Guru Tanpa Taji: Menanam Adab di Tengah Sekolah yang Haus Kuasa

Taji adalah cakar tajam yang tumbuh di kaki ayam jago. Ayam jago menggunakan tajinya untuk menyakar, menusuk, melukai lawan ketika berantem. Tajam ke depan, berat ke bawah. Taji dalam kehidupan sehari-hari menjelma jadi bentakan, aturan yang dipersulit atau muncul sebagai kebiasaan menyebut kebesaran masa lalu. Semua itu punya tujuan sama, untuk didengar, ditakuti agar menang.

Menjadi pemimpin memang berat. Ada tekanan dari atas, ada harapan dari bawah. Rasa takut tidak dihargai, takut tidak dipatuhi, kadang membuat kita tanpa sadar memanjangkan taji. Kita seringkali berpikir bahwa dengan taji, barisan jadi rapi. Padahal yang tumbuh justru luka. Padahal memimpin itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Memimpin soal adalah siapa yang paling teduh bayangannya.

Pemimpin tanpa taji adalah pemimpin yang menyadari bahwa wewenang itu titipan, bukan senjata. Ia tetap tegas, tapi tegasnya menguatkan. Ia tetap menertibkan, tapi menertibkannya menyembuhkan. Ia punya aturan, tapi aturan itu ia pakai untuk merapikan jalan, bukan untuk menjegat langkah orang lain. Ayam jago mengasah taji agar ia menang di arena.

Pemimpin tanpa taji merapikan adab agar semua menang di kehidupan. Sekolah adalah kebun, dan bukan arena. Dan kebun tidak akan subur kalau disiram dengan gertakan. Kebun subur kalau disiram dengan teladan.

Tulisan ini adalah pengingat untuk kita semua yang pernah atau sedang memimpin (guru, kepala sekolah, pejabat, dan lainnya), bahwa boleh punya kuasa, tapi jangan sampai itu menumbuhkan taji. Lebih baik tangan kita kapalan karena bekerja, daripada tajam karena sering mengepal.

Murid (atau karyawan) tidak akan ingat seberapa tinggi suara kita. Yang mereka ingat adalah seberapa aman rasanya berteduh di bawah kepemimpinan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *