Saya sebenarnya tak menyangka ketika mendapat undangan Peluncuran Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius dari Surya Edu Gasing. Beberapa bulan sebelumnya saya dan beberapa rekan BBI berkesempatan menjadi first reader untuk novel yang ditulis oleh Prof. Yohanes beserta dua kawannya. Dan ternyata setelah dikonfirmasi dengan kawan BBI (Blogger Buku Indonesia), mereka yang dikirimi draft novel itu juga dikirimi undangan untuk acara di atas. Sayangnya, beberapa kawan yang tinggal di luar kota tidak bisa hadir, dan kawan lainnya di Jakarta tidak bisa absen dari kantor. Walaupun sebenarnya mereka sangat antusias. Tentu saja, untuk para pecinta buku, acara-acara bedah buku, talk show, atau apapun yang berkaitan dengan buku selalu menarik perhatian ^-^.

Jadi, saya ingin berbagi cerita sedikit mengenai Launching Peluncuran Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius. Bertempat di cafe The Cone, Lantai 7, FX-Senayan, acara ini dijadwalkan mulai jam 13.00-16.00.

Tofi adalah novel pertama karya Prof. Yohanes Surya. Cukup membuat pertanyaan, mengapa seorang ilmuwan yang kesehariannya pasti sudah sangat sibuk mau menyempatkan dirinya membuat novel. Apa motif dibelakang lahirnya karya Tofi ini?

Sebelumnya, nama Tofi diambil dari singkatan Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Kita tahu bahwa Prof. Yohanes Surya adalah seorang fisikawan. Ia juga aktif membimbing TOFI. Di bawah asuhannya, anak-anak binaan Prof. Yohanes Surya berhasil menyabet medali emas, perak, dan perunggu dalam berbagai kompetisi Sains dan Fisika Internasional.

Nama Tofi kemudian diambil untuk dijadikan salah satu tokoh dalam novel ini.

Dalam presentasi singkatnya, Prof. Yohanes menjelaskan alasan Beliau membuat novel Tofi. Novel Tofi adalah alat perjuangan. Apa yang diperjuangkan? Memperjuangkan visi besar Surya Institute untuk Indonesia Jaya, yaitu Indonesia yang mandiri, aman, maju, dan makmur.

Apa yang melatarbelakangi keinginan terbentuknya Indonesia Mandiri?
Kemudian Prof. Yohanes bercerita latar belakang sejarah dunia.
Abad 13 dan 14, Dunia dikuasai oleh bangsa Mongol, Jengis Khan
Abad 15: Kebangkitan Gajah Mada dan Hayam Wuruk
Abad 16-17: Inggris, Belanda, Spanyol (Negara-negara Barat berkuasa)
Abad 21: China, India (Kembali ke Asia)

Kemudian Prof. Yohanes mempertanyakan, apakah itu artinya kejayaan akan berulang kembali untuk Asia, seperti di abad 13 dan 14? Apakah ini saatnya majapahit baru bangkit kembali?

Menurut Prof. Yohanes ada tanda-tanda kemunculan Majapahit baru, di antaranya:
1. Perekonomian membaik. Menurut data statistik tingkat pendapatan Indonesia mencapai 7% per tahun.
2. 118 juta manusia ada di usia produktif.
3. Mereka percaya diri, dibuktikan dengan keberhasilan Tofi meraih 100 medali di ajang internasional.
4. Sadar bahwa kita memiliki kekayaan alam yang tak habis.
5. Terbentuk Asean State. Adanya 30.000 Ph.d dalam bidang sains dan teknologi.
6. Papua dan daerah-daerah terbelakang bangkit. (Prof. Yohanes bilang jika dulu anak Papua takut bersaing dengan anak Jakarta, sekarang terbalik. Anak Jakarta tahu bahwa saingan terberat mereka dalam kompetisi adalah anak-anak Papua)
7. Metode Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan)

Karena itulah, melalui novel Tofi, Prof. Yohanes ingin memasyarakan gerakan cinta sains. Kita tahu, sains bisa mengubah peradaban.

Novel Tofi adalah sebuah cerita fiksi yang berlatarbelakang sains. Konsep fisika yang ada di dalamnya adalah fakta. Semisal sepatu nano, sepatu yang membuat pemakainya dapat meloncat beberapa meter. Sepatu ini memang belum ada di pasaran tapi teknologinya sudah ada. Begitu juga dengan pakaian yang membuat pemakainya tak terlihat, dan lain-lain. Namun jangan khawatir, novel ini sangat mudah dicerna. Jangan bayangkan kita akan melihat rumus-rumus fisika atau matematika yang rumit. Sebaliknya fisika dipaparkan dengan sederhana. Di sini juga kamu belajar arti sebuah persahabatan dan kejujuran. Untuk resensi singkat novel ini kamu bisa membacanya di sini.

Novel Tofi ditulis oleh Prof. Yohanes dan dua rekannya, yaitu Ellen Conny dan Sylvia Lim. Menurut Ellen, mereka mempersiapkan waktu 3 tahun untuk menulis novel Tofi. Wow, bukan main, bukan?

Prof. Yohanes sudah mempraktikkan apa yang disampaikan oleh Ibu Sirikit Syah, Direktur Sirikit School of writing yang mengatakan bahwa ilmuwan harus peduli pada masyarakat. Ilmuwan juga sebaiknya bisa menulis hal-hal lain. Tidak ada yang harus digaris batasi antara ilmuwan dan seni. Keduanya harus saling melengkapi. Saya tiba-tiba teringat pada Steve Jobs dan Apple-nya. Kepopuleran Apple adalah karena Jobs mampu mensinergikan sebuah produk teknologi canggih dengan karya seni yang indah.

Kembali ke novel Tofi, ada baiknya para pendidik membaca buku ini. Melalui buku ini kita bisa belajar bagaimana pengajaran dan pendidikan dapat diberikan dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

Oya, saya dapat goodie bag loh. Isinya? Novel Tofi, Perburuan Bintang Sirius Jilid 1. Tak lupa, di akhir acara kami meminta tanda tangan Beliau. Dan karena saya mengajak keponakan, maka acara tanda tangan ini biar untuk dia saja… hehe.