Membuat Kompos dari Model Keranjang Takakura

Keranjang sampah yang diberi nama keranjang pintar ini dirancang oleh Mr Koji Takakura dari Jepang. Alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana. Saya sendiri belum pernah mencobanya tetapi dari membaca beberapa artikel mengenai kerajang takakura sepertinya layak dicoba suatu hari nanti 🙂

Oke, langsung saja.

Bahan dan Cara Kerja:
1. Keranjang pakain bekas dari plastik.
2. bantalan sekam 4 buah (untuk dasar keranjang dan penutup keranjang)
3. garpu pengaduk
4. kain penutup keranjang
5. kompos matang sebagai aktivator
6. kardu bekas masukkan ke dalam keranjang untuk melapisi keranjang
7. Masukkan bantalan sekam ke dalam kardus yang sudah diletakkan ke dalam keranjang
8. Masukkan kompos matang satu bungkus -/+ 4 kg sebagai starter/aktivator.

catatan:
Ciri-ciri kompos matang yang dapat dijadikan aktivator adalah warna hitam sudah berbau tanah/tidak berbau busuk, kalau ditekan hancur.

Potong kecil-kecil limbah sampah dapur. Sayur berminyak atau bersantan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam keranjang. Hindari sampah hewani seperti ayam, ikan, dan lain-lain.
Setelah semua sampah dimasukkan ke dalam keranjang lalu diaduk merata. Pengadukan berfungsi agar fermentasi berjalan baik. Kemudian tutup keranjang dengan bantalan sekam. Guna bantalan sekam adalah untuk meredam bau. Boleh juga memasukkan kulit jeruk ke dalam keranjang agar komposnya berbau harum.

Letakkan keranjang di tempat yang mendapatkan sirkulasi udara penuh namun tidak boleh terkena matahari langsung dan tidak boleh terkena hujan.

Pengisian sampah dapat dilakukan setiap hari. Jangan lupa untuk selalu mengaduk rata selesai mengisi sampah. Proses fermentasi akan ditandai dengan suhu sampah yang terasa panas. Reaksi itu membuktikan kalau mikroba bekerja aktif mengurai sampah. Kompos sudag dpaat dipanen kurang lebih 2-3 bulan.

Cara memanen kompos
Ambil bagian paling atas, sisihkan. Ambil bagian selanjutnya lalu ayak. Sisa ayakan ini dapat dijadikan aktivator kembali atau sebagai pupuk tanaman. Kembalikan kompos dan masukkan ke dalam keranjang bersama bagian awal tadi. Kardus yang sudah hancur atau lapuk dapat diganti kembali.

Bertanam Mint

Daun mint dikenal memiliki berbagai manfaat selain wanginya yang segar. Daun mint dapat digunakan untuk meringankan mual dan gangguan pencernaan serta meredakan stres.
Daun mint biasanya disajikan bersama minuman. Tetapi bisa juga untuk penghias dan pengharum makanan.

Menanam daun mint tidak sulit. Kalau pergi ke pasar atau swalayan beli daun mint yang dijual beserta batangnya. Kemudian cari batang daun mint yang segar. Ambil beberapa batang mint (tanpa daun) dan tancapkan ke media tanah. Selesai 🙂

Semudah itu? Yup. Perbanyakan daun mint cukup melalui stek. Untuk tumbuh dan munculnya daun juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Jadi, kenapa tidak memulai saat ini untuk menanam mint?

IMG_3720
batang mint tancapkan langsung ke media tanam

IMG_3798
Daun mint mulai bermunculan

Nah, ini tanaman mint saya beserta infus water lemon dan mint di dalamnya. Seger, bukan? 🙂
IMG_4028 IMG_4052

Bikin Kompos tanpa Lahan

Mengolah sampah menjadi kompos tidak hanya bisa dilakukan bagi mereka yang memiliki lahan kosong. Bagi mereka yang memiliki lahan sempit atau bahkan tidak ada lahan sama sekali bisa kok bikin kompos sendiri.

Cara yang sudah beberapa kali saya praktikkan adalah dengan menggunakan pot. Dasar pot saya lapisi dengan batu bata. Bisa juga dengan styrofoam atau gabus. Kemudian masukkan daun-daun kering. Daun-daun ini saya peroleh dari hasil pemangkasan koleksi tanaman saya. Selanjutnya masukkan sampah-sampah dapur berupa sayur atau buah-buah yang tak lagi layak konsumsi. Kulit buah atau tangkai sayur dan lain-lainnya bisa juga dimasukkan. Setelah itu taburi dengan sedikit tanah, atau bisa juga serbuk gergaji dan kapur secara berkala. Fungsi tanah, serbuk gergaji atau kapus ini salah satunya untuk mengurangi bau. Letakkan pot atau drum di tempat yang teduh (jangan terkena hujan). Kalau sudah penuh tutup dengan tanah dan diamkan selama dua bulan. Nah, pot siap ditanami dengan tanaman. Biasanya kalau sudah ada bibit yang mau ditanam tanpa menunggu dua bulan langsung saya sebar saja bibitnya atau langsung ditanami tanaman :).

Cara ini ternyata membantu untuk kesuburan tanaman-tanaman saya loh :). Tanaman jadi rajin berbuah dan tumbuh subur. Dan …menghemat juga karena tidak perlu sering-sering membeli pupuk ;-).

Saya berharap apa yang saya lakukan dapat meringankan beban permasalahan yang disebabkan oleh sampah dan walau sedikit dapat berturut serta menjaga lingkungan hidup.

IMG_4017

IMG_4018

IMG_4021

IMG_4025

Cara Menanam Jeruk Lemon

Pohon jeruk lemon ini sudah lama saya tanam. Setelah sempat sekali berbuah kemudian pohon ini lebih banyak mengeluarkan rimbun daun yang tak lama meranggas diserbu ulat. Ulat adalah musuh utama pohon jeruk. Entah berapa kali saya menanam jeruk (jeruk nipis, jeruk limau, jeruk purut, jeruk lemon dan jeruk buah) masalahnya selalu sama, ulat. Herannya, kok ya nggak bosan nanam jeruk lagi sih? Hehe.

Nah, jeruk lemon ini awalnya ditanam di tanah di halaman depan rumah di bawah atap. Beberapa bulan lalu saya pindahkan ke halaman belakang dan ditanam di pot. Bulan berlalu si jeruk lemon masih ngeyel dengan status awalnya.

Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan munculnya bunga-bunga putih yang muncul diantara daun-daun jeruk lemon. Ini calon buah bukan ya? Semoga saja 🙂
10608216_10208568771326712_1045738341789067122_o IMG_3092

Untuk perawatan pohon jeruk yang saya lakukan umumnya sama dengan pohon-pohon lainnya. Untuk memberantas hama dan penyakit pada tanaman saya memilih cara-cara alami, seperti memangkas bagian daun yang terkena hama putih. Memangkas cabang dan ranting pohon secara berkala juga saya lakukan agar cabang pohon rapi dan pohon nantinya tidak terlalu tinggi.

Untuk pupuk bisa digunakan pupuk kandang. Sebagai tambahan nutrisi lainnya saya menggunakan limbah dapur seperti air bekas cucian beras, daging, ikan dan lain-lain.

Oya, seperti tanaman lainnya, si jeruk lemon harus mendapatkan asupan sinar matahari yang cukup. Hem, jangan-jangan waktu ditanam di halaman depan itu jeruk lemon saya ini tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup ya karena terhalang atap rumah? Makanya dia ngambek nggak mau berbuah?

Ada Apa dengan Masyarakat Kita?

Kasus rusaknya kebun amaryllis banyak disorot di sosial media dan juga media. Banyak kemudian komentar baik secara langsung atau tidak langsung menghakimi perilaku anak-anak muda Indonesia saat ini. Etika anak-anak ini lalu dipertanyakan. Jauh dari kasus kebun bunga, saya seringkali menarik nafas sekaligus miris melihat perilaku beberapa anak-anak saat ini. Sekali lagi, tidak semua. Saya percaya bahwa membuat generalisasi terhadap segala hal adalah sikap yang ngawur.

Oke, balik ke kasus amaryllis, ada fenomena menarik mengenai mengapa masyarakat kita abai terhadap kepatutan. Maksud saya, coba amati hal-hal kecil di sekitar kita. Pernah memperhatikan anak muda yang cuek saja ketika ada orang tua dengan susah payah membuka pintu supermarket misalnya? Atau sekelompok anak muda yang asyik berjalan di mall beriringan tanpa menyadari menutup jalan orang lain? Atau, ah banyak deh. Coba amati. Saya pernah berdiskusi dengan partner. Saya sering merasa tak habis pikir bagaimana anak muda seringkali cuek terhadap hal-hal seperti itu. Ada apa dengan mereka?

Nah, partner bilang, anak-anak itu tidak tahu. Kita tidak bisa menyalahkan mereka 100%. Mereka melakukan itu karena tidak pernah diajarkan berpikir kritis. Jika anak dibiasakan berpikir kritis, maka setiap tindakannya akan didasarkan pada analisa. Sebelum melakukan sesuatu ia akan selalu bertanya kepada dirinya, apakah dampaknya jika ia melakukan ini? Apakah betul yang akan ia lakukan, bagaimana dampaknya kepada orang lain? dan sebagainya. Ia tumbuh menjadi anak yang tidak sekedar ikut-ikutan, ia akan meneliti setiap masalah yang dihadapinya.

Proses berpikir kritis memang harus dilatih sejak dini. Dikutip dari Parents Guide Magazine.

Berpikir kritis adalah cara berpikir logis, dimana kita memecah-belah suatu masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil serta menganalisanya. Bagian dari berpikir kritis adalah: kemampuan menggolongkan, memilah, membandingkan persamaan dan perbedaan (Church, 1993). Beberapa ciri anak yang berpikir kritis adalah: penuh rasa ingin tahu dan ingin menjelajah/bereksplorasi.

Berpikir kritis penting bagi setiap manusia karena itulah modal untuk pemecahan masalah, dimana masalah adalah hal yang pasti dihadapi manusia sepanjang hidupnya. Kemampuan menganalisa masalah membantu kita meneliti penyebab masalah, kemudian mencari solusinya.

Nah, jika tidak ingin generasi kita tumbuh menjadi orang yang egois, tidak punya rasa peduli, apatis terhadap lingkungan dan terhadap apapun mulailah membiasakan anak-anak untuk berpikir kritis.

Dan mengutip artikel di Parents Guide, “Mari kita bantu anak-anak kita agar berpikir kritis sejak dini, dengan juga mempraktikkan pola pikir kritis dalam diri sendiri. Bagaimanapun anak paling banyak belajar dari orang-tuanya melalui contoh!.”

Sudah kah Anda menjadi panutan bagi anak Anda sendiri? 🙂

Semai benih tanaman

Koleksi benih tanaman saya lumayan banyak. Beberapa dari hasil barter dan pemberian kawan, lainnya hasil beli kalau berkunjung ke tempat-tempat tanaman. Niat awal mau disemai begitu sampai rumah tetapi ternyata kesibukan dan lahan yang terbatas seringkali menjadi penghalang (ah, ini alasan aja kan? hehe). Nah, tak terasa beberapa bibit tanaman itu kadaluwarsa. Kalau sudah seperti ini solusi satu-satunya adalah menebarkan bibit di pot. Syukur alhamdulillah kalau bisa tumbuh walaupun biasanya cukup lama.

Nah, benih yang kadaluwarsa sebenarnya masih layak disemai. Kadang ada yang masih mau tumbuh kok. Ada baiknya sebelum disemai benih direndam air hangat selama 1 jam. Tujuan direndam air hangat untuk meningkatkan tingkat kelembaban kecambah.

Jadi, kalau kawan punya benih yang sudah kadaluwarsa jangan dibuang dulu ya. Coba semai dengan merendam bibitnya di air hangat terlebih dulu.

Oya, seorang kawan pernah merekomendasikan web petanirumahan ini jika ada kawan yang ingin membeli benih dengan porsi tak banyak. Cocok buat yang mau memulai berkebun. Silakan ke sini.

Atau bisa ke sini untuk yang ingin membeli benih secara online.

The Little Prince

12065896_10208265668589333_1484272200727452431_n
Akhirnya film yang ditunggu-tunggu tayang juga :). Film yang diadopsi dari buku dengan berjudul sama ini mengisahkan seorang gadis muda yang kehidupannya diatur oleh sang Ibu. Suatu hari si gadis kecil berkenalan dengan tetangga barunya, seorang kakek mantan pilot yang baik hati. Melalui pertemanan dengan kakek ini si gadis muda menemukan dunia yang berbeda, dunia imajinasi penuh warna dan keindahan.

Apa menariknya film ini? Hm. Saya mengenal kisah Little Prince melalui buku yang dikenalkan partner. Tepatnya, partner adalah kolektor buku The Little Prince. Awalnya saya nggak mudeng dengan isi buku tersebut. Saya hanya menangkap sebagian makna dari buku tersebut. Tapi saya selalu penasaran dengan koleksi bacaan partner, dan Little Prince pasti lah sangat istimewa :).

Untuk saya, Little Prince mengingatkan bagaimana semustinya saya menjalani kehidupan sebagai orang dewasa yang tidak kehilangan kepekaan. Ketika manusia bertumbuh menjadi orang dewasa, kerap kehilangan imajinasi kanak-kanak, kebahagiaan dan keindahan yang begitu sederhana. Barangkali rutinitas telah melupakan orang dewasa, sehingga mereka menjalani hari dan kehidupannya tanpa memiliki makna. Orang dewasa bekerja demi sesuatu dan untuk memiliki sehingga setelahnya mereka baru bisa merasa bahagia. Anak-anak tidak begitu. Setiap hari mereka selalu penuh antusias, mereka bisa bahagia dengan melihat bunga-bunga bermekaran, burung beterbangan, dan hal-hal sederhana lainnya. Mereka berimajinasi dan penuh rasa ingin tahu. Orang dewasa kehilangan semua itu dikarenakan kesibukan. Orang dewasa beranggapan bahwa semua yang ada di sekitar mereka memang sudah sepatutnya begitu. Take it for granted. Bunga yang mekar, ikan di kolam, pohon yang menghasilkan bunga, atau kicauan burung-burung adalah hal biasa. Orang dewasa abai memperhatikan semua itu karena merasa ada yang lebih penting yang harus mereka pikirkan dan kerjakan.

Seperti dikatakan si gadis kecil kepada orang dewasa yang telah menawannya di film The Little Prince, “Aku akan tumbuh dewasa namun aku tidak mau menjadi dewasa seperti kalian.”

Setiap kanak-kanak pasti akan tumbuh dewasa. Kita bisa memilih untuk menjadi orang dewasa yang seperti apa. Kita bisa menjadi orang dewasa yang haus pujian, serakah, tak peduli, atau memilih menjadi seperti si Pangeran Kecil :).

Kalau saya menangkap isi buku The Little Prince seperti di atas tadi, maka partner ternyata memiliki banyak mata yang ia lihat dengan hati ;-).

Kata partner, Exupery mempersembahkan buku ini untuk anak-anak yang di dalamnya ia sisipi dengan metafor, juga beberapa kisah biografinya sendiri. Ia juga menceritakan kisah perang (Nazi) saat itu yang digambarkan dalam kisah pohon baobab. Baobab melukiskan benih kejahatan yang jika dibiarkan maka akan menghancurkan bumi.

Mendengar cerita partner tentang Little Prince bikin saya penasaran baca biografinya Exupery. Racun banget deh 🙂

Ada Lovelace dan Perpaduan Seni dengan Sains

MTE4MDAzNDEwODQwOTQ2MTkw
dokumentasi dari sini

Ada Lovelace adalah putri pasangan Lord Bryon, seorang penyair dan Annabella Milbanke. Annabella berasal dari keluarga kaya dengan berjibun gelar. Semenjak belia Annabella memperoleh pelajaran matematika. Byron adalah laki-laki rupawan, menggoda, galau, pemurung, dan senang berganti-ganti pasangan. Ia dipuji oleh para penggiat dan penggila sastra di London. Perkawinan antara Byron dan Annabella pada akhirnya tidak dapat dipertahankan ketika Annabella mengetahui sang suami berselingkuh dengan kakak tirinya. Ia pergi dan membawa Ada, putri satu-satunya. Demi menghindari Ada menjadi seperti ayahnya, Lady Byron menyuruh putrinya tekun belajar matematika, seolah-olah matematika merupakan obat penawar imajinasi puitis nan beracun.

Ada memiliki emosi pasang surut secara dramatis, kegembiraan yang membuncah secara tiba-tiba berubah menjadi kesedihan dalam sekejab (yang diwariskan dari ayahnya). Ia juga menderita berbagai penyakit, baik secara fisik maupun psikologis.

Ada akhirnya menerima keyakinan ibunya bahwa karakter turunan Byron dapat dijinakkan dengan menceburkan diri ke dalam matematika. Pada usia 18 tahun Ada memutuskan untuk mempelajari cabang-cabang matematika secara lebih giat ketika ia terinspirasi Mesin Selisih Babbage.

“Saya harus berhenti menginginkan kehidupan yang tujuannya semata-mata demi mencari kesenangan atau memuaskan diri sendiri. Saya merasa satu-satunya cara untuk mengendalikan imajinasi saya yang liar ialah dengan mempelajari kajian ilmiah secara seksama dan sungguh-sungguh…Yang pertama tebersit di benak saya ialah belajar matematika.” (halaman 7. The Innovators).

Matematika adalah obat mujarab yang diyakini oleh Ada dan tutornya untuk menyembuhkan siapa saja dari gairah artistik dan romantis yang berlebihan.

Minat Ada terhadap teknologi tumbuh saat ibunya mengajak berkeliling kawasan industri Britania untuk melihat berbagai pabrik dan mesin anyar. Ada sangat terkesan dengan mesin tenun otomatis yang menggunakan kartu berlubang untuk menghasilkan kain dengan motif tertentu.

Ketertarikan Ada terhadap sains terapan semakin dalam ketika bertemu dengan Mary Sommerville, matematikawan dan ilmuwan terkemuka Britania. Sommerville menjadi teman, guru, dan mentor bagi Ada. Ada juga meminta kesediaan Babbage menjadi tutornya namun Babbage menolak. Keputusan itu ternyata justru membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih pada masa mendatang.

Ada bukan seorang matematikawan yang hebat namun ia murid yang antusias, mampu mencerna konsep-konsep kalkulus paling mendasar, dan berkat pembawaannya yang artistik, gemar memvisualisasikan kurva naik-turun yang dijabarkan persamaan matematika. Kemampuan Ada mengapresiasi keindahan matematika merupakan anugerah yang jarang dimiliki, termasuk oleh mereka yang menganggap diri cendekiawan. Ada menyadari bahwa matematika adalah bahasa yang indah, bahasa yang dapat menggambarkan harmoni semesta dan adakalanya puitis.

Kendati ibunya sudah berusaha keras, Ada tetaplah putri ayahnya. Berkat sensibilitasnya yang puitis, Ada dapat memandang suatu persamaan sebagai sapuan kuas yang menggambarkan kemegahan alam, sebagaimana dia bisa memvisualisasikan “laut merah anggur” atau wanita yang “berjalan secantik malam”.

Bagi Ada, matematika memiliki unsur spiritual. Matematika “adalah satu-satunya bahasa yang memadai untuk mengekspresikan fakta-fakta penting mengenai alam semesta” dan matematika memungkinkan kita untuk menggambarkan “perubahan relasional” yang terjadi di jagat raya. Matematika merupakan “instrumen bagi pikiran manusia yang terbatas untuk membaca karya Penciptanya secara paling efektif”.

Dalam sebuah esainya Ada menulis, “Apa itu imajinasi? Imajinasi adalah keterampilan untuk meramu; kemampuan untuk meracik aneka hal, fakta, ide, dan konsepsi sehingga menghasilkan kombinasi anyar yang orisinal dan beragam…Imajinasi adalah teropong untuk melihat yang tak kasat mata di sekitar kita, teropong dunia sains.” (hal 11)

Dan Ada membuktikan bahwa imajinasinya yang meletup-letup melampai semua orang di jamannya. Ada mampu melihat masa depan yang diangankannya dalam Mesin Analitis Babbage. Bagi Ada, mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.

Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin. Konsep inilah yang luput dari pengamatan Babbage yang fokusnya tercurah semata-mata hanya pada bilangan.

Kontribusi Ada untuk era digital memang spektakuler sekaligus inspiratif, walau untuk mewujudkan itu dibutuhkan waktu seratus tahun.

Diadaptasi dari buku The Innovators.

The Martian

Jenis Film: Action | Adventure | Sci-Fi
Tanggal Rilis: 30 September 2015
Distributor: 20th Century Fox
Sutradara: Ridley Scott
Pemain Utama: Matt Damon, Kate Mara, Jessica Chastain, Kristen Wiig, Mackenzie Davis, Sean Bean, Sebastian Stan, Donald Glover, Jeff Daniels, Michael Peña, Chiwetel Ejiofor, Aksel Hennie, Naomi Scott

Sinopsis
The Martian adalah film yang diadopsi dari novel laris karya Andy Weir dengan judul yang sama. Film ini berkisah tentang seorang astronaut, Mark Watney (Matt Damon) yang diduga hilang dan tewas di Mars saat terjadinya badai besar. Bagaimana Watney bertahan hidup mempertahankan diri di planet yang tandus dan gersang dimana tumbuhan tidak bisa hidup? Bagaimana pula cara awak NASA di bumi berusaha membawa Watney kembali ke bumi?

Ulasan
Menyadari bahwa dirinya sendirian dan berada di tempat yang esktrim awalnya membuat Watney putus asa. Namun kemudian ia bertekad untuk bertahan hidup. Hal pertama yang dilakukannya adalah memikirkan cara menyediakan pasokan pangan. Untungnya, Watney adalah seorang botanis (ahli tumbuh-tumbuhan). Ia pun mulai membuat pupuk tanaman dari kotoran manusia. Nah, ini adegan yang menarik. Karena saya suka berkebun dan saya penasaran bagaimana Watney bisa memperoleh air untuk menyiram benih tanamannya karena berkebun tentu saja membutuhkan air, bukan? Sementara ia harus menghemat persediaan air.

Adegan Watney menyiapkan proses pembuatan pupuk seperti membayangkan persiapan saya membuat pupuk organik, bedanya saya menggunakan sisa tanaman, buah tidak layak konsumsi, isi perut ikan atau udang sebagai media utamanya :). Nah, ini dia cara si astronaut menciptakan air, ia membakar hidrogen. Darimana Watney memperoleh hidrogen?
Bahan bakar pesawat ruang angkasa menggunakan hidrogen untuk menghindari, salah satunya polusi. Di dalam film dikisahkan hidrogen mengkristal menjadi logam disebabkan udara yang dingin. Dan karena air adalah senyawa hidogen yang teroksidasi (terbakar secara kimia) maka yang dilakukan Watney adalah membakar hidrogen tersebut. Langkah pertama hidrogen yang dibakar meledak, kesalahan itu terjadi karena Watney salah membuat perhitungan formula. Berikutnya ia berhasil menciptakan air yang bermunculan di plastik rumah kaca untuk tanamannya. Benih-benih kentang yang ditanamnya kemudian memunculkan daun dan membuahkan hasil.
The Martian
Berikutnya, bagaimana Watney bisa menemukan cara mengirim sinyal ke bumi untuk memberitahukan dirinya masih hidup? Dengan angka biner dan kode ASCII Watney berhasil menghubungi bumi. Nah, yang belajar komputer harus tahu angka biner dan kode ASCII ya 🙂

Tim NASA dan tim ilmuwan internasional lainnya kemudian bekerjasama untuk mencari jalan menyelamatkan Mark agar bisa kembali ke Bumi.

Kisah Watney bertahan hidup di Mars tentu saja tidak terus mulus dan lancar. Namun berbekal semangat berjuang hidup untuk mempertahankan diri, kerja keras dan rasa humor yang ia miliki menguatkan Watney untuk pantang menyerah.

Maka, apa pesan moral dari film ini? Ilmu pengetahuan, teknologi dan berkebun adalah satu cara manusia untuk bertahan hidup, selain kecerdikan, kerja keras, kemauan untuk hidup dan rasa humor.

Film ini rasanya tepat menggambarkan bagaimana semua ilmu yang kita pelajari di sekolah saling terintegrasi.
Ilmu sosial dilukiskan dalam interaksi manusia-manusia di dalam film The Matrian, kalau dalam ilmu sosial istilahnya manajemen komunikasi :).

Jadi, percaya deh, jangan pernah meremehkan pelajaran apapun, karena semua ilmu saling terhubung, saling terkait untuk membekali manusia agar dapat berjuang mempertahankan hidup di bumi, planet terindah dan nyaman untuk ditempati bagi semua penduduk bumi.

update:
Berbeda dengan interstellar, film The Martian menyuguhkan kondisi-kondisi yang masuk akal. Maksudnya secara logika solusi yang ditawarkan atas peristiwa di film tersebut bisa diterima namun dengan tambahan tetapi. Apa tetapinya? prediksi yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang mungkin telah sampai pada masa itu.
Artinya, kalau teknologinya telah maju mengapa tidak? Begitu barangkali ya? 🙂

Pupuk Cair (Mol) dari Tapai

Ada banyak media yang bisa digunakan untuk membuat pupuk cair organik. Yang pernah saya coba adalah membuat pupuk cair dari buah, isi perut ikan, kepala udang dan sayuran hijau. Mengenai pupuk cair dengan media yang saya sebutkan tadi dapat dibaca di sini.

Nah, kita juga bisa membuat pupuk cair dari tapai. Sepertinya ini lebih mudah tapi saya sendiri belum mencobanya.
Berbeda dengan pupuk cair dari kepala udang atau perut ikan barangkali pupuk cair dengan tape aromanya tidak terlalu memabukkan ya? Hehehe.

Oke, ini lah langkah untuk membuat pupuk cair dari tapai. Sumber dari sini

1. Siapkan 1 botol plastik bekas air minum kemasan berukuran 1000-1500 ml.
2. Masukkan sekitar segenggam tapai singkong yang matang ke dalam botol. Lalu tambahkan air hingga mencapai separuh botol.
3. Masukkan 5 sendok gula pasir atau 1 balok gula merah yang telah dicairkan terleih dahulu. Total air di botol maksimum 3/4 ukuran botol.
4. Kocok dengan cara mengguncangkan botol selama 2-3 menit supaya berikutnya bisa tercapai fermentasi dari larutan yang sudah tercampur merata.
5. Biarkan botol terbuka selama 4-5 hari atau ditutup, tetapi sesekali tutup dibuka untuk membuang gas hasil fermentasi. Biarkan mikroorganisme lokal (mol) berkembang.
6. Setelah 5-6 hari akan tercium bau alkohol dan berwarna agak kecoklatan, pertanda pupuk cair organik siap digunakan.

Cara pengggunaan:
Encerkan larutan pupuk cair organik dengan air (1:15) lantas siram ke tanah disekeliling pohon.

Fungsi molmembantu memaksimalkan media tanam agar mampu menyediakan unsur hara yang nantinya diserap oleh tanaman melalui akar-akar halus.

Hm, tampaknya lebih mudah dan tidak terlalu berkotor-kotor ria, nggak ada salahnya dicoba, bukan? 🙂